
Sarah dan Rico yang berusaha membuat skenario memantau di luar. "Sar, aku takut di pecat, ide kamu keterlaluan bangat sih," tegur Rico yang khawatir.
"Udah tenang aja, aku ini putri pemilik hotel ini, apa sih yang kamu takutkan, pokoknya jabatan kamu aman," ucap Sarah menenangkan Rico.
"Sekarang kita matikan lampu di kamar 27," usul Sarah yang punya ide lagi.
"Jangan Sar," sanggah Rico, namun tetap saja Sarah mematikannya. Demi kebahagiaan kakak dan adiknya itu ia rela menginap di hotel dan izin pada Ayah dan bundanya dengan alasan bahwa ia lembur.
***
Lampu tiba-tiba mati, Rahman yang tidur di sofa buru-buru pindah ke ranjang Fatimah karena ia tahu bahwa Fatimah takut gelap. Fatimah spontan memeluk Rahman, "Astaghfirullah..kok lampunya mati kak," ucap Fatimah yang memeluk erat Rahman. Di tengah gelap nya malam Rahman malah tersenyum melihat tingkah Fatimah.
"Siapa sih yang ngerjain kita kak, kok Setega itu sih, aku paling nggak bisa tidur kalau nggak ada cahaya sama sekali, aku takut gelap kak," keluh Fatimah yang masih memeluk Rahman.
"Entahlah, tapi aku yakin ini pasti ada yang sengaja menjebak kita, tapi kamu tenang aja ya, selagi ada aku di sini, aku akan menjaga kamu," Ucap Rahman sambil memeluk Fatimah yang memejamkan mata karena takut gelap.
"Kak..sejak kapan kamu menyukai ku," tanya Fatimah yang memulai topik pembicaraan.
"Entahlah tapi kurasa aku tak berhenti menyayangimu sejak kamu masih bocah, dan rasa cinta mulai tumbuh saat kamu beranjak dewasa, saat itu aku mulai sadar bahwa aku harus menjaga jarak dengan mu, karena aku takut tidak bisa mengontrol perasaan ku, bagaimanapun juga aku hanyalah manusia biasa," jelas Rahman sambil mengelus kepala Fatimah.
"Lantas mengapa kamu bertahan hingga saat ini, padahal kamu tau kalau aku sudah mencintai laki-laki lain?" tanya Fatimah lagi.
"Aku hanya berusaha semampuku Fatimah, Allah lah yang mengizinkan kita menikah, sehingga semua prosesnya berjalan lancar, meski hanya satu pihak yang membawa cinta," jelas Rahman yang meresapi perkataan nya.
"Kalau boleh jujur, kamu itu suami yang sempurna kak, tidak pantas untuk aku yang masih terlalu muda dan kekanak-kanakan, aku juga tidak secantik gadis-gadis yang kamu kenal, tidak setinggi gadis-gadis lain, aku juga tidak seputih gadis-gadis yang kamu kenal di luar negeri, tapi kenapa kamu tetap kukuh memilih aku?" tanya Fatimah lagi.
"Aku mencintai kamu tidak di dasari itu semua, cantik itu relatif Fatimah, secantik apapun perempuan perempuan di dunia ini, di mataku cuma kamu yang paling cantik, setiap kali menatap mu hatiku jauh lebih tenang, lagi pula aku tidak suka orang baru, kamu lah cinta pertama dan terakhir bagiku," jelas Rahman panjang lebar.
Fatimah tersenyum malu mendengar itu, untungnya ruangan yang gelap itu menutupi senyumnya sehingga Rahman tidak tau bahwa Fatimah senyum sendiri mendengar jawaban Rahman.
Fatimah dan Rahman tertidur di kegelapan malam.
Fajar mulai terbit, Rahman terbangun, melihat Fatimah yang masih tidur bersandar di bahunya membuatnya tak tega untuk membangunkan.
__ADS_1
Rahman meletakkan kepala Fatimah dengan pelan ke bantal di dekatnya.
Rahman yang berjalan menuju pintu terheran-heran melihat pintu yang sudah terbuka, tentu melihat itu Rahman semakin bertanya-tanya, siapa orang yang sengaja mengurungnya dengan Fatimah.
"pintunya kok udah kebuka aja kak?" tanya Fatimah yang baru saja bangun.
"Aku juga bingung Fatimah, kayaknya memang ada yang sengaja deh," ucap Rahman menatap Fatimah.
"Ya udah nggak usah dipikirin kak, mendingan sekarang kak Rahman siap-siap, sebentar lagi subuh," tutur Fatimah sambil membereskan tempat tidur itu.
Rahman pergi ke mesjid yang dekat dengan hotel itu, sesampainya di mesjid, ia tak sengaja melihat Rico yang juga sholat berjamaah.
Usai Sholat berjamaah, Rahman buru-buru menyapa Rico. "Kok kamu ada di sini," tanya Rahman yang menepuk punggung Rico.
Melihat Rahman yang tiba-tiba dibelakangnya membuat Rico panik dan takut ketahuan.
"Pak Rahman..sa- saya..semalam lembur pak," jawab Rico terbata-bata.
"Saya ke toilet dulu ya pak, Assalamualaikum," ucap Rico dan buru-buru pergi meninggalkan Rahman.
***
Fatimah yang baru selesai Sholat di musholla WH Hotel juga tak sengaja melihat Sarah yang sedang membenarkan jilbabnya di dalam musholla itu.
"Kak Sarah, kok kakak ada di sini, padahal kan masih subuh," sapa Fatimah yang penasaran.
"Aku..aku lagi lembur semalam, iya.. soalnya banyak kerjaan numpuk," jawab Sarah yang mencari-cari alasan.
"Oh gitu, semangat ya kak, jangan kecapekan, aku duluan ya," ucap Fatimah dan langsung pergi menjemput hp nya yang ketinggalan di kamar 27.
Begitu Fatimah masuk ke kamar itu, Rahman sudah duduk di Sofa menunggu Fatimah.
"Kakak kok masih di sini?" tanya Fatimah sambil menatap Rahman yang tampak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku nunggu kamu, kita sarapan pagi di luar ya," kata Rahman menatap istrinya.
"Iya kak, oh ya kok kak Sarah baru minggu pertama kerja udah lembur aja kak?" tanya Fatimah pada Rahman.
"Hah lembur? lembur apanya sih, orang kerjaan dia aja cuma sedikit kok," jawab Rahman.
"Tadi aku juga lihat Rico di mesjid, tumben tumbennya dia nginap di sini," lanjut Rahman yang semakin bingung.
"Apa jangan-jangan...ini semua skenario yang di rencanakan Rico ataupun Sarah," batin Rahman yang mulai curiga.
***
Pagi itu usai sarapan dengan Fatimah, Rahman memanggil Sarah dan Rico ke ruangannya.
Rico benar-benar takut akan di pecat, ia hanya bisa menunduk karena sadar akan kesalahannya.
Begitupun Sarah yang menunduk, khawatir sang kakak akan marah padanya.
"Siapa di antara kalian yang menjebak aku dan Fatimah?" tanya Rahman dengan tegas.
Sarah langsung menunjuk Rico dengan telunjuknya, begitu pun Rico menunjuk Sarah.
"Kok malah saling tuduh sih, jangan-jangan kalian berdua ya, kalian kerja sama?" tanya Rahman lagi.
"Ini semua rencana Sarah pak Rahman, saya cuma ikut aja," ucap Rico membela diri
"Enak aja, kamu juga ikut kan," tegas Sarah melototi Rico.
suasana semakin tegang, wajah Rahman tampak serius. "Maaf pak Rahman, ini salah saya," ucap Rico yang mengaku salah.
Suasana yang tegang berubah saat Rahman tersenyum dan berkata,"Saya sangat berterimakasih sama kamu Rico, berkat kamu dan Sarah, saya jadi punya waktu berdua bersama istri saya, pokoknya kamu akan dapat bonus besar kali ini," ucap Rahman menepuk pundak Rico.
Rico terkejut mendengar nya, ia sangat lega dengan kata-kata Rahman.
__ADS_1