
Karena Rahman sudah kembali, Lilis pun berpamitan pulang. Pagi itu di kamar Fatimah,Lilis memeluk Fatimah, "Kalau ada apa-apa hubungi aku ya," ucap Lilis berderai air mata.
"Makasih ya Lis, sejauh ini kamu selalu ada buat aku," tutur Fatimah sambil menangis meratapi semua yang terjadi.
Lilis menghapus air mata Fatimah,"Pikirkan matang-matang ya, jika kamu setuju untuk segera di operasi, kabari aku, aku akan selalu ada, kita cari solusi terbaik, uang bukan kendala, aku akan usahakan gimanapun caranya," tegas Lilis menatap mata sahabatnya itu.
Siapa yang bisa menahan tangis ketika melihat sahabat sendiri sedang di timpa penyakit ganas. Lilis benar-benar rela melakukan segala cara untuk mengobati sahabatnya Fatimah.
***
Rahman dan Fatimah mengantar Lilis pulang ke rumahnya, di mobil itu, Fatimah berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"Kok kalian diam, biasanya kalau kalian bersatu pasti kayak ibu-ibu di pasar, nggak ada diamnya," canda Rahman yang memulai pembicaraan.
"Sembarangan, kami nggak segitunya kok," jawab Fatimah yang berusaha tersenyum.
Kepala Fatimah terasa sakit, namun ia berusaha menahannya hingga ia berkeringat. Lilis sangat faham dengan kondisi Fatimah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa di mobil itu karena Fatimah duduk di depan sedangkan ia di belakang.
"Kamu kenapa sayang, kok keringatan gitu," tanya Rahman yang memperhatikan Fatimah.
"Nggak, aku nggak kenapa-napa kok," elak Fatimah yang menahan sakit.
***
Malam itu Fatimah dan Rahman makan bersama di ruang makan, Fatimah tiba-tiba Sakit di bagian kepala lagi, ia berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"Kamu kenapa?" tanya Rahman, "Nggak pa pa, aku ke toilet dulu ya," ucap Fatimah dan buru-buru ke kamar mandi.
Suara mual-mual dari arah kamar mandi membuat Rahman khawatir. Rahman buru-buru menyusul Fatimah ke kamar mandi.
"Kamu kenapa?" tanya Rahman yang langsung menerobos masuk.
"Aku nggak apa-apa kok,paling cuma masuk angin," jawab Fatimah yang berusaha tetap tersenyum.
__ADS_1
***
Fatimah sedang membaca buku di ruang tamu, tiba-tiba ada kalung indah di depan matanya, ia mengangkat wajahnya dan menatap Rahman yang menggenggam kalung indah di hadapannya.
"Kak Rahman," Fatimah menatap Rahman.
"Ini kalung untuk kamu, anggap aja sebagai oleh-oleh dari Singapura," ucap Rahman sambil memakaikan kalung itu pada Fatimah.
Fatimah tersenyum bahagia karena sangat menyukai Kalung indah itu,"Makasih ya sayang," ucap Fatimah yang tersenyum.
"Apa..apa..kamu manggil apa tadi, kurang jelas," kata Rahman yang menatap Fatimah.
"Aku tadi bilang makasih sama kakak," tutur Fatimah sambil memegang kalung di lehernya.
"Tadi bukan itu, aku mau dengar kalimat yang tadi," tegas Rahman yang menatap Fatimah di hadapannya.
"Makasih sayang," ucap Fatimah kemudian mencium pipi Rahman dan langsung lari ke kamarnya.
***
Fatimah yang mengunci diri di kamar, senyam-senyum sendiri sambil memegang kalung di lehernya, namun kebahagiaannya terhenti seketika ia mengingat penyakitnya. "Aku memang bahagia hari ini, tapi mungkin sebentar lagi aku harus pergi dari hidup kamu kak," batin Fatimah berderai air mata.
***
Pagi itu Rahman dan Fatimah sarapan pagi bersama, "Kak," panggil Fatimah pada Rahman.
"Ada apa sayang," Rahman menatap Fatimah.
Fatimah menghela nafas berharap yang ia lakukan ini tepat, dengan serius ia berkata,"Aku ingin berhenti kerja," mempertimbangkan dirinya yang setiap saat selalu tiba-tiba sakit, Fatimah pun memutuskan untuk berhenti bekerja, Karena jika ia tetap bekerja di WH Hotel maka Rahman akan melihatnya setiap hari.
Rahman hanya tersenyum menatap Fatimah, "Itulah yang ku harapkan dari dulu, ya udah mulai sekarang kamu di rumah aja ya, tugas kamu cuma bahagia," tutur Rahman.
"Selagi ada kamu aku pasti bahagia kak," ucap Fatimah dengan tulus.
__ADS_1
Rahman merasa akhir-akhir ini Fatimah selalu bersikap manis padanya."Oh ya perjanjian itu..apa kamu sudah bisa menerima aku seutuhnya menjadi suami sungguhan?" tanya Rahman yang menanti Jawaban Fatimah.
"Jawaban itu akan aku beritahu tepat setelah dua bulan, yang berarti Minggu depan tepat pada hari Senin pagi," jelas Fatimah menatap Rahman.
"Udah kayak jadwal upacara aja, tapi nggak pa pa, aku akan tunggu itu, dan aku yakin pasti jawaban kamu positif," kata Rahman percaya diri.
"Maaf jika jawaban ku nanti akan menyakiti kamu kak, jujur saat ini tanpa sadar ternyata di hatiku cuma ada kamu, tapi sebentar lagi, aku akan pergi dari hidup kamu," batin Fatimah yang menatap Rahman.
***
Meski Fatimah sudah berhenti bekerja, pagi ini Rahman membawa Fatimah ke WH Hotel, bermaksud untuk mengumumkan kepada semua staf di WH Hotel bahwa Fatimah bukanlah housekeeping melainkan istrinya.
Semua staf berkumpul di hotel itu, Rahman mengambil mic dan memberitahu semua orang, "Ada hal penting yang mau saya umumkan, perempuan bernama Fatimah di samping saya ini adalah istri saya, bukan housekeeping, dia hanya menyamar, karena kerendahan hatinya dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi bawahan,maka saya beritahukan kepada semuanya, bahwa istri saya yang menemani saya memimpin hotel ini,"
Semua orang kaget mendengar kabar itu, Sofia yang melihat itu merasa kesal karena menurutnya Fatimah tidak pantas disandingkan dengan Rahman dengan kondisi Fatimah yang sakit keras.
***
Fatimah yang sedikit mual buru-buru ke toilet, tiba-tiba ada Sofia yang menyusulnya dari belakang.
"Selamat ya Fatimah, semoga kebohongan kamu sukses, tapi jangan senang dulu, ada aku yang seperti bom waktu, sewaktu-waktu aku bisa membocorkan rahasia kamu," ucap Sofia yang mengagetkan Fatimah.
"Bu Sofia.." Fatimah menoleh ke belakang.
"Ya ini aku Sofia, orang yang telah membantumu menjaga rahasia mu, namun mungkin aku tidak bisa menyimpan rahasia mu terlalu lama," ucap Sofia yang tersenyum sinis.
"Tolong jangan kasih tau kak Rahman, aku akan lakuin apa pun yang kamu mau, tapi tolong jangan kasih tau siapa pun," pinta Fatimah berderai air mata seolah ia sedang mengemis pada sang putri.
"Baik, kamu bilang kamu akan lakuin semuanya kan, berarti kalau aku menyuruhmu untuk pergi dari kehidupan Rahman, apa kamu mau?" Sofia menatap Fatimah
Fatimah hanya menangis dan tak bisa berkata apa-apa, karena saat ini Rahman adalah alasan ia bertahan.
"Apa kamu nggak kasihan sama Rahman, kamu itu hanya akan membuat Rahman tersiksa, ayolah Fatimah, cobalah untuk berpikir luas, dengan adanya kamu maka akan merusak nama baik Rahman sebagai CEO karena memiliki istri yang sakit keras seperti kamu," jelas Sofia dengan serius.
__ADS_1