
Fatimah berpikir sejenak.
"Tidak, aku tidak akan bekerja mengandalkan kekuasaan kamu sebagai CEO, tapi aku akan berjuang sendiri tanpa bantuan kamu, aku mau kerja di sana, tapi sebagai diri sendiri, bukan sebagai istri kamu, aku ingin diperlakukan sama dengan karyawan lainnya, aku akan melamar pekerjaan di sana tanpa ada yang tau kalau aku istri kamu," jelas Fatimah.
"Semua orang sudah tau kalau aku beristri" tegas Rahman.
"Iya, tapi orang-orang di sana tidak tau istrimu adalah aku," ucap Fatimah.
"Baik terserah kamu Fatimah, lakukan saja sesuka hati mu," ujar Rahman yang pasrah.
***
Keesokan harinya,,
Pagi itu Fatimah berangkat ke White Horse Hotel untuk melamar pekerjaan. Ia dengan gigih menemui HRD. Namun Fatimah hanya bisa bekerja sebagai Housekeeping. Fatimah tetap menerima pekerjaan itu karena ia gigih untuk kuliah tanpa harus membebankan biaya dari Rahman.
"Tapi pak, saya cuma bisa bekerja selama empat hari dalam seminggu, apa bisa?" tanya Fatimah penuh harap.
"Lah kok gitu, kalau cuma empat hari, mohon maaf anda tidak bisa bekerja di sini, karena di sini kerjanya Full satu Minggu dan hanya ada satu hari libur ," tutur HRD itu. Namun tiba-tiba HRD mendapat telepon dari pimpinan. HRD itu panik, khawatir ia telah melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat pimpinan langsung menghubungi nya.
"Halo, selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu pak," ucap HRD dengan gugup di telpon.
"Iya tolong kamu terima saja perempuan bernama Fatimah itu, dia butuh pekerjaan," ucap pimpinan yang tak lain adalah Rahman.
"Baik pak, perintah bapak akan saya laksanakan," jawab HRD.
Seketika Fatimah di terima Bekerja. "Oke kamu diterima disini, kapan kamu bisa bekerja," tanya HRD.
"Mulai hari Rabu depan pak, sebenarnya hari ini saya sudah mulai kuliah pak, saya izin pamit pak, takutnya nanti terlambat, terimakasih pak, Permisi," ucap Fatimah yang buru-buru menuju kampus karena hari ini adalah hari pertama kuliah.
"Sepertinya perempuan ini bukan sembarangan orang, pasti dia ada hubungannya dengan pimpinan di sini," batin HRD itu.
***
Lilis sudah menunggu Fatimah di gerbang kampus, tak lama kemudian Fatimah muncul menemui Lilis.
"Maaf ya Lis kamu udah nunggu lama," ucap Fatimah yang masih ngos-ngosan.
__ADS_1
"Aku sih nggak masalah, tapi kamu kan mahasiswi baru, harusnya datang lebih awal dong, ini udah jam 10 loh, ayok buruan," ucap Lilis sambil menarik tangan Fatimah.
***
Berkat bantuan Lilis, Fatimah sudah terdaftar sebagai mahasiswi baru dan hari ini ia bisa mulai kuliah dengan pinjaman uang dari Lilis pula.
"Makasih ya Lis, kamu emang sahabat terbaik aku, makasih juga udah jadi sahabat yang bisa membuat aku kadang lupa sama masalah-masalah di hidup aku," ucap Fatimah pada Lilis di kelas saat jam kosong.
"Iya dong, aku akan berusaha biar kamu bisa lupa sama masalah-masalah kamu," kata Lilis merangkul sahabatnya Fatimah.
***
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Fatimah baru saja sampai di rumah.
Ia mengira Rahman sudah tidur, diam-diam Fatimah masuk ke rumah. "Dari mana aja kamu?" Rahman tiba-tiba muncul di belakang Fatimah.
"Astaghfirullah..kayak setan aja muncul tiba-tiba," ucap Fatimah yang kaget.
"Aku cariin kamu kemana-mana Fatimah, aku Telpon juga kamu nggak angkat," Rahman melototi Fatimah.
"Kamu kan bisa pinjam hp orang Fatimah, lagi pula seharian kamu kemana aja, kenapa kamu sama sekali nggak ngabarin?" tanya Rahman yang mengomel
"Aku kuliah kak, emangnya kenapa? salah ya aku lanjutin pendidikan ku, apa jangan-jangan kamu juga melarang aku kuliah?" Fatimah menatap tajam Rahman.
"Aku tidak melarang kamu kuliah Fatimah, tapi setidaknya kamu kasih tau aku kamu kuliah dimana supaya aku bisa antar jemput kamu Fatimah, aku bertanggung jawab penuh atas keselamatan kamu," tegas Rahman.
"Semalam kan aku udah bilang kalau aku mau kuliah, kamu nggak tuli kan?" Fatimah mulai terpancing emosi.
"Jaga sikap kamu Fatimah, saya di sini sebagai suami kamu," tegas Rahman melototi Fatimah.
Fatimah tak memperdulikan lagi ia buru-buru mengunci diri di kamar.
Namun Rahman menggedor pintu agar Fatimah membuka nya. "Buka Fatimah..aku belum selesai bicara, Fatimah...buka pintunya," panggil Rahman sambil menggedor pintu.
"Berisik bangat sih," kata Fatimah sambil membukakan pintu.
"Mulai besok aku yang akan mengantar kamu kuliah," ucap Rahman menatap tajam Fatimah.
__ADS_1
"Nggak perlu,"
"Pokoknya kamu nggak bisa keluar tanpa aku," tegas Rahman.
"Ya udah Iya..iya , sekalian aja kamu jadi bodyguard," ucap Fatimah yang kesal.
"Malam ini aku tidur di kamar kamu ya, soalnya aku agak takut tidur sendirian," ucap Rahman dengan tiba-tiba sambil menatap wajah Fatimah.
"Jangan mimpi," Fatimah menutup pintu dengan keras.
"Nasib..nasib..punya istri cantik tapi rasanya kayak duda merana," batin Rahman.
Karena seberapa marah pun ia pada Fatimah tetap saja ia akan luluh hanya dengan menatap wajah Fatimah.
***
Keesokan pagi,
Rahman mengantar Fatimah ke kampus. Di dalam mobil Rahman mulai mencoba mengambil hati istrinya.
"Sayang, jangan lupa nanti kalau udah selesai kuliah, hubungi aku ya, aku soalnya khawatir, kamu terlalu berharga, takutnya nanti ada orang jahat di jalan," ucap Rahman memegang tangan istrinya.
Fatimah melepas tangannya sambil berkata,"Iya bodyguard, aku heran deh sama kamu kak, emangnya kamu nggak ada kesibukan ya, katanya CEO tapi kok kerjanya ngikutin aku mulu, kayak nggak ada hal lain yang mau diurus aja,"
"Istri kan nomor satu, kamu nggak usah khawatir aku kan punya sekretaris, sekretaris aku itu bisa diandalkan, lagi pula kan habis ngantar kamu ke kampus aku langsung ke White horse hotel," tutur Rahman menatap istrinya.
Tak lama kemudian kampus Fatimah pun sampai. Rahman buru-buru keluar mobil dan membukakan pintu mobil untuk Fatimah.
"Nggak usah repot-repot, bisa sendiri," ucap Fatimah dengan tajam.
"Jangan lupa Salim dulu sayang," ucap Rahman sambil tersenyum memperhatikan wajah cantik Fatimah. Fatimah dengan terpaksa mencium tangan Rahman namun seketika ekspresinya berubah saat Rahman mencium keningnya.
"Kak..kamu mau kena tonjok ya," ancam Fatimah pada Rahman yang berani mencium keningnya padahal ada banyak mahasiswa lain di sana.
"Kalau kamu mau nggak papa sih aku mau, lagian tangan sekecil ini nggak akan buat tubuh aku sakit, coba tonjok," kata Rahman yang menghadapkan wajahnya pada Fatimah sambil sedikit membungkukkan badannya karena tubuh Fatimah terlalu pendek untuk memukul wajah Rahman.
"Nggak usah banyak tingkah deh, sana buruan pergi," ucap Fatimah sambil mendorong Rahman.
__ADS_1