
Pagi itu Rahman sedang melamun di ruangannya. Sekeras apa pun ia berusaha memfokuskan diri pada WH Hotel ia tetap memikirkan Fatimah saat ia bekerja.
Rahman menatap ke arah jendela hotel itu sedang pikiran nya di penuhi dengan Fatimah.
"Dua bulan aku mencari mu, tapi tak ada hasilnya, apa memang kamu tidak akan kembali Fatimah," batin Rahman.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, "masuk" ucap Rahman.
Ternyata yang datang adalah Sofia. "Pagi Rahman, aku bawain kamu sarapan nih, kamu pasti belum sarapan kan,", sapa Sofia yang memperhatikan Rahman.
"Makasih Sofia, selama dua bulan terakhir ini kamu udah peduli sama saya," tutur Rahman pada Sofia.
"Nggak masalah kok, kita kan teman lama," kata Sofia.
"Tapi kamu nggak perlu repot-repot," lanjut Rahman.
"Nggak repot kok, sebenarnya aku suka sama kamu dari dulu Rahman, makanya aku akan lakuin apa pun untuk kamu," ujar Sofia menatap Rahman.
Rahman terkejut mendengar ungkapan itu, "Maaf tapi aku sudah beristri, lagipula kamu ini cantik, pasti banyak laki-laki di luar sana yang mau sama kamu, bukan aku orangnya," tegas Rahman menatap Sofia.
"Istri yang mana lagi? Sofia udah pergi, bukannya dalam surat itu Sofia juga sudah menyuruh kamu untuk melepas dia dan menikah dengan perempuan lain, akulah orang yang tepat untuk itu," lanjut Sofia.
Rahman kembali menegaskan, "Aku tidak akan pernah melepaskan Fatimah," tegas Rahman dan pergi meninggalkan Sofia.
***
Pagi itu Lilis sedang berjalan menuju gerbang kampus, tiba-tiba Fatih menghentikannya. "Lilis," panggil Fatih sambil mengejarnya.
"Ada apa Fatih," jawab Lilis yang sedikit takut jika Fatih akan bertanya tentang Fatimah.
"Kamu menghilang selama dua bulan Lis, kamu kemana aja sih, Fatimah juga pergi entah kemana, aku tau ini pasti ada hubungannya sama kamu kan? kamu pasti tau Fatimah dimana," tanya Fatih yang curiga pada Lilis.
"Aku nggak tau apa-apa," tegas Lilis yang mengelakkan Fatih.
__ADS_1
"Aku nggak percaya," Fatih tetap kukuh meminta penjelasan dari Lilis.
"Untuk apa kamu mencari tau tentang Fatimah," cetus Lilis pada Fatih.
"Aku ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan Fatimah, tolong kasih tau aku Lis, kita berteman sejak SMA, tolong bantu aku, kasih tau dimana Fatimah," pinta Fatih membujuk Lilis.
Lilis pun tak tega melihat Fatih, "Baik aku akan kasih tau kamu sebuah alamat, tapi jangan pernah kasih tau siapa pun," tegas Lilis yang memberi tahu alamat Fatimah pada Fatih.
***
Tak butuh waktu lama, Fatih langsung berangkat menuju alamat itu, ia buru-buru mencari Fatimah karena sebuah hal mendesak.
Sesampainya di tempat Fatimah berada, Fatih langsung mengetuk pintu, yang tak lain adalah rumah dokter Hadi.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumussalam," jawab Fatimah yang membuka pintu itu. Fatimah kaget melihat Fatih yang ada di rumah itu tiba-tiba. "Fatih, kamu tau dari mana kalau aku di sini?" tanya Fatimah menatap Fatih.
Fatimah dan Fatih duduk di bawah pohon tepat di halaman dokter Hadi. "Hal penting apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Fatimah.
"Kenapa kamu tiba-tiba hilang Fatimah, aku benar-benar khawatir, selama dua bulan kamu entah kemana, dan tiba-tiba Sekarang kamu ada di sini, apa yang membawa mu ke tempat ini?" tanya Fatih penasaran.
Fatimah hanya terdiam seolah ia tak mau menceritakan penyakitnya. "nggak pa pa kalau kamu nggak mau cerita, mungkin kamu punya rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain, aku tidak mempermasalahkan itu, tapi ada hal penting yang ingin aku tanyakan," jelas Fatih.
"Apa?"
"Sebentar lagi aku akan dinikahkan dengan anak sahabat papa aku, masalahnya hingga saat ini hanya kamu yang ada di hati ku, Fatimah, jika memang saat ini kamu sudah tidak ingin kembali pada Rahman, menikahlah dengan ku, agar aku terbebas dari perjodohan yang tidak aku inginkan, karena memang kamulah satu-satunya yang aku inginkan menjadi pendamping ku," jelas Fatih panjang lebar.
"Menikahlah dengan siapa pun yang kamu inginkan Fatih, tapi bukan aku orangnya, maaf tapi saat ini aku sudah tidak berpikir ke arah itu lagi, aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi," jelas Fatimah pada Fatih.
"Tolong pikirkan lagi Fatimah," pinta Fatih yang amat berharap. "Kalaupun aku menjanda, aku tak akan menikah lagi Fatih, maaf , tapi itulah keputusan ku, aku hanya terfokus untuk merawat diriku sendiri saat ini," tutur Fatimah dengan serius.
"Baiklah Fatimah, jika memang itu jawaban kamu, aku akan berusaha menerima, mungkin setelah ini aku akan jadi suami dari orang lain, tidak ada peluang lagi untuk mengharapkan kamu," kata Fatih yang membayangkan kehidupannya setelah ini.
__ADS_1
"Itu sama halnya seperti yang aku alami saat aku dinikahkan dengan kak Rahman, namun setelah beberapa waktu malah aku yang sangat menyayanginya, mungkin nanti kamu juga akan merasakan itu," jelas Fatimah menatap Fatih.
Fatih pun kembali dengan jawaban yang amat pahit.
tanpa sadar ternyata ada yang diam diam memfoto Fatih dan Fatimah yang sedang mengobrol.
***
Sarah menemui Rahman yang melamun di dalam mobilnya. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang kak? sudah dua bulan Fatimah belum juga kembali," tanya Sarah pada Rahman.
"Entahlah Sarah, aku tidak tau lagi harus mencarinya kemana,"jawab Rahman berputus asa.
Sarah mencoba memberi semangat, "Kamu tetap semangat ya kak, kita sama-sama berdoa agar Fatimah cepat kembali," tutur Sarah menenangkan Rahman.
tiba-tiba sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah Foto ke WA Rahman. Itu ialah foto Fatih dan Fatimah yang tampak duduk mengobrol akrab.
"Apa aku bilang pasti semua ini ada hubungannya dengan Fatih," ucap Rahman yang terbawa emosi.
"Jangan berburuk sangka dulu kak, siapa tau ini foto lama," tutur Sarah menenangkan Rahman.
Rahman buru-buru bergerak ke rumah Fatih.
Sesampainya di rumah Fatih, Rahman mengetuk pintu dengan keras.
Seorang ART di rumah Fatih membuka pintu. "Cari siapa ya," tanya ART itu.
"Mana Fatih?" tanya Rahman.
"Pasti kamu temannya tuan Fatih kan, maaf ya, saya kurang tau dimana tuan Fatih sekarang, setau saya tuan Fatih itu sedang sibuk saat ini, karena sebentar lagi akan menikah," jelas ART itu.
Mendengar itu Rahman langsung mengira bahwa Fatih akan menikahi Fatimah, karena di Foto itu Fatih tampak membicarakan hal serius dengan Fatimah.
"Aku bahkan belum menceraikan kamu Fatimah, kamu dengan mudahnya menikah dengan laki-laki lain, baik jika itu yang kamu mau lakukan saja," batin Rahman yang menangis berputus asa
__ADS_1