My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
50. Ending


__ADS_3

Tepat di sepertiga malam,


Rahman membangunkan Fatimah untuk menunaikan sholat tahajud.


"Sayang..bangun," ucap Rahman sambil menepuk lengan Fatimah. Fatimah pun terbangun, "Iya kak," Fatimah membuka matanya. "Ayok bangun sayang, saatnya kita membentangkan sajadah, karena hanya di sepertiga malam lah, ibadah kita lebih khusyuk, suasana yang sunyi akan membuat kita lebih fokus ibadah," tutur Rahman menatap Fatimah.


Fatimah pun bangun dari tempat tidur dan segera mandi lalu berwudhu.


Rahman pun menjadi imam dalam sholat tahajud itu. Dengan khusyuknya Rahman dan Fatimah menunaikan sholat, hingga salam.


Fatimah pun mencium tangan Rahman, begitupun Rahman mencium kening Fatimah, "Kak, maafkan semua kesalahanku ya, maaf jika selama ini banyak perlakuan ku yang membuat kamu sedih dan terbebani, maafkan semua kekhilafan ku, terutama saat dulu aku menolak keras menikah dengan mu, maaf kak, mungkin aku memang jauh dari kata sempurna," tutur Fatimah sambil menatap Rahman.


Rahman mengelus kepala Fatimah, "Fatimah, aku sudah lama memaafkan semua masalah yang ada di rumah tangga kita, dan aku pun minta maaf sama kamu, karena aku terkadang lalai menjaga kamu, hingga saat itu kamu berjuang sendiri dengan kanker mu," ucap Rahman yang matanya Berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah menyalahkan kamu atau siapapun atas peristiwa itu kak, justru peristiwa itulah yang meneguhkan cintaku, hingga aku sadar bahwa hanya kamu laki-laki terbaik yang Allah jadikan sebagai imam untuk membimbing ku ke jalannya, jangan pernah menyalahkan diri lagi, mulai sekarang kita membuka lembaran baru, menjadi pasangan yang saling memperbaiki diri di jalan Allah," tutur Fatimah sambil mengelus wajah Rahman yang di basahi air mata.


"Terimakasih atas cinta yang kamu hadirkan dalam pernikahan ini," ucap Rahman dan mencium kening Fatimah.


***


Pagi hari,,


Fatimah menyiapkan sarapan di bantu bi Siti. "Alhamdulillah, akhirnya tuan dan nyonya bersatu kembali," ucap bi Siti.


"Iya Alhamdulillah bi, ini pasti juga berkat doa bi Siti," tutur Fatimah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Wah..wangi bangat nih, yang masak siapa nih," tanya Rahman yang datang dan duduk untuk sarapan.


"Ya masakan nyonya Fatimah lah, saya mah cuma bisa masakin yang biasa-biasa aja tuan," tutur Bi Siti.


"Masakan bibi juga paling enak kok," ujar Fatimah.


"Ayok sarapan bareng bi," ajak Rahman yang mempersilahkan bi Siti duduk. "Nggak usah tuan, masa saya sarapan di sini, nggak sopan lah," tolak bi Siti. "Nggak papa pa Bi, ayok sini sarapan bareng, " ajak Fatimah. Bi Siti pun ikut sarapan bersama Rahman dan Fatimah.


Beberapa hari kemudian,,


Sampailah pada hari dimana Lilis sahabat Fatimah itu akan menikah dengan kakak kandungnya Mahadi.


"Sah," ucap para hadirin serentak. Hingga Lilis pun resmi menjadi istri dari Dokter Hadi. Fatimah menatap hari kebahagiaan sahabatnya itu. "Selamat ya Lis," ucap Fatimah yang memeluk Lilis dengan air mata bahagia.


Hadi pun memeluk adiknya Fatimah, "Selamat ya kak, jaga sahabat aku baik-baik," ucap Fatimah di pelukan dokter Hadi.


Sarah dan suaminya Rico ikut mengucapkan selamat pada Lilis dan Dokter Hadi.


"Selamat ya Lis, jadi istri yang baik ya," ucap Sarah yang memeluk Lilis, "Iya kak, insyaallah," jawab Lilis.


Begitupun Rico yang bersalaman dengan Dokter Hadi, "Selamat ya, sekarang kita semua di sini adalah keluarga," ucap Rico pada dokter Hadi.


"Nggak nyangka ya, sekarang kita bisa kumpul kembali," kata Rahman sambil merangkul Fatimah. "Iya kak, Alhamdulillah, aku juga sangat bersyukur, ternyata benar, Allah memberikan skenario indah dalam hidup kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya," ucap Fatimah sambil tersenyum menatap Rahman.


"Aku nggak nyangka kamu bisa berubah dari sikap kamu yang dulu tidak menganggap aku suami mu,kini menjadi istri Solehah yang selalu patuh pada suaminya," tutur Rahman. "Itu dulu, sekarang kamu adalah suami ku, dan aku adalah istrimu, jadi mari saling melengkapi kak, selalu bersama dalam keadaan apa pun," ujar Fatimah menatap haru wajah Rahman.

__ADS_1


Rahman tersenyum bahagia menatap mata Fatimah, "Aku berjanji akan selalu bersama kamu, dalam keadaan apa pun, kita saling mengajak pada kebaikan, saling menasehati jika ada kesilapan, dan saling memperbaiki diri di jalan Allah, tetaplah bersamaku, istri kecilku Fatimah," tutur Rahman mengelus wajah Fatimah.


...TAMAT...


...****************...


Tidak semua hal di dunia ini harus sesuai rencana kita, ya kita memang punya rencana, tapi Allah juga punya rencana, maka yakinlah bahwa rencana Allah yang terbaik untuk kita, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita, sebab pada dasarnya Allah lah yang paling tau tentang diri kita bahkan jika di bandingkan dengan diri kita sendiri.


Jangan pernah membenci keadaan, dan jangan pernah menyalahkan keadaan, sebab daun pun tak pernah menyalahkan angin ketika ia jatuh terhembus angin, bukan daunnya yang harus kamu perhatikan, karena maksudnya bukan untuk memastikan penyebab daun jatuh tetapi agar kamu bisa mengambil makna dari kiasan tersebut, agar kamu lebih ikhlas dalam menerima keadaan apa pun. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah atas apa yang kamu alami, yang harusnya kamu lakukan adalah sabar, terima keadaan itu, dan berdoalah.


Ikhlas adalah salah satu rahasia bahagia dalam hidup. Bersyukur adalah kunci ketenangannya, sebab kamu tidak akan pernah merasakan kenikmatan jika masih menuntut yang belum pasti Allah berikan untukmu.


Terkadang Allah menghadirkan skenario patah hati dalam hidupmu, dan itu bukanlah bertujuan untuk menyakiti mu, dan bukan pula karena Allah membenci mu, tapi Allah ingin kamu lebih kuat, dan yakinlah setelah patah hati itu akan hadir obatnya, yaitu seseorang yang akan membahagiakan mu.


Terima saja apa yang Allah beri, karena Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita, perhatikanlah surah Al-Baqarah ayat 216:


وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ (٢١٦)


Artinya : dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al-Baqarah ayat 216)


Oleh karena itu jangan mudah mengeluh atas apa yang Allah berikan pada kita, terima saja dulu, dan jangan mudah berburuk sangka pada Allah, ingatlah bahwa Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuan kita.


“La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS Al-Baqarah ayat 286)


...Tetap jalani hidup mu dengan bersyukur, jangan menuntut terlalu banyak pada Allah, ikhlas lah menjalani apa pun yang Allah beri, ingat skenario Allah itu indah jika di syukuri....

__ADS_1


My Little Wife Fatimah


__ADS_2