My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
11. Rusaknya Harapan


__ADS_3

Pada akhirnya Fatimah pun harus pergi dengan dikawal suaminya Rahman.


Fatimah bersikap dingin pada Rahman di mobil.


"Sayang... emangnya mau bicara apa, kayaknya penting ya?" tanya Rahman melirik istrinya itu.


"Kamu nggak perlu tau kak, oh ya, dalam pernikahan kita aku ada beberapa aturan yang tidak boleh kakak langgar, pertama jangan pernah sentuh saya selayaknya suami pada istri, kedua, jangan halangi saya bertemu teman-teman saya, ketiga, jangan sentuh barang-barang saya di rumah," tegas Fatimah menatap Rahman.


"Kamu tau kan Fatimah, pernikahan ini dilaksanakan sebagai ibadah, mengikuti Sunnah Rasulullah dan disaksikan oleh Allah, apa kamu berani mempermainkannya?" ucap Rahman pelan tapi tajam.


Fatimah hanya terdiam.


Tak lama kemudian , dari kaca mobil Fatimah tak sengaja melihat Rahman sedang memarkirkan motor di depan apotek. "Kak.. berhenti dulu, aku turun di sini aja," suruh Fatimah sambil menatap ke kaca.


Rahman pun menghentikan mobil. "Sebenarnya kamu mau ngapain Fatimah?, kok berhenti di depan apotek , kamu sakit ya?" tanya Rahman menatap tingkah istrinya yang agak aneh. Fatimah tidak mendengarkan kata-kata Rahman lagi, ia buru-buru keluar dan menemui Fatih sebelum Fatih masuk ke Apotek.


"Fatih.." panggil Fatimah sambil matanya berkaca-kaca.


"Fatimah.. kamu ngapain di sini?" tanya Fatih pelan yang juga menahan rasa sedih saat menatap wanita yang ia memendam cinta padanya selama ini.


"Aku mau bicara sama kamu Fatih, sebentar saja kok, please," pinta Fatimah menatap Fatih.


"Tapi apa suami kamu mengizinkan?" tanya Fatih menatap Rahman yang ada di mobil memantau Fatimah.


"Fatih, aku harus kasih tau kamu, kalau aku bukannya tidak memegang komitmen, tapi aku terpaksa, andai saat itu kamu ada di Indonesia dan buru-buru melamar aku, kita pasti masih punya harapan," ucap Fatimah dengan matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sudahlah Fatimah, ini jalan dari Allah, pergilah pada suami mu, ia pasti sudah menunggu mu di mobil, jangan pikirkan tentang kita lagi, taat lah pada suami mu Fatimah, jangan pernah kamu temui aku lagi, jangan membuat sakit hati suami mu, surga mu ada padanya," ucap Fatih yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Tapi Fatih...aku mohon tunggu aku, suatu saat aku akan meminta cerai padanya agar nanti kita bisa menikah sesuai Janji kita," tutur Fatimah sambil menghapus air matanya.


"Astaghfirullah Fatimah, jangan ucapkan itu lagi, Allah amat benci dengan perceraian, tolong hargailah suamimu, jangan durhaka padanya," lanjut Fatih menatap Fatimah.


"Kamu kenapa lebih memikirkan perasaan dia dari pada aku? asal kamu tau Fatih, aku tidak pernah berfikir untuk bisa mencintai dia, aku ini adiknya, aku tidak akan bisa menganggap ia sebagai suami," tegas Fatimah pelan tapi tajam.


"Tidak ada yang salah Fatimah, dia bukan kakak kandung mu kan?, bukan pula sepersusuan, jangan khawatir, tidak ada hukum yang menentang pernikahan kalian," ucap Fatih berderai air mata.


"Hati ku yang menentang nya Fatih, aku tidak bisa mencintai orang yang ku anggap kakak kandung, tolong mengerti Fatih, kasih aku kesempatan untuk melanjutkan komitmen kita nanti," ucap Fatimah dengan nada yang semakin tinggi sambil air matanya tak berhenti bercucuran.


"Harus berapa kali aku jelaskan supaya kamu mengerti, kamu sudah menjadi istrinya, jangan lagi temui aku hanya untuk berbicara yang kurang penting, pikirkan perasaan suami mu, coba lihat suamimu, ia memperhatikan mu dari mobil, ia pasti menahan cemburu Fatimah," tegas Fatih yang menunjuk Rahman di mobil.


Fatimah menatap ke arah mobil, melihat Rahman yang terus memperhatikannya.


"Apa jangan-jangan sudah ada wanita lain di hidupmu Fatih?" Fatimah menangis menatap Fatih.


"Ada ataupun tidak itu tidak penting untuk mu Fatimah, fokus lah menjadi istri yang baik bagi suami mu, jangan pernah mendekati apa yang Allah benci, yaitu perceraian, tetaplah di sisi suami mu," Fatih menatap Fatimah dan pergi meninggalkannya.


"Fatih.." Fatimah menangis memperhatikan langkah kaki Fatih yang pergi meninggalkan nya di depan apotek itu.


Rahman yang melihat tangisan Fatimah itu buru-buru keluar mobil dan menemui Fatimah.


Rahman memeluk Fatimah sambil berkata,"Sudah Fatimah, ini memang jalan yang terbaik dari Allah, Fatih memang laki-laki yang baik, tapi akulah yang ditakdirkan untukmu, aku sudah berjanji di saksikan Allah bahwa aku akan menjagamu dalam keadaan apa pun,"

__ADS_1


Fatimah melepas dirinya dari pelukan Rahman. "Tidak usah basa-basi kak, aku tau kamulah yang merencanakan ini dari awal, kamu seolah menulis skenario untuk memisahkan aku dengan Fatih, jangan pura-pura bodoh seolah kamu tidak bersalah, pernikahan ini adalah rencana kamu sendiri," ucap Fatimah dengan tajam.


"Istighfar Fatimah, aku suamimu," Rahman menatap Fatimah.


***


Malam itu, sehabis sholat isya Fatimah mengaji di kamarnya. Rahman yang baru pulang dari mesjid mendengar itu dan merasa kagum pada istrinya, meski saat ini Fatimah belum bisa menerima dengan sepenuh hati Rahman sebagai suaminya.


***


Usai mengaji Fatimah keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. "Ayo makan sayang, bi Siti udah nyiapin sarapan," ucap Rahman yang menemui Fatimah di dapur.


Fatimah hanya diam dan menuju ruang makan.


Rahman dan Fatimah makan bersama di ruang tamu meskipun suasana tidak begitu baik.


"Aku mau kuliah sambil kerja, kebetulan Lilis menawarkan aku kuliah di salah satu universitas, kuliahnya cuma dua hari dalam satu Minggu, empat harinya aku gunakan untuk bekerja, sisa hari Minggu untuk aku istirahat," ucap Fatimah tanpa menatap Rahman.


"Sayang...nggak usah capek-capek kerja, kan masih ada aku yang memenuhi segala kebutuhan kamu, dengan kamu bekerja maka aku seolah suami yang tidak bertanggung jawab, padahal aku sangat sanggup untuk membiayai kuliah kamu, bahkan jika itu di kampus yang mahal," tegas Rahman menatap Istrinya.


"Aku harus menyibukkan diri untuk melupakan masalah ku, lagi pula aku tidak butuh uang mu untuk kuliah ku, karena kamulah perusak harapan ku," ucap Fatimah pelan tapi tajam.


"Bisakah kamu menghormati perintah ku Fatimah, aku ini suami kamu," tegas Rahman pada Fatimah.


Fatimah tak memperdulikan itu, ia hanya menatap makanannya sambil asyik makan.

__ADS_1


"Tanpa izin kamu pun aku akan bekerja," tegas Fatimah.


"Baik..kamu boleh kerja, tapi kamu bekerja di White horse hotel kita, jadi aku bisa menjaga kamu, kerjaan kamu cukup melayani aku di sana, seperti memastikan aku makan, membantu keperluan ku dan menjaga kesehatan ku. seperti seorang Asisten, tapi ini beda kamu tidak akan mengerjakan pekerjaan yang berat," jelas Rahman panjang lebar.


__ADS_2