My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
46. Memperbaiki semuanya


__ADS_3

Keesokan hari,


Sofia sangat bersemangat untuk mempersiapkan diri, karena besok ia akan menikah dengan pujaan hatinya, ia sedang duduk santai di teras rumahnya. Tiba-tiba Rahman menemuinya, "Rahman, tumben kamu temuin aku, kamu tau nggak, aku deg-degan bangat, hari ini pasti kita sibuk bangat kan mempersiapkan pernikahan besok, pokoknya acara besok harus sempurna ya," ucap Sofia yang bersemangat.


Rahman hanya tersenyum Sinis menatap Sofia. "Siapa yang mau menikah dengan perempuan yang tidak punya hati, di depan manis ternyata di belakang busuk, perempuan yang merusak kebahagiaan orang lain demi ambisi busuknya," cetus Rahman yang amat kecewa pada Sofia, padahal Sofia adalah teman lamanya.


"Maksud kamu apa Rahman, aku nggak ngerti, siapa yang busuk, siapa yang merusak kebahagiaan orang lain?" tanya Sofia yang seolah tidak tau apa-apa.


"Wajahmu tidak bisa menyembunyikan akal busuk mu, jangan berharap menikah dengan ku, semuanya sudah ku batalkan, dan aku pastikan kamu kehilangan pekerjaan, pergilah dari hidupku sebelum aku memberimu konsekuensi atas semua perlakuan mu pada istriku Fatimah," cetus Rahman dengan tatapan tajam.


"Akal busuk apa Rahman, aku nggak tau apa-apa," tutur Sofia sambil meneteskan air mata di depan Rahman.


"Tidak usah menjelaskan apa-apa padaku, aku sudah tau semuanya, asal kamu tau, bahkan jika istriku memiliki penyakit yang dipastikan berakibat kematian, aku akan tetap setia padanya, bahkan jika ada seribu perempuan sempurna di depan ku, aku akan tetap pada pilihan yang sama, kamu dan Fatimah tidak bisa di bandingkan, Fatimah jauh lebih baik hatinya, baik akhlaknya, dan tidak punya pikiran busuk seperti kamu," tegas Rahman dan langsung pergi meninggalkan Sofia.


"Rahman.." panggil Sofia yang mengejar Rahman, namun Rahman bahkan tidak menoleh.


"Sial perempuan itu malah mengingkari janjinya," batin Sofia yang kesal pada Fatimah.


***


Pagi itu Fatimah dan Sofia berangkat ke acara pernikahan Fatih ditemani oleh dokter Hadi.


Di mobil, Fatimah tampak melamun, "Besok kak Rahman akan menikah, kayaknya aku harus kembali ke tempat kak Hadi, supaya aku bisa lupa dengan masa laluku dengan Kak Rahman, Fatimah, kamu pasti bisa, tetap semangat, jalani hidup walau tanpa dia, aku harus punya cita-cita yang jelas agar aku lupa dengan semua ini," batin Fatimah.


"Fatimah..kamu lagi mikirin apa?" tanya Dokter Mahadi yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


"Nggak mikirin apa-apa kok," elak Fatimah yang padahal sedang memikirkan Rahman.


Lilis senyam-senyum melihat Fatimah, "Sok-sokan mau biarin kak Rahman menikahi Sofia, padahal dia masih mikirin kak Rahman, Fatimah.. Fatimah...dari ekspresi kamu itu kelihatan bangat kalau kamu lagi mikirin kak Rahman," batin Lilis yang menatap Fatimah sambil tersenyum


"Kenapa senyum-senyum Lis," tanya dokter Mahadi.


"Nggak kok, siapa yang senyum," elak Lilis.


"Masa sih, perasaan tadi senyuman kamu manis bangat, saya hampir nggak fokus nyetir," tutur dokter Hadi.


Mendengar itu hati Lilis bagai bunga yang mekar, "Apaan sih kak, gombal!" ucap Lilis yang mengalihkan pandangannya.


***


"Ya iyalah kamu tau sendiri kan kalau papanya Fatih itu konglomerat, kamu nyesal ya nolak dia?" Lilis meledek Fatimah. "Astaghfirullah kamu apaan sih Lis, kamu pikir aku cewek matre ya," cetus Fatimah sambil mencubit lengan Lilis.


"Aku cuma realistis aja Fatimah, kan faktanya emang gitu, kita yang perempuan ini juga harus lihat materi, masa ia setelah nikah kita makan cinta, pasti butuh biaya hidup juga kan," lanjut Lilis.


"Terserah kamu deh Lilis yang paling pintar sedunia," ucap Fatimah.


***


"Sah" ucap para hadirin serentak, yang menandakan Fatih dan istrinya sudah resmi menikah. Akhirnya akad nikah pun selesai.


Fatimah memberi ucapan selamat pada Fatih sambil memberikan kado bersama dengan lilis.

__ADS_1


"Selamat ya Fatih, kami berdua bahagia buat kamu," ucap Fatimah. "Jadi suami yang bertanggung jawab ya Fatih, meskipun kamu nikah muda, tetap aja kamu harus belajar bersikap tegas dan bertanggung jawab menjadi pemimpin keluarga," pesan Lilis pada Fatih. "Iya, makasih ya, kalian udah menyempatkan untuk datang ke sini," ucap Fatih yang sedari tadi menahan air matanya melihat Fatimah.


"Maasyaa Allah, istri kamu cantik bangat," puji Fatimah sambil bersalaman dengan istri Fatih yang bernama Diana, "Makasih ya, kamu juga cantik," puji Diana balik pada Fatimah.


***


Fatimah sedang duduk di barisan paling belakang menatap Fatih dan Diana bersanding di pelaminan. Sambil tersenyum bahagia ia mendoakan sahabatnya itu agar bahagia.


Tiba-tiba ada sosok laki-laki yang menemuinya dari arah belakang. "Fatimah," panggil Rahman yang menatap haru Fatimah yang membelakanginya. Fatimah menoleh ke belakang, ia melihat Rahman yang memanggilnya, dengan spontan Fatimah berlari ke luar gedung itu, tak sengaja Fatimah terjatuh.


Rahman pun membantu Fatimah berdiri, "Kamu sudah hebat ya, kamu lebih cepat larinya dari pada aku," ucap Rahman sambil menatap Fatimah.


Fatimah hanya menunduk seolah takut menatap Rahman. "Kenapa kamu selalu lari dari aku Fatimah, apa kamu tidak pernah berpikir betapa sakitnya aku saat kamu pergi," tutur Rahman sambil mengelus kepala Fatimah.


Fatimah hanya terdiam dan menangis seolah tak ingin menceritakan apa-apa.


"Dan kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu dulu terkena kanker, laki-laki macam apa aku yang membiarkan istrinya sendiri berjuang dengan penyakitnya, silahkan hukum aku Fatimah, beri aku hukuman atas kebodohan ku, aku benar-benar laki-laki bodoh," tegas Rahman yang berlutut di hadapan Fatimah.


Fatimah pun tak kuasa menahan air matanya, "Kamu tidak salah apa-apa kak, akulah yang salah, aku yang harus menanggung konsekuensinya untuk mengikhlaskan kamu menjadi milik perempuan lain," tutur Fatimah sambil menahan air matanya.


"Tidak ada perempuan yang bisa menggantikan kamu, jangan paksa aku untuk melanjutkan pernikahan dengan perempuan jahat itu, perempuan yang sudah merusak rumah tangga kita, aku tidak akan membiarkan dia mengganggu kamu lagi, mulai sekarang aku berjanji, aku tidak akan lengah menjaga kamu, memastikan kamu aman di sisi ku, tanpa tekanan dari siapa pun," tegas Rahman menatap haru wajah Fatimah.


"Kak, tolong jauhi aku, bukankah kita sudah cerai, jangan terlalu leluasa memperlakukan ku sedekat ini," tegas Fatimah pada Rahman yang menatap Fatimah dengan jarak yang begitu dekat.


"Cerai? aku tidak pernah menceraikan kamu, dan memang aku tidak akan pernah melakukan itu, kamu adalah istri satu-satunya dalam hidupku," tegas Rahman menatap serius wajah polos Fatimah yang sedari tadi menangis haru melihat Rahman.

__ADS_1


__ADS_2