
"Dari dulu gombalnya nggak pernah ketinggalan ya," ucap Fatimah sambil tertawa.
"Kok gombal sih, ini serius Fatimah," tegas Rahman menatap Fatimah.
"Fatimah," panggil Rahman.
"Iya, kenapa?" tanya Fatimah.
"Malam ini, kamu..tidur dimana," tanya Rahman ragu-ragu.
"Ya di kamar aku lah, emang kenapa?" tanya Fatimah melototi Rahman.
"Katanya mau jadi istri Solehah, salah satu Sunnah bagi pasangan suami-istri adalah tidur di satu ranjang," jelas Rahman yang memberi kode.
"Sunnah kan kak, bukan wajib, ya udah berarti aku tidur di kamar aku,lagi pula kan kita udah sepakat kalau kakak ngasih aku waktu selama dua bulan, tapi meskipun hanya dua bulan, aku akan tetap berusaha patuh sama kak Rahman, tapi selain perintah yang ini ya," ucap Fatimah dan buru-buru pergi ke kamarnya mengunci diri.
"Aku ini duda apa gimana sih, punya istri tapi cuma bisa meluk bantal guling," cetus Rahman yang berbicara sendiri di meja makan.
***
Keesokan hari,,
Fatimah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Lilis mengerjakan tugas kuliah. "Masih ada yang ketinggalan nggak?" tanya Rahman yang sudah siap untuk mengantar Fatimah.
Fatimah masuk mobil, "Kok kamu lama sih, kamu dandan ya?" tanya Rahman yang memperhatikan wajah Fatimah.
"Muka ku kusut begini masa kamu bilang dandan sih kak," ucap Fatimah menunjukkan wajahnya yang tanpa bedak dan riasan apapun.
__ADS_1
"Aku khawatir aja nanti kalau kamu dandan, malah ada yang godain lagi," tutur Rahman menatap Fatimah. "Emang cantik dari lahir kali kak," ucap Fatimah pelan.
"Iya sih," kata Rahman sambil tersenyum.
***
Sesampainya di depan Rumah Lilis,, Fatimah mencium tangan Rahman, begitupun Rahman mencium kening Fatimah, "Belajarnya yang semangat ya sayang, nanti kalau udah selesai kamu kabari aku, biar aku jemput," ucap Rahman sambil menatap Fatimah.
"Iya kak," jawab Fatimah singkat.
Mobil Rahman mulai jauh.
Lilis yang tadi melihat sifat hangat Rahman pada Fatimah langsung buru-buru menemui Fatimah.
"Wah.. kayaknya ada yang udah akur nih, jangan-jangan sudah ada benih-benih cinta," ucap Lilis sambil menyenggol lengan Fatimah.
"Nggak pa pa kali, nggak usah malu, aku sama kamu itu udah lama sahabatan, masa masih malu-malu sih, kamu jujur aja deh, jangan-jangan kamu sama kak Rahman udah..."
"Hush..jangan sembarangan deh, kebiasaan ya pikiran kotor kamu itu nggak bisa di buang jauh-jauh apa?" cetus Fatimah menghentikan kalimat Lilis.
"Cie cie...pipinya merah, udah deh kamu jujur aja, kamu sama kak Rahman udah resmi jadi suami istri yang sesungguhnya kan?" tanya Lilis yang penasaran.
"Nggak Lis, aku kan udah bilang, kami punya perjanjian, kalau selama dua bulan aku belum bisa mencintai kak Rahman, otomatis kami cerai, tapi kalau aku cinta ya lanjut aja, tapi saat ini aku tetaplah istri kak Rahman, jadi bagaimanapun juga aku harus patuh dan menghormati dia," jelas Fatimah panjang lebar.
"Iya deh iya ..aku ngerti kalau kamu mau menjadi bidadari dunia dan surga buat kak Rahman," ujar Lilis sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
Tiba-tiba Fatih datang,
__ADS_1
"Fatih.. bukannya kamu masih butuh istirahat, terus kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Lilis yang terkejut melihat kedatangan Fatih.
"Semalam kamu bilang kalau kalian mau belajar bareng kan Lis, makanya aku samperin ke sini, ada suatu hal yang mau aku sampaikan pada Fatimah, aku udah lumayan membaik kok, luka ku udah lumayan sembuh," jelas Fatih pada Lilis.
Fatimah hanya berusaha mengalihkan pandangannya dari Fatih.
"Ya udah kalian bicara aja, aku masuk dulu," ucap Lilis dan bergerak masuk ke rumah nya.
Fatih menatap Fatimah yang sedari tadi mengalihkan pandangannya.
"Fatimah..aku bela-belain datang ke sini karena aku ingin memberi tahu kamu suatu hal, kemarin-kemarin kamu meminta aku untuk memberi kamu kesempatan supaya komitmen kita tetap berlanjut hingga tali pernikahan menyatukan kita, aku sudah pikirkan matang-matang,kalau aku bersedia menunggu kamu, Fatimah aku tetap mencintai kamu sebagaimana teguhnya cintaku padamu dulu, selama ini aku begitu terpuruk melihat kamu yang sudah berstatus sebagai istri orang lain, saat itu kamu bilang kamu akan segera meminta cerai pada suami mu, aku bukannya jahat Fatimah, tapi hatiku selalu menuntunku untuk mencarimu, jika memang kamu tidak bahagia dengan suamimu, aku bersedia menunggu status mu menjadi janda dari orang lain," jelas Fatih panjang lebar.
Mendengar itu Fatimah tak sadar meneteskan air mata, karena saat ini ia telah berjanji pada dirinya untuk menjadi istri yang baik.
"Bukannya hari itu kamu menolak permintaan ku untuk tetap teguh dalam komitmen kita Fatih, kenapa sekarang kamu datang di saat aku mulai sadar bahwa aku sudah di takdirkan Allah menjadi istri kak Rahman, saat itu kamu tidak memberiku harapan sama sekali, dan sekarang kenapa kamu kembali, percuma Fatih, kita tidak akan bisa bersatu, aku berharap suatu saat Allah pertemukan kamu dengan perempuan yang jauh lebih baik dari aku," ucap Fatimah berderai air mata.
"Apa salah ku Fatimah, aku hanyalah pemuda yang berniat merantau ke negeri Turki untuk mencari ilmu, baru saja aku pergi , kabar pahit sudah menyapa ku, aku begitu hancur melihat fotomu dan laki-laki lain bersanding di depan penghulu, apa dosa ku hingga aku harus kehilangan kamu," keluh Fatih yang berlinang air mata.
"Kamu tidak salah Fatih, kita tidak salah, namun apa boleh buat, komitmen akan kalah dengan kehendak Allah, Allah lah yang mengizinkan ini terjadi, kamu dan aku harus bisa menerima ini," ucap Fatimah yang semakin menangis tersedu.
"Baiklah aku akan mencoba menerima kenyataan ini, tapi satu hal yang harus kamu tau Fatimah, aku hanya mencintai kamu, jika suatu saat suami mu tak menerima mu lagi, kembalilah padaku, aku akan menerima mu dengan tulus, meski kamu berstatus sebagai janda dari orang lain," ucap Fatih sambil menangis menatap Fatimah.
"Terimakasih Fatih, kamu laki-laki yang baik, tapi mungkin untuk perempuan lain yang baik pula," ucap Fatimah yang hatinya perih melihat kenyataan di depannya.
"Akulah yang lebih sakit Fatih, aku yang harus meninggalkan kamu dan harus berusaha mencintai kakak ku sendiri, aku berharap kamu bisa bahagia tanpaku," batin Fatimah menatap Fatih.
"Baiklah Fatimah, aku menerima Jawaban mu ini, aku tidak akan mengganggu kehidupan mu lagi, sampai jumpa di suatu saat jika Allah mengizinkan, Assalamualaikum," ucap Fatih yang kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
"Waalaikumussalam," jawab Fatimah yang semakin deras air matanya.