My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
35. Makam


__ADS_3

Ketika Ayah pergi ke toilet, Fatimah memanfaatkan waktu mengobrol dengan bunda untuk membahas tentang keluarganya.


"Bunda, Fatimah mau menanyakan sesuatu yang sangat penting," ucap Fatimah menatap bunda.


"Apa sayang?" tanya bunda.


"Kata bunda orang tua kandungku sudah meninggal,jika itu benar aku ingin tau dimana makamnya Bun," ucap Fatimah dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Maafin bunda Fatimah, bukan maksud bunda untuk membohongi kamu selama ini, tapi bunda takut kamu sedih," ucap bunda mengelus kepala putrinya.


"Nggak, ini bukan salah bunda, aku cuma mau tau nama orang tua kandungku dan dimana makamnya Bun," tutur Fatimah yang berharap ziarah ke makam orang tua kandungnya sebelum ia pergi.


"Sebentar ya," ucap bunda yang berjalan ke arah kamar untuk mengambil sesuatu.


Tak lama kemudian bunda kembali membawa sebuah Foto keluarga Fatimah 17 tahun lalu.


"Ini adalah Foto keluarga kalian Fatimah, ini satu-satunya yang bunda punya sebagai peninggalan dari almarhumah ibumu," jelas bunda sambil menunjukkan Foto itu pada Fatimah. Di Foto itu ada Fatimah yang masih bayi, Ayahnya, Ibunya dan juga seorang anak laki-laki. "Anak laki-laki ini siapa Bun?" tanya Fatimah yang memperhatikan anak laki-laki di foto itu.


"Itu adalah saudara kandungmu yang sesungguhnya Fatimah, tapi bunda tidak tau tentang anak itu, karena sebelum bunda bertemu ibumu, sudah ada yang lebih dulu mengadopsi kakak mu, dulu ibumu terlalu takut dengan penyakitnya, hingga ia tidak sanggup untuk membesarkan anak-anak nya," jelas Bunda yang matanya berkaca-kaca.


Fatimah merasa penasaran dan ingin di pertemukan dengan kakaknya jika masih hidup. "Bunda, dimana makam orang tua ku," tanya Fatimah


"Tempatnya tidak jauh dari sini, nanti jika kamu ingin ke sana, Rahman akan mengantar mu," tutur bunda.


***


Fatimah melamun di bangku teras rumah, "Ya Allah, aku berharap bisa bertemu kakak kandungku, jika memang ia masih hidup, dan jika engkau memanggilku ya Rabb, aku harap semua orang-orang yang ku sayangi tetap bahagia walau tanpaku," batin Fatimah yang melamun.


Tiba-tiba Sarah datang mengagetkan Fatimah, "Dicariin malah ngelamun di sini," ucap Sarah sambil duduk di samping Fatimah.


Fatimah terkejut dan terhenti dengan lamunannya, "Kak Sarah, ada apa kak?" sapa Fatimah mantap Sarah.

__ADS_1


"Fatimah, kok aku nervous ya, kamu kemaren- kemaren pas nikah juga gitu ya," tanya Sarah yang berharap saran dari Fatimah.


Mendengar itu Fatimah malah tersenyum mengingat dirinya yang dulu sangat membenci pernikahan itu, padahal sekarang justru ia sangat mencintai rumah tangganya, namun keadaan menuntunnya untuk pergi dengan penyakitnya.


"Siapapun pasti deg-degan saat akan menikah, karena pernikahan yang diharapkan hanya satu kali dalam hidup," jelas Fatimah pada kakaknya.


"Iya juga sih, pokoknya nanti pas nikah kamu harus selalu ada di samping aku ya," ucap Sarah sambil memeluk Fatimah.


"Iya kak," Jawab Fatimah yang menahan air mata, "Kak, mungkin di hari pernikahan itu adalah hari terakhir aku bersama kakak," batin Fatimah.


***


Keesokan hari,


Fatimah dan Rahman menziarahi makam kedua orang tua Fatimah.


Fatimah yang menziarahi makam kedua orang tuanya itu tidak kuasa menahan air matanya seolah ia mengadukan seluruh rasa sakitnya, "Ayah, ibu, putrimu mungkin akan segera menyusul," batin Fatimah berderai air mata.


"Sayang, udah ya jangan nangis, kamu punya keluarga yang sangat menyayangi kamu saat ini, aku akan menjaga kamu sampai ujung hayat ku," ucap Rahman sambil memeluk Fatimah.


Fatimah tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menangis di pelukan Rahman.


***


Malam itu Rahman dan Fatimah makan malam bersama, tiba-tiba kata-kata Fatimah mengagetkan Rahman, "Kak, kalau suatu saat kamu mau nikah lagi, aku nggak pa pa kok," ucap Fatimah yang tiba-tiba memulai topik yang aneh bagi Rahman.


"Astaghfirullah Fatimah, kok tiba-tiba kamu ngomongin itu sih, aku nggak akan pernah menikahi perempuan lain," tegas Rahman dengan serius.


"Kalau aku lebih dulu di panggil sang pencipta, apa kamu juga akan setia menduda?" tanya Fatimah


"Kok kamu bahas gituan sih Sayang, intinya kamu satu-satunya wanita dalam hidupku," tegas Rahman menatap Fatimah.

__ADS_1


Fatimah merasa sakit di bagian kepala, ia berusaha menutupi dari Rahman, "Kak, aku udah selesai makan, aku duluan ke kamar aku ya," ucap Fatimah yang langsung berjalan ke kamarnya.


Fatimah menahan rasa sakitnya, karena tidak mau membuat Rahman khawatir.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Fatimah membuka pintu itu, ternyata yang datang adalah Lilis. "Kok kamu bisa ke sini malam-malam begini?" tanya Fatimah yang kaget melihat Lilis tiba-tiba masuk ke kamarnya.


Fatimah langsung mengunci kembali pintu kamarnya.


"Aku tau kamu pasti kesakitan kan Fatimah, aku nggak berhenti mikirin kamu tau, ini aku bawain obat dari dokter yang kemarin, ini cuma berfungsi untuk mengurangi rasa sakit kamu," ucap Lilis sambil memberi obat itu pada Fatimah.


"Makasih ya Lis, kamu satu-satunya orang yang tau keadaan ku, aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu," ucap Fatimah pada Lilis.


"Kamu sahabat aku Fatimah, udah pasti aku jagain kamu, oh ya gimana keputusan kamu, kamu mau dioperasi?" tanya Lilis dengan serius.


"Aku akan pergi dari kehidupan Rahman dan keluarga angkat ku," ucap Fatimah


"Maksud kamu? kamu mau pergi kemana Fatimah?" tanya Lilis yang penasaran.


"Aku harus meninggalkan mereka, aku udah janji sama Bu Sofia, kalau aku tetap bersama kak Rahman, dia akan membocorkan rahasia tentang penyakit ku, dia memberiku syarat, jika aku pergi dari kehidupan Rahman maka dia akan menjaga rahasia ini," jelas Fatimah panjang lebar.


"Sofia siapa sih? biar aku yang bicara sama dia," cetus Lilis yang kesal.


"Jangan Lis, lagi pula dia benar kok, jika aku tetap berada di sisi kak Rahman, mungkin itu akan merusak nama baiknya, dia itu laki-laki terpandang, tidak pantas memiliki istri seperti ku," ucap Fatimah berderai air mata.


Lilis tak tau lagi harus berkata apa, "Terserah kamu deh, yang jelas aku nggak akan biarin si Sofia itu gangguin kamu," tegas Lilis.


"Aku akan pergi jauh, tapi aku nggak tau harus kemana," keluh Fatimah.


"Kamu harus segera di tangani dokter Fatimah, aku nggak mau kondisi kamu semakin memburuk, kamu harus tetap berobat, aku akan bawa kamu ke salah satu rumah sakit terbaik, kebetulan rumah bude ku di dekat itu," tutur Lilis yang menawarkan bantuan pada Fatimah.


"Makasih ya Lis, aku benar-benar banyak berhutang budi sama kamu," ucap Fatimah memeluk Lilis.

__ADS_1


__ADS_2