My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
42. Mencoba setuju


__ADS_3

Malam hari,,


Usai sholat isya, Rahman mencoba menenangkan diri dengan memperbanyak membaca Al-quran, namun tak bisa di pungkiri, hatinya masih menuntunnya untuk memikirkan Fatimah.


Tiba- tiba ia teringat dengan Fatimah yang akan menikah dengan Fatih. Tak henti ia meresahkan itu, padahal kenyataannya Fatih bukan akan menikah dengan Fatimah melainkan dengan anak sahabat papanya.


Tiba-tiba hp Rahman berdering, ia mengangkat telpon itu yang ternyata dari Sofia.


"Halo, ada apa Sofia," tanya Rahman.


"Aku di depan rumah kamu," ucap Sofia dan mematikan Telpon.


Rahman menatap dari jendela, dan benar saja,Sofia berdiri di tengah derasnya hujan.


Rahman buru-buru keluar membawa payung untuk Sofia.


"Kamu ngapain hujan-hujanan di sini," tanya Rahman yang menemui Sofia di depan rumahnya sambil membawakan payung.


"Aku mau mati aja Rahman," ucap Sofia singkat. Kata-kata Sofia membuat Rahman bingung,"Maksud kamu apa, mau mati kenapa Sofia?" tanya Rahman yang kebingungan.


"Rahman please, aku mau kamu menjadikan aku istrimu, kalau tidak aku akan dinikahkan dengan orang yang aku tidak suka sama sekali, orang tuaku memaksaku menikah dengan pilihannya, satu-satunya cara untuk menghindari itu adalah dengan menikah dengan kamu, karena kamulah yang dari dulu aku suka," pinta Sofia yang menangis di hadapan Rahman.


Rahman tidak tega melihat kesedihan Sofia, namun ia tak bisa mengiyakan permintaan Sofia itu.


"Maaf Sofia, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak bisa membalas perasaan kamu," jelas Rahman.


"Apakah kamu tidak kasihan sama aku Rahman, kalau kamu nggak mau, lebih baik aku mati saja," tegas Sofia yang tak henti menangis.


Rahman tidak akan pernah bisa melupakan Fatimah, namun seketika ia mengingat bahwa Fatimah akan menikah dengan Fatih.


"Jika Fatimah bisa berbahagia dengan orang lain, mungkin aku juga bisa mencobanya, mengalihkan patah hati ku pada pilihan yang lain, meski berat mungkin ini harus ku lakukan demi melupakan Fatimah," batin Rahman yang berubah pikiran.


"Baik, aku akan mencoba menerima kamu Sofia, pulanglah dulu, nanti kamu sakit kelamaan di tengah hujan," ucap Rahman dengan suasana hati yang sangat ragu.

__ADS_1


"Serius," tanya Sofia.


"Iya," jawab Rahman singkat.


"Terimakasih banyak Rahman, aku berjanji akan menjadi istri yang baik dan selalu patuh padamu," tutur Sofia.


Sofia pun pulang dengan kebahagiaannya karena ia berhasil mengambil hati Rahman. Ia merasa usahanya selama ini tidak sia sia.


Sementara Rahman di rumahnya sangat kacau pikiran nya. Ia memaksakan diri menikahi Sofia padahal hatinya menolak.


"Kenapa kamu harus menikah dengan Fatih, kenapa kamu tak kunjung kembali," ucap Rahman dengan nada keras sambil melempar benda-benda yang ia lihat di meja, ia tak dapat mengontrol diri, sambil menangis Rahman sesekali menampar wajahnya sendiri.


***


Pagi itu Rahman menyampaikan niatnya itu pada Ayah dan bunda serta Sarah.


"Tidak! menikah itu bukan main-main, kamu belum bercerai dengan Fatimah meskipun Fatimah saat ini belum kembali," tegas Ayah yang menolak keras.


"Apa aku harus mencari Fatimah dan berlutut di hadapannya dulu," ucap Rahman yang berputus asa.


Rahman menunjukkan surat yang dulu Fatimah tinggalkan untuknya, yang berisi:


"Assalamualaikum kak, mungkin saat kamu membaca ini, aku sudah tidak di sampingmu, kak, janji tetaplah janji, ia harus di tepati, Jawaban ku tetaplah sama, aku tak bisa terlepas dari cinta pertama, aku harap kamu bisa menerima jawaban ku ini dengan lapang dada, karena kamu pun sepakat dengan janji kita yang bukan hanya sepihak saja, aku harap kamu tetap bahagia walau tanpaku, aku pasti akan lebih bahagia jika terlepas darimu, menikahlah dengan gadis lain yang sempurna untukmu, aku akan lega jika ada yang menggantikan ku di hatimu, tolong jangan cari aku kak, aku pergi untuk menenangkan diri dan mencari kakak kandungku yang terpisah saat aku bayi, salam untuk ayah bunda dan kak Sarah," -Fatimah


"Lihatlah ini bunda, Fatimah saja memilih pergi untuk laki-laki lain, ini adalah kemauannya, dia yang menyuruh ku menikah," tegas Rahman padahal hatinya amat berat untuk keputusan ini.


Ayah yang membaca surat itu hanya terdiam, hampir saja penyakitnya kambuh dibuatnya. Surat itu seolah menyakiti perasaan ayah dan bunda. begitupun Sarah yang tidak menyangka bahwa Fatimah sampai hati memberikan surat menyakitkan itu.


Ayah dan bunda tidak punya alasan lagi, hingga dengan putus asa ayah dan bunda membiarkan Rahman menikahi Sofia walau dengan berat hati.


Sakit hati yang di pendam Ayah dan bunda bukan main, mereka baru tau bahwa ternyata pernikahan Rahman dan Fatimah tidak seindah yang mereka bayangkan. Pastinya orang tua akan merasa bersalah ketika keputusannya untuk menikahkan anaknya malah berujung pilu dan sakit hati karena ditinggalkan.


***

__ADS_1


Fatimah mulai membaik kondisinya, ia mulai bisa dibawa jalan-jalan keluar. Kakaknya dokter Mahadi membawanya jalan-jalan ke sebuah taman agar Fatimah tidak bosan.


"Kak, apa aku boleh kembali ke keluarga angkat ku," tanya Fatimah sambil menatap dokter Mahadi.


"Tentu saja boleh Fatimah, tapi aku akan selalu menemani kamu, pokoknya aku harus pastikan kalau kamu baik-baik saja," tegas Mahadi pada adiknya.


"Beruntungnya aku punya kakak yang selalu sigap menjagaku, makasih ya kak," ucap Fatimah yang tersenyum.


Tiba-tiba telpon Fatimah berdering. Ia mengangkat telpon itu,


"Assalamualaikum ini dengan siapa ya?" sapa Fatimah di telpon.


"Ini aku Fatih, aku dapat nomor baru kamu dari Lilis," jawab Fatih.


"Ada apa Fatih,"tanya Fatimah.


"Seperti yang aku bilang kemarin, aku akan menikah Fatimah, Minggu depan aku akan menikah dengan seorang gadis yang merupakan anak dari sahabat papaku, apa kamu bisa hadir di acara itu?" tanya Fatih yang berharap Fatimah datang.


Sebelum menjawab itu, Fatimah meminta izin terlebih dahulu pada kakaknya dokter Mahadi.


"Kak, apa aku boleh menghadiri pesta pernikahan temanku?" tanya Fatimah pada Mahadi yang berada di sampingnya.


"Iya boleh, tapi aku akan ikut," tegas Mahadi.


Fatimah pun menjawab pertanyaan Fatih itu di telpon, "Iya insyaallah aku datang Fatih, selamat ya, aku harap kamu bahagia ya," ucap Fatimah yang berharap Fatih bisa melupakannya.


"Makasih ya, Assalamualaikum " ucap Fatih menutup telpon.


"Waalaikumussalam" jawab Fatimah.


"Itu telpon dari teman kamu ya?" tanya Dokter Mahadi.


"Iya kak, ini teman SMA ku, laki-laki bernama Fatih, mungkin nasibnya sama seperti aku, menikah muda demi kebahagiaan orang tua," lanjut Fatimah.

__ADS_1


"Bukannya kamu bilang kamu mencintai suami mu," tanya Mahadi. "Iya benar kak, tapi awalnya aku juga menolak keras pernikahan itu, tapi lama-kelamaan aku mulai sadar kalau suami ku itu sangat sempurna bagiku," jelas Fatimah yang mengingat Rahman.


__ADS_2