
Fatimah buru-buru turun dari mobil sebelum sampai ke hotel. Hari ini ia mulai bekerja. Supervisor housekeeping mengarahkan Fatimah untuk mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan.
***
Rahman yang selalu memikirkan Fatimah diam-diam memantau CCTV, dengan serius ia memperhatikan pergerakan Fatimah.
Di CCTV terlihat Fatimah yang mengangkat barang yang cukup banyak. tak butuh waktu lama, langsung saja Rahman menelpon supervisor housekeeping untuk melarang Fatimah mengangkat barang.
"Halo, selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu pak," sapa Supervisor.
"Housekeeping baru bernama Fatimah itu adalah orang yang dekat dengan saya, jangan buat ia kelelahan, jangan biarkan dia angkat-angkat barang," perintah Rahman pada Supervisor itu.
"Iya, baik pak, akan saya laksanakan perintah bapak," ucap Supervisor di telpon.
***
Fatimah yang fokus bekerja tiba-tiba di datangi supervisor, "Ada apa bu, apa kerjaan saya ada yang salah?" tanya Fatimah yang sedikit takut.
"Nggak ada Fatimah, saya cuma mau bilang, kamu tidak usah angkat-angkat barang, ini kerjaan housekeeping laki-laki, kamu kerjain yang lain aja," kata Supervisor itu, padahal baru saja ada Housekeeping perempuan yang lewat dari belakangnya sedang mengangkat barang-barang.
"Lah itu ada perempuan yang angkat barang Bu," Fatimah menunjuk salah seorang housekeeping yang sedang mengangkat barang.
"Pokoknya kamu patuhi aja perintah saya, saya atasan kamu," tegas Supervisor itu.
"Baik bu," jawab Fatimah yang merasa aneh.
Fatimah melanjutkan pekerjaannya. ia di perintahkan untuk mengantar makanan ke kamar 38. Dengan pelan Fatimah berjalan sambil memegang makanan.
dan lagi-lagi Rahman memerintahkan Supervisor melarang Fatimah mengantar makanan kepada klien. "Halo, jangan biarkan Fatimah ngantar ngantar makanan, kamu pikir dia pelayan,' perintah pimpinan lagi pada supervisor.
"iya baik pak," Supervisor merasa heran kenapa pimpinan perusahaan memperdulikan hal sekecil ini, baru kali ini ia di telpon CEO Hotel itu.
***
__ADS_1
Supervisor menemui Fatimah,,
"Fatimah, kamu nggak perlu antar makanan kemana-mana, nanti biar yang lain aja yang ngantar," perintah supervisor.
"Mohon maaf Bu, kenapa nggak boleh ya, apa pekerjaan saya kurang bagus," ucap Fatimah yang mengoreksi diri.
"Ini perintah saya, kamu laksanakan saja," tegas Bu supervisor itu.
"Baik bu," jawab Fatimah dengan Patuh.
Kali ini Fatimah merapikan kamar 28, tiba-tiba Supervisor datang lagi menyuruh Fatimah keluar dari kamar itu.
"Kamu ngapain di sini Fatimah, saya kan udah bilang nggak usah kerjain yang susah-susah, kamu istirahat aja dulu, kayaknya kamu capek," kata Supervisor menatap Fatimah.
"Saya nggak capek kok Bu, kan saya belum ngerjain apa-apa, soalnya nggak enak sama teman-teman yang lain, masa saya santai-santai padahal mereka udah capek-capek kerja," ucap Fatimah pelan.
"Pokoknya ini perintah," tegas Supervisor.
Fatimah hanya bisa mondar-mandir karena tidak tahu harus mengerjakan apa, sedang supervisor lain memperhatikan Fatimah yang hanya berdiri di sana.
"Heh kamu kok nggak kerja, kamu pikir hotel ini punya bapak kamu, yang lain pada kerja tapi kamu malah nyantai di sini," Bu Sofia Supervisor baru itu memarahi Fatimah padahal mengawasi housekeeping seharusnya bukanlah urusannya.
Fatimah hanya menunduk takut. tak lama Supervisor Housekeeping (Bu Nadia) datang membela Fatimah.
"Maaf Bu Sofia, Fatimah ini adalah housekeeping dibawah naungan saya, mengawasi kinerja anak buah saya itu tanggung jawab saya," ucap Bu nadia pada Sofia.
"Bu Nadia, ini tidak bisa dibenarkan, saya bisa laporkan pada atasan kalau kinerja Bu Nadia tidak beres," ancam Sofia pada Bu Nadia.
"Silahkan Bu Sofia, lagian saya heran sama Bu Sofia, Bu Sofia masih baru di WH Hotel ini, tapi sudah berani mengurus pekerjaan saya," ucap Bu nadia pada Sofia. "Bu Nadia yang terhormat, jangan main-main sama saya ya, CEO hotel ini (pak Arif Rahman) adalah teman dekat saya," ujar Sofia dengan sombongnya.
"ini kan perempuan yang kemarin hampir tertabrak mobil kak Rahman, jadi dia kerja di sini juga," batin Fatimah yang memperhatikan Sofia.
"Saya tidak perduli Bu," ucap Bu Nadia sambil menarik tangan Fatimah untuk pergi meninggalkan Sofia di sana.
__ADS_1
"Bu ..maafin saya ya, ini semua gara-gara saya," ucap Fatimah pada Nadia yang masih seusia Rahman.
"Kenapa kamu yang minta maaf, lagian saya tuh emang kesal bangat sama si Sofia itu, padahal dia masih baru tapi udah bertingkah seolah dia itu paling berkuasa di sini," kata Bu Nadia yang kesal.
"Ya udah Bu, mendingan saya kerja aja dulu, nanti kalau Bu Sofia lihat saya nggak kerja, ibu bisa di omongin lagi," ucap Fatimah sambil menunduk.
"Kebetulan bentar lagi Jam makan siang, kamu mau nggak makan siang sama saya?" tanya Bu Nadia.
"Hah makan siang? nggak usah Bu, masa saya housekeeping baru makan sama atasan saya padahal masih hari pertama kerja," tolak Fatimah dengan sopan.
"Nggak pa pa tau, saya soalnya lebih suka makan kalau ada yang nemenin, kamu mau ya," bujuk Bu Nadia.
"Iya udah, boleh Bu," jawab Fatimah yang merasa tidak enak.
Fatimah heran dengan semua makanan yang disiapkan, seluruh menu sangat istimewa.
"Ayo dimakan Fatimah," ucap Bu Nadia, "apa ini nggak berlebihan Bu?" tanya Fatimah yang semakin merasa tidak enak.
"Kamu nggak usah bertanya pada saya kenapa kamu berbeda dengan housekeeping lain, saya rasa kamu yang paling tau jawabannya, justru sayalah yang harusnya bertanya kenapa kamu istimewa," ujar Bu Nadia yang tersenyum.
Fatimah hanya membalas senyum Nadia itu.
"Kebetulan saya orangnya tidak kepo, jadi saya tidak akan nanya nanya apapun sama kamu, cuma saya lagi butuh teman aja, kamu mau kan jadi teman ngobrol saya?" tanya Nadia menatap Fatimah.
"I-iya boleh Bu, saya mau," jawab Fatimah sambil mengambil sendok untuk makan.
Tiba-tiba bapak pimpinan datang dari arah belakang Fatimah, namun Fatimah tidak menyadari itu.
"Selamat siang pak," sapa Nadia pada pak Rahman.
"Boleh saya gabung?" tanya Rahman. "Silahkan pak," sambut Nadia sambil sedikit membungkuk.
Rahman pun duduk di sebelah Fatimah. Fatimah kaget melihat kedatangan Rahman.
__ADS_1
"Kak Rahman ngapain sih ke sini, orang orang pasti akan curiga kalau aku ada hubungannya sama dia," batin Fatimah.
Rahman menatap Fatimah yang sedari tadi menunduk. Nadia semakin heran kenapa CEO hotel tiba-tiba mau makan bersama Karyawan tanpa alasan yang jelas.