My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
9. Izin dari suami


__ADS_3

"Fatimah, jangan mengira bahwa pernikahan ini adalah petaka, Allah lah yang mengizinkan ini terjadi, belajarlah untuk menerima takdir, Fatimah..apa kamu tidak tahu, selama ini aku menjagamu dan mungkin kamu tidak pernah menyangka bahwa dulu aku tidak pernah mengizinkan mu memelukku ataupun mencium tangan ku itu semua karena aku takut tidak bisa mengontrol perasaan ku, dan aku tau bahwa bagaimana pun juga kamu bukanlah mahram ku dulu," jelas Rahman panjang lebar.


"Itulah yang membuat ku membencimu sekarang, karena aku lebih suka dengan kita yang dulu, aku adik mu dan kamu adalah kakak ku, bukan seperti saat ini, aku tidak mengerti bagaimana menghadapi mu setiap hari, aku sudah terbiasa menganggap mu sebagai kakak ku," ucap Fatimah sambil meneteskan air mata.


"Tidak apa Fatimah, aku bersedia menunggu sampai kamu terbiasa menganggap ku sebagai suami," tutur Rahman dengan lembut.


"Aku tidak akan pernah bisa," air mata Fatimah semakin deras.


"Sebentar lagi sampai, hapus air mata mu Fatimah, aku mohon jangan tunjukkan kesedihan mu di hadapan ayah dan bunda, jangan biarkan mereka bersedih dengan kondisi kita," tutur Rahman sambil menghapus air mata Fatimah dengan sebelah tangannya.


***


Begitu tiba di rumah orangtuanya Fatimah langsung memeluk erat sang ibunda. "Aku kangen sama bunda," ucap Fatimah sambil memeluk bunda. "Oh kangennya cuma sama bunda ya," sindir Sarah yang melirik Fatimah.


"Aku juga kangen sama kakak, sama ayah juga," Fatimah memeluk Sarah dan mencium tangan ayah bundanya.


Mereka berbincang-bincang di ruang tamu.


"Bagaimana Fatimah, semua baik-baik saja kan?" tanya bunda menatap putrinya. "Iya bunda, semua baik-baik saja kok, cuma sekarang ini aku sedang memikirkan tentang kuliah, bagaimana menurut ayah dan bunda kalau aku kuliah di luar negeri?" tanya Fatimah meminta saran ayah dan bundanya.


"Menurut bunda itu boleh saja, tapi untuk status kamu saat ini yang sudah memiliki suami sepertinya akan sulit nak," saran bunda pada Fatimah.


Rahman menatap Fatimah seolah tak ingin Fatimah pergi jauh.


"Jika itu memang impian kamu silahkan saja nak, tapi ingat , kamu tidak bisa pergi tanpa izin suami mu Rahman," ucap Ayah dengan serius.


"Mana mungkin si om galak ini bolehin aku ke luar negeri, percuma dong aku minta izin sama ayah bunda, gimana pun caranya aku harus membujuk kak Rahman,demi mewujudkan impian ku," batin Fatimah melirik suaminya Rahman.


"Kenapa harus ke luar negeri Fatimah, di sini kan juga banyak universitas yang bagus, gimana kalau kamu kuliah di universitas yang sama dengan kakak, biar kita bisa bareng tiap hari," usul Sarah pada Fatimah.


"benar, itu ide yang bagus Sarah," Rahman setuju dengan saran Sarah.


Fatimah pun terdiam tidak tau harus berkata apa lagi supaya ia dibolehkan kuliah di luar negeri.

__ADS_1


Fatimah dan Rahman pun pulang tanpa solusi yang menguntungkan bagi Fatimah.


Dalam perjalanan pulang Fatimah mencoba membujuk Rahman. "Kak.." panggil Fatimah menatap Rahman.


"Iya..kenapa," Rahman melirik Fatimah.


"Sebenarnya kamu itu suami yang baik hati, tampan, pengertian, dan menuruti kemauan istri. kak, please..kasih aku izin kuliah di Turki ya," pinta Fatimah dengan lembut.


"Coba kamu panggil aku pake panggilan 'Sayang' jangan panggil 'Kakak' lagi dong, sekarang kan aku suami kamu," tegas Rahman sambil tersenyum.


Dengan terpaksa Fatimah mencoba menarik nafas dan berkata,"Sa_sayang..aku minta izin kuliah di Turki ya," pinta Fatimah dengan nada lembut.


"Nggak kedengaran," Rahman tak kuasa menahan senyum.


"Sayang...aku minta izin kuliah di Turki," ucap Fatimah dengan keras.


Karena terlalu fokus pada Fatimah Rahman tiba-tiba hampir menabrak seorang perempuan. Rem mendadak membuat Fatimah hampir terbentur kepalanya.


"Maaf..maaf..," ucap Rahman pada Fatimah dan langsung keluar mobil untuk melihat kondisi wanita yang hampir di tabrak nya.


"Rahman...," wanita yang hampir tertabrak itu menatap Rahman.


"Sofia, ternyata kamu, maaf ya, kamu hampir tertabrak," ucap Rahman yang ternyata mengenal wanita itu. "Iya..nggak pa pa, lagian ini salah aku juga kok, tadi kurang hati-hati," Sofia tampak senang bertemu Rahman.


"Oh ya kamu ngapain di sini," tanya Rahman pada Sofia. "Aku lagi cari kerja, zaman sekarang susah ya cari kerja yang bagus, aku nggak seberuntung kamu, kamu waktu lulus kuliah udah langsung jadi penerus CEO di hotel ayah kamu, sementara aku udah dua tahun cari kerja belum ada yang cocok," kata Sofia melirik Rahman.


"Kebetulan di Hotel kami ada lowongan kerja, kamu mau?" tanya Rahman yang berniat membantu teman SMA nya itu.


"Iya aku mau, terimakasih ya, maaf merepotkan," Sofia tersenyum.


Sementara Fatimah memperhatikan gadis bernama Sofia itu dari dalam mobil. Fatimah membunyikan klakson mobil untuk memberi kode pada Rahman.


"Maaf Sofia, aku buru-buru, nanti kamu langsung ke White horse hotel aja, istri aku udah nunggu di mobil, aku duluan ya, Assalamualaikum," ucap Rahman berpamitan.

__ADS_1


"Hah istri? kok bisa?" batin Sofia yang sebenarnya dulu sangat menyukai Rahman.


Rahman kembali menyetir mobil.


"Maaf ya sayang kamu jadi nunggu," ucap Rahman mengelus kepala Fatimah.


"Perempuan itu lumayan cantik kok, kenapa kamu nggak nikah sama dia aja, kalian udah kenal lama kan atau jangan jangan itu pacar kakak?" tanya Fatimah sambil menatap Handphone nya.


"Kamu cemburu ya, sayang..itu bukan pacar aku, itu cuma teman SMA aku dulu, aku cuma mau bantu dia cari pekerjaan, emangnya salah," jelas Rahman dengan lembut.


"Siapa yang cemburu malah bagus kali, supaya aku bisa bebas," lanjut Fatimah dengan juteknya.


"Perempuan tadi itu namanya Sofia," jelas Rahman.


"Aku nggak nanya," Fatimah memalingkan wajahnya.


***


Rahman sedang sholat isya di mesjid.


Fatimah amat kesal dengan sikap Rahman yang menolak keras ia kuliah di Turki. Untuk itu Fatimah mencoba membalasnya dengan caranya sendiri.


Fatimah memasak di dapur, Bi Siti datang untuk membantu, "Biar saya bantu nyonya, ini kan pekerjaan saya," tutur Bi Siti pada Fatimah.


Nggak usah bi, makan malam biar urusan aku, bi Siti kerjain yang lain aja dulu," kata Fatimah sambil fokus mempersiapkan hidangan istimewa untuk Rahman.


10 sendok garam bukanlah sedikit untuk SOP sayur yang hanya semangkok. "Rasain kamu suami tua, makanya jadi suami jangan nyebelin," batin Fatimah.


"Sayang..." panggil Rahman yang baru pulang dari mesjid.


"Iya ..aku di dapur..bentar ya, soalnya aku lagi siapin makan malam spesial untuk kamu," Fatimah bersuara dari arah dapur.


"Maasyaa Allah istriku siapin makan malam," Rahman tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2