
Dokter Hadi melihat Fatimah yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki. Buru-buru dokter Hadi menemui Fatimah, karena ia adalah kakak yang selalu siaga menjaga adiknya itu.
Dokter Hadi berdiri di depan Fatimah, seolah menghalangi Rahman berbicara dengan Fatimah, "Kamu siapa, ada urusan apa sama Fatimah?" tanya dokter Hadi. "Justru saya yang harus nanya, kamu siapa, datang datang langsung menghalangi pembicaraan saya dengan istri saya," tegas Rahman yang tidak tau bahwa dokter Hadi adalah kakak kandung Fatimah.
"Oh jadi ini suami Fatimah, suami yang tidak bertanggung jawab, yang membiarkan istrinya menahan sakit sendirian, terlantar tak berdaya menjerit kesakitan," cetus dokter Mahadi yang menatap tajam Rahman.
Fatimah berusaha menenangkan dokter Hadi, "Udah kak, aku kan udah berulang kali cerita sama kakak, kalau ini semua salah ku," ucap Fatimah.
"Fatimah, apa ini kakak kandung kamu?" tanya Rahman. "Iya kak," jawab Fatimah singkat.
Rahman dengan spontan berlutut, "Maafin saya, saya tau saya sangat bodoh, silahkan hukum saya untuk menebus kesalahan besar itu, saya memang suami yang tidak bertanggung jawab, saya sangat menyesal," ucap Rahman yang berlutut di depan dokter Mahadi.
Fatimah yang melihat itu tidak tega, " kak, kamu nggak salah, kamu adalah suami terbaik, jangan pernah ucapkan Kalimat itu lagi," ucap Fatimah sambil mengelus wajah Rahman.
"Berdirilah, saya yang minta maaf, tadi saya hanya emosi, sekarang saya sadar, justru kamu ini laki-laki yang sangat bertanggung jawab, saya yang berhutang budi sama kamu dan keluargamu karena selama ini telah memperlakukan Fatimah dengan baik, entah bagaimana cara saya membalas itu," ucap dokter Mahadi sambil menepuk punggung Rahman.
"Terimakasih, saya berjanji setelah ini saya akan selalu siaga menjaga Fatimah, saya tidak akan membiarkan ini terulang kembali, saya tidak ingin kehilangan Fatimah lagi," tutur Rahman pada dokter Hadi.
"Saya percaya itu, karena memang kelihatan dari cara kamu memperhatikan Fatimah, saya yakin kamulah laki-laki yang tepat untuk adik saya," ucap dokter Hadi.
Fatimah membantu Rahman berdiri yang tadinya ia berlutut. "Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu dengan Sofia kak?" tanya Fatimah.
"Jangan sebut nama itu lagi Fatimah, atau kamu mau aku memberinya balasan dari perbuatannya," tegas Rahman.
Fatimah mengelus wajah Rahman sambil menatapnya dengan haru, "Membalas dia tidak akan mengembalikan kita ke masa lalu kak," ucap Fatimah.
Rahman memeluk istrinya, "Itulah yang membuatmu selalu sempurna di mataku, akhlak mu selalu meluluhkan hati ku Fatimah," ucap Rahman yang memeluk erat Fatimah.
Lilis yang melihat itu merasa bahagia, karena usahanya tidak sia-sia, "Akhirnya, aku melihat kamu bahagia lagi Fatimah," batin Lilis yang senang melihat sahabatnya itu.
__ADS_1
Fatih tak sengaja melihat Fatimah dan Rahman dari jauh, "Syukurlah, akhirnya kamu kembali bersamanya Fatimah, aku bahagia untuk mu," batin Fatih sambil tersenyum melihat Fatimah dari jauh.
***
Malam itu Fatimah, Rahman, Lilis serta dokter Mahadi sama-sama pergi ke rumah ayah dan bunda.
Rahman sedari tadi tak melepas tangan Fatimah dari genggamannya. Dokter Mahadi yang melihat itu hanya tersenyum sambil menyetir mobil. Lilis yang duduk di depan juga merasa senang melihat Rahman dan Fatimah kembali lagi.
"Oh ya, besok saya harus pulang, pekerjaan saya tidak bisa terlalu lama di tinggalkan, lagi pula sekarang Fatimah sudah ada yang jagain," tutur dokter Mahadi.
"Aku ada yang jagain, tapi Lilis siapa yang jagain," canda Fatimah.
Lilis yang duduk di depan salah tingkah karena ucapan Fatimah. "Ih, apaan sih Fatimah, mentang-mentang kamu udah nikah, kamu mau ledekin aku, awas ya, nanti aku bongkar rahasia kamu sama kak Rahman," ancam Lilis.
"Rahasia apa?" tanya Rahman yang penasaran.
"Rahasianya adalah..setiap malam Fatimah diam-diam menangis sambil menatap Foto kak Rahman, dia selalu mikirin kak Rahman," jelas Lilis yang membeberkan kebiasaan Fatimah.
Rahman tersenyum mendengar itu, "O..jadi gitu, tapi kok sekarang Fatimah nya jual mahal ya Lis," tanya Rahman pada Lilis seolah menyudutkan Fatimah.
"Ya iyalah jual mahal, masa iya jual murah," canda Lilis sambil tertawa.
"Udah deh Lis, kamu mau aku cubit lagi," ucap Fatimah yang melototi Lilis.
"Nggak usah cubit Lilis cubit aku aja," ucap Rahman yang menghadapkan wajahnya pada Fatimah.
"Kalian ngeselin bangat sih kak," cetus Fatimah yang menahan senyumnya.
Sesekali dokter Hadi melirik Lilis yang amat bahagia. "Kenapa ya, anak ini hatinya begitu baik, aku benar-benar kagum dengan sifat baiknya pada Fatimah, dan sekarang dia ikut bahagia melihat Fatimah," batin Mahadi sambil melirik ke arah Lilis.
__ADS_1
***
Akhirnya sampailah di rumah Ayah dan bunda, dan kebetulan di rumah itu sedang ada Sarah dan juga suaminya Rico.
Kehadiran Fatimah benar-benar membawa kebahagiaan bagi keluarga ayah dan bunda.
"Fatimah, akhirnya kamu kembali sayang, bunda hampir putus asa mencari kamu," ucap bunda sambil memeluk Fatimah dengan tangisnya.
Begitupun Ayah yang sangat bahagia dengan kedatangan putrinya. Sarah pun memeluk Fatimah,"Dasar bocah nakal, masih aja main kabur kaburan, kalau ada masalah itu di hadapi bukan di hindari," ucap Sarah sambil memeluk adiknya itu.
"Aku minta maaf kak," ucap Fatimah menatap Sarah yang tak henti menangis haru.
"Mulai sekarang jangan pernah lakukan itu lagi ya, kamu nggak kasihan sama aku, terutama sama kak Rahman, setiap hari dia kayak orang gila tau, mikirin kamu dan mencari kamu," lanjut Sarah sambil melirik Rahman. "Oh jadi ada yang hampir gila nih," canda Fatimah menatap Rahman.
"Iya dia kemaren emang udah gila, cuma sekarang udah pulih lagi, karena obatnya sudah di depan mata," canda Sarah menatap Fatimah.
"Oh ya, ini siapa Fatimah?" tanya Bunda sambil menatap Dokter Mahadi.
"Inilah kakak kandungku yang terpisah dengan ku sejak aku bayi bunda," tutur Fatimah.
Dokter Hadi mengambil sesuatu dari sakunya, ia memperlihatkan fotonya dengan sang ibu ketika masih kecil dulu. "Inilah ibuku, yang telah banyak merepotkan keluarga bunda," ucap Mahadi sambil menunjukkan foto itu.
"Jadi kamu kakak kandung Fatimah, Syukurlah kalian sudah bertemu kembali, ternyata kalau di lihat-lihat kalian memang mirip," tutur Ayah pada Mahadi.
"Bolehkan kalau saya panggil bapak dan ibu dengan sebutan ayah dan bunda?" tanah Mahadi.
"Tentu saja boleh nak," ucap bunda.
"Terimakasih ayah, bunda, saya tidak tau lagi bagaimana cara saya menebus rasa terimakasih saya, karena ayah dan bunda telah membesarkan adik saya dengan penuh kasih sayang," ucap Mahadi dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak usah segitunya, kami memang sangat menyayangi Fatimah, makanya kami menikahkan dia dengan putra kami, berharap Fatimah akan selalu bersama kami," ucap Ayah sambil menepuk pundak Mahadi.