
Malam itu Fatimah mengobrol dengan Kakaknya dokter Mahadi."Kamu siap untuk di operasi kan Fatimah?" tanya Mahadi pada adiknya Fatimah.
"Bismillah kak, aku siap, dengan adanya kakak di sini aku lebih percaya diri untuk melakukan operasi ini," tutur Fatimah.
***
Keesokan hari,
Dimulai hari itu, Fatimah mulai di tangani serius oleh kakaknya sendiri. Di bantu dengan tenaga medis di rumah sakit terbaik itu, Fatimah pun menjalankan operasi di ruang bedah.
Lilis yang menunggu sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu, Lilis hanya bisa berdoa semampunya agar operasi Fatimah berjalan dengan baik.
***
pagi itu Rahman tak bisa bekerja, ia hanya terbaring di tempat tidur, demam tinggi membuatnya tak bisa beraktivitas. ia hanya bisa menyebut nama Fatimah setiap hari.
Sarah dan Rico menemui Rahman di rumahnya.
Melihat kondisi Rahman yang amat buruk, Sarah langsung menelpon dokter.
"Bukan cuma kakak yang sedih saat Fatimah pergi, aku juga sedih kak, ayah dan bunda juga sedih, tapi harusnya kamu juga tidak perlu membahayakan diri sendiri, justru kamu harus bisa jaga kesehatan supaya kita bisa mencari Fatimah bersama-sama kak," ucap Sarah yang menatap sedih kondisi Rahman yang lemah.
"Aku cuma mau Fatimah ada di sini," ucap Rahman pelan sambil terbaring lemah di tempat tidur.
Rico hanya terdiam tak mau ikut campur urusan Sarah dengan kakaknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian dokter pun tiba di rumah Rahman.
Dokter memeriksa Rahman. "Gimana kondisi kakak saya dok?" tanya Sarah pada dokter.
"Pak Rahman ini hanya demam biasa, namun mungkin beban pikirannya menambah rasa sakitnya hingga ia terkesan jauh lebih parah dari orang yang biasa demam," jelas Dokter dan kemudian meresepkan obat untuk Rahman.
"Tuh kan kak, makanya kakak itu harus kuat, jangan berlarut dengan kesedihan ini, kakak harus bangkit, kita berjuang sama-sama mencari Fatimah, aku juga sangat sedih merindukan Fatimah, tapi aku sadar kalau aku harus tetap sehat supaya bisa mencari Fatimah," tutur Sarah yang menasehati Rahman.
***
Dan pada akhirnya saat yang di tunggu Lilis pun tiba dokter keluar dari ruang operasi. "Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, dan pada saat pasien membutuhkan donor darah, langsung ada yang bisa mendonorkan yaitu Dokter Hadi," jelas Dokter itu.
Hari demi hari berlalu, Fatimah di jaga dan di rawat dengan ketat oleh kakaknya Dokter Mahadi. Pemulihan nya membutuhkan waktu yang cukup lama, namun beruntungnya ia mempunyai kakak yang sangat bertanggung jawab dengan keselamatannya. Dokter Hadi memberikan semua Fasilitas yang di perlukan Fatimah untuk pemulihan, bahkan Fatimah tidak pernah makan sendiri, melainkan selalu di bantu oleh suster yang merawatnya.
2 bulan kemudian,,
"Fatimah, gimana kondisi kamu, apa kamu udah baikan?" tanya Lilis yang perhatian pada sahabatnya itu.
"Aku sudah jauh lebih baik Lis, aku nggak nyangka bisa sembuh dari penyakit ganas yang menimpa ku, terimakasih ya Lis, kamu udah banyak berkorban untuk aku," ucap Fatimah dengan matanya yang berkaca-kaca sambil memeluk Lilis.
"Iya sama-sama, aku bahagia sekarang, karena kamu udah kembali normal," ucap Lilis.
"Aku baru sadar, sebenarnya penyakit ku ini adalah cara Allah untuk mengujiku, dan mempertemukan ku dengan kakak kandungku," tutur Fatimah.
"Alhamdulillah, sekarang kamu sudah ada yang jagain, tapi Fatimah, sebenarnya ada yang mau aku omongin, aku minta maaf banget, tapi kayaknya aku harus kembali dulu, aku khawatir kalau aku akan bermasalah dengan kuliahku,nggak pa pa kan kalau aku pergi untuk melanjutkan kuliah ku, sesekali aku akan datang ke sini untuk melihat kamu," jelas Lilis dengan serius.
__ADS_1
"Nggak pa pa Lis, harusnya dari kemaren-kemaren kamu kembali aja, agar kuliah kamu tidak terganggu, maaf ya Lis gara-gara aku kamu harus berkorban banyak hal," ucap Fatimah yang merasa bersalah.
"Jangan minta maaf mulu, aku sayang banget sama kamu, aku akan lakuin yang terbaik untuk kamu, karena kamu pun selalu memperlakukan aku dengan baik," kata Lilis dengan matanya yang berkaca-kaca.
***
Setelah Lilis pergi, Fatimah kembali dengan rutinitas nya selama dua bulan terakhir ini, ia selalu menatap foto Rahman yang ia bawa dari rumah Rahman dulu. "Aku nggak tau kenapa sampai saat ini rasa rindu aku tidak pernah berkurang kak, hati ku selalu menuntunku untuk kembali pulang," batin Fatimah yang membayangkan Rahman.
tiba-tiba Dokter Hadi menghampiri Fatimah, "Aku selalu melihat kamu menatap foto laki-laki itu, sebenarnya laki-laki yang ada di foto itu siapa?" tanya dokter Hadi pada adiknya.
"Sebenarnya ini adalah foto kakak angkat ku, namun saat aku lulus SMA aku menikah dengannya karena itu adalah amanah dari almarhumah ibu kita," jelas Fatimah menatap Dokter Hadi.
"Kenapa kamu baru bilang kalau kamu udah nikah Fatimah?" tanya dokter Hadi.
"Maaf kak, aku baru ngasih tau kakak sekarang," ucap Fatimah.
"Tapi kenapa suami kamu tidak menemani kamu untuk menyembuhkan penyakit mu, dimana dia saat kamu dalam kondisi lemah, laki-laki macam apa yang membiarkan istrinya pergi sendiri untuk mencari solusi dari penyakitnya," tegas Mahadi yang kecewa dengan suami Fatimah.
"Nggak kak, suami aku tidak sejahat itu, akulah yang diam-diam pergi dari rumah, aku hanya meninggalkan selembar kertas sebagai pertanda bahwa aku pergi jauh, kak Rahman tidak salah apa pun," tutur Fatimah membela Rahman di hadapan Hadi.
"Namanya Rahman? tapi kenapa kamu lari Fatimah," tanya Hadi yang makin penasaran. "Iya namanya Rahman, laki-laki yang sangat menjaga ku dengan baik, tapi aku pergi meninggalkannya karena aku khawatir akan merepotkan nya terlalu banyak, dia sudah menjaga ku sejak aku di adopsi oleh kedua orang tuanya, itulah mengapa ayah dan bunda menikahkan aku dengan kakak angkat ku, alasannya supaya aku tetap bersama mereka," jelas Fatimah.
"Benarkah? berarti bagaimana pun juga aku harus berterima kasih pada keluarga yang sudah menjagamu dan memperlakukan mu dengan baik, aku berhutang banyak pada keluarga yang sudah berbaik hati menerima mu," ucap Hadi yang amat bersyukur karena masih ada yang tulus menjaga Fatimah selama ini.
"Kak, apa saat ini aku sudah bisa keluar rumah?" tanya Fatimah yang berharap bisa kembali.
__ADS_1
"Belum Fatimah, kamu belum pulih sepenuhnya, kamu harus tetap di sini, hingga kamu benar-benar pulih total, aku nggak mau kamu kenapa-napa lagi," tegas Hadi yang menjaga adiknya.