My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
25. Jebakan yang menguntungkan


__ADS_3

Tak di sangka ternyata Sarah mengintip pertengkaran kecil antara Rahman dan Fatimah itu.


Begitupun Rico yang berdiri di belakang Sarah memperhatikan pertengkaran lucu itu.


"Ih ngapain kamu di sini," tegur Sarah yang baru menyadari ternyata Rico ada di belakangnya.


"Emang kenapa, saya kan sekretaris pak Rahman," ucap Rico membela diri.


"Terserah deh, kamu mau nggak bantuin aku?" tanya Sarah yang berharap Rico mau bekerja sama dengannya.


"Bantu apa?" Rico penasaran.


"Bantu aku untuk membuat Fatimah dan Kak Rahman jadi akur," jelas Sarah pada Rico.


"Nggak ah, bukannya kamu selalu berburuk sangka sama saya," ujar Rico yang jual mahal.


"Oh ya udah," ucap Sarah yang merajuk.


"Iya..iya saya mau, nggak usah pasang wajah masam kayak gitu," tegur Rico sambil tersenyum.


***


Rahman dan Fatimah makan bersama di Restoran ternama. "Kok kita makan disini sih kak, bisa-bisa nanti harga makanan di sini sama dengan gaji aku satu bulan," cetus Fatimah menatap Rahman.


"Aku nggak nyuruh kamu bayarin makan Fatimah, kamu nggak usah mikirin harga, tugas kamu cuma senyum, makan, dan berkata lembut sama aku," jelas Rahman pada Fatimah.


"Terserah deh, kak aku toilet dulu ya," ucap Fatimah yang langsung pergi menuju toilet.


Tak lama kemudian Sofia tak sengaja melihat Rahman di situ dan langsung menemuinya.


"Hai..kamu makan di sini juga ya," sapa Sofia dengan ramah. "Iya, kamu mau makan juga," tanya Rahman


"Iya, tadinya sih mau makan sendiri, tapi karena ada kamu di sini, kenapa nggak makan berdua aja," kata Sofia yang bermaksud untuk bergabung.


Pelayan mengantar makanan ke meja itu.

__ADS_1


"Lah kok makanannya ada dua Rahman, apa kamu sengaja siapin ini untuk aku?" tanya Sofia yang terlalu percaya diri.


"hah.." Rahman bingung harus menjawab apa.


Fatimah yang baru kembali dari toilet melihat Sofia yang duduk di samping Rahman. Fatimah tidak lagi menemui Rahman karena takut ketahuan bahwa ia adalah istri Rahman. Fatimah dengan rasa yang sedikit kesal melihat Rahman dan Sofia makan bersama di depannya dan langsung pergi dari restoran itu.


Rahman melihat kepergian Fatimah, namun ia tak mengejar karena takut Sofia akan curiga.


"Lagi liatin apa sih," tanya Sofia sambil menoleh ke belakang. "Nggak ada, nggak lagi liatin apa-apa kok," jawab Rahman yang masih memikirkan Fatimah.


***


Usai makan dengan Sofia, Rahman buru-buru kembali ke WH Hotel untuk mencari Fatimah.


Rahman menemui Fatimah yang sedang membersihkan kaca. "Maaf ya Fatimah, gara-gara kedatangan Sofia kamu nggak jadi makan bareng aku, oh ya ini aku bawain kamu makanan, kamu pasti belum makan kan?" tanya Rahman yang memperhatikan Fatimah.


"Nggak usah kak," cetus Fatimah cuek namun hampir saja air matanya menetes."Ya Allah kok hatiku perih ya, aku nggak lagi cemburu kan? tapi kok aku kesal ya sama kak Rahman dan Sofia" batin Fatimah yang lanjut Bekerja.


Rahman menghentikan Fatimah bekerja dengan menahan tangannya. "Lepas kak," Ucap Fatimah sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Nggak, aku nggak akan lepas sebelum kamu makan dulu," tegas Rahman menatap Fatimah.


"Oke, kalau kamu nggak mau makan, aku anggap kamu lagi cemburu,itu artinya kamu mencintai aku, dan perjanjian untuk menceraikan kamu setelah dua bulan telah gugur, karena ternyata kamu memang mencintai aku," jelas Rahman yang mengancam Fatimah.


"Ya udah iya..iya..aku makan," ucap Fatimah yang mengalah sambil mengambil makanan itu dari tangan Rahman.


Fatimah duduk di bangku yang ada di depannya, dengan membaca doa ia mulai memakan makanan itu.


Rahman memperhatikan istrinya yang sedang makan sambil berkata, "Dasar cantik, dari dulu nggak berubah, malah makin manis," ucap Rahman yang tak henti tersenyum.


Fatimah yang makan jadi salah tingkah dibuatnya. "Apaan sih liat liat, aku nggak bisa makan kalo gini caranya," tegas Fatimah yang berhenti makan.


"Oke-oke, aku akan melihat ke arah lain supaya kamu fokus makan," kata Rahman sambil mengalihkan pandangannya.


Fatimah tersenyum malu, "Kok aku jadi gini ya, kenapa hatiku tiba-tiba aneh, tapi kok aku senang sih di puji sama kak Rahman," batin Fatimah yang tersenyum.

__ADS_1


***


Sarah dan Rico sudah merencanakan sesuatu untuk Rahman dan Fatimah, dengan bertahap mereka melakukan rencana itu.


Sarah menemui Fatimah yang baru selesai makan, "Fatimah..kamu lihat kak Rahman nggak?" tanya Sarah menatap Fatimah. "Baru aja pergi ke ruangannya, emang ada apa kak?" tanya Fatimah penasaran.


"Nggak, nggak ada apa-apa kok, oh ya tadi ada housekeeping namanya Fita, dia itu sakit jadi dia izin pulang sama Bu Nadia, padahal dia lagi ditugaskan untuk membersihkan kamar 27, karena besok kamar itu akan di tempati tamu terhormat," jelas Sarah dengan serius.


"Ya udah nggak pa pa biar aku yang kerjain kak," usul Fatimah. "Oh nggak usah, nanti kamu capek," kata Sarah yang pura-pura menolak.


"Nggak pa pa kak, aku udah biasa kok," ujar Fatimah dan langsung pergi ke kamar 27.


"Yes..tahap pertama berhasil," ucap Sarah yang amat senang. buru-buru ia menelpon Rico untuk memberi kabar. "Assalamualaikum, ada apa Sar," sapa Rico di telpon. "Rencana tahap awal sudah berhasil, Fatimah sudah masuk ke kamar 27, kak Rahman gimana? apa dia juga udah ke sana?" tanya Sarah dengan serius.


"Kamu tenang aja, semuanya akan beres," ucap Rico dan mematikan telpon.


***


Rahman yang sedang mengecek berkas di ruangannya dikagetkan dengan kedatangan Rico yang seolah panik.


"Pak Rahman.." panggil Rico dengan raut wajah panik. "Iya .ada apa?" tanya Rahman.


"Itu pak, Fatimah ..."


"Fatimah kenapa?" tanya Rahman yang khawatir.


"Fatimah di kamar 27, tapi saya lihat tadi dia kayak lemas gitu loh pak, Fatimah sakit ya pak?" tanya Rico seolah khawatir.


Tak butuh berpikir lama, Rahman langsung berlari ke kamar 27 untuk memastikan kondisi Fatimah.


***


Fatimah yang membereskan tempat tidur kaget melihat Rahman yang tiba-tiba datang dengan ngos-ngosan.


"Kamu kenapa kak?" tanya Fatimah sambil menatap Rahman di pintu yang perlahan berjalan masuk ke dalam kamar itu.

__ADS_1


"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Rahman sambil memegang wajah Fatimah. "Kakak apaan sih nggak jelas banget," ucap Fatimah yang bingung.


Sarah dan Rico yang berdiri di luar buru-buru mengunci kamar itu. "Sar..apa ini nggak berlebihan?" tanya Rico yang sedikit takut karena telah menjebak bos sendiri. "Kamu tenang aja, aman kok, jabatan kamu sebagai sekretaris nggak akan terancam," kata Sarah menenangkan Rico.


__ADS_2