
Fatimah menangis di pangkuan Lilis Sahabat nya itu. bukannya belajar tapi mereka malah curhat curhatan.
di pangkuan Lilis , Fatimah meluapkan kesedihannya, "Lis..aku harus gimana, aku nggak mau melukai kak Rahman, tapi aku juga tidak sanggup melihat Fatih terpuruk karena aku," keluh Fatimah yang menangis.
"Kamu yang tenang ya, jangan terlalu sedih dalam situasi ini, kita bisa cari solusinya," kata Lilis sambil menepuk-nepuk punggung Fatimah.
"Solusi apa? aku udah nggak tau lagi harus gimana," kata Fatimah yang berputus asa.
"Keputusan kamu ini sudah benar Fatimah, dengan begini Fatih tidak lagi berharap sama kamu, karena jika kamu memberi harapan pada Fatih, mungkin itu akan lebih menyakitkan baginya karena terlalu berharap," tutur Lilis menenangkan sahabatnya itu.
"Iya juga sih, berarti aku harus berusaha menerima kenyataan ini?" tanya Fatimah yang meminta saran dari Lilis.
"Iya Fatimah, lagi pula aku percaya, cepat atau lambat kamu akan klepek-klepek sama kak Rahman," ucap Lilis sambil tersenyum.
"Oh ya, dua hari lagi kak Rahman akan pergi ke luar negeri, kamu mau nggak tinggal di rumahku untuk sementara waktu, lagian kan kamu juga sendiri di rumah ini,orang tua kamu kan lagi nggak di sini," pinta Fatimah pada Lilis.
"Ya mau lah, masa ia aku nolak, setiap hari kita bisa ngobrol, bisa cerita-cerita setiap malam, pasti seru deh," kata Lilis bersemangat.
***
Rahman menjemput Fatimah di rumah Lilis,
Fatimah dan Rahman berangkat pulang ke rumahnya, "Aku nggak telat kan?" tanya Rahman pada Fatimah yang sedari tadi hanya terdiam menghadap kaca mobil.
"Nggak," jawab Fatimah singkat.
"Kamu kenapa? dari tadi kayaknya ngelamun aja, ada masalah ya?" tanya Rahman menatap Fatimah.
"Nggak, cuma ngantuk," jawab Fatimah.
"Ya udah kamu tidur aja," tutur Rahman menatap Fatimah.
Tak lama setelah itu Fatimah langsung tertidur di mobil. Rahman yang melihat itu tersenyum melihat istrinya yang tidur lelap.
Sesampainya di depan Rumah, langsung saja Rahman buru-buru menggendong Fatimah ke kamarnya. "Cantik," ucap Rahman sambil tersenyum memperhatikan Fatimah.
***
Keesokan hari,
Pagi itu Rahman mengantar Fatimah ke kampusnya, tak henti ia menatapi istrinya karena sebentar lagi ia akan pergi ke luar negeri yang mungkin akan memakan waktu beberapa Minggu.
"Kamu yakin nggak mau ikut aku ke Singapura," tanya Rahman sambil melirik kearah Fatimah.
__ADS_1
"Aku kan udah bilang kak, aku nggak bisa ikut, aku harus fokus kuliah," tutur Fatimah.
***
Satu hari kemudian,,
Rahman amat berat untuk meninggalkan istrinya itu, "Jaga diri baik-baik ya sayang, aku sudah sediakan bodyguard di depan rumah, kalau perlu sesuatu kamu bilang aja sama bi Siti, kalau kamu perlu biaya untuk perawatan, kamu bilang aja nanti aku transfer, kalau ada yang gangguin kamu, kamu bilang aja sama Bejo si bodyguard baru itu, kalau kamu kecapekan, nggak usah kerja lagi, kalau..."
"Kak..jangan lebai deh," ucap Fatimah menghentikan kalimat panjang Rahman.
"Jangan lupa selalu aktifkan HP kamu , karena aku akan selalu menghubungi kamu," pesan Rahman pada Fatimah.
"Iya, oh ya Lilis boleh temani aku di sini kan kak?" tanya Fatimah yang meminta izin.
"Iya boleh, biar kamu nggak kesepian," ucap Rahman.
***
Malam itu Fatimah dan Lilis sedang asyik menonton tv bersama di rumah Fatimah dan Rahman.
"Jarang-jarang nih kita bisa nonton bareng," ucap Lilis yang duduk di samping Fatimah.
Tiba-tiba Fatimah memegang kepalanya, rasa sakit yang tak biasanya ia rasakan di bagian kepala.
***
Lilis sudah tidur lelap di kamar Fatimah, namun masih saja kepala Fatimah terasa sakit dan berat. "Aku kayaknya masuk angin deh," ucap Fatimah sambil memegang kepalanya.
Fatimah yang cukup cerdas, langsung konsultasi ke dokter melalui aplikasi di hp nya. Dokter itu berkata kalau Fatimah masih pusing hingga esok pagi, maka ia di sarankan untuk langsung menemui dokter, karena dokter di aplikasi itu tidak berani mendiagnosis tanpa mencek langsung.
***
Pagi itu Fatimah berangkat bekerja ke WH Hotel dengan ojek online.
Fatimah mulai merasakan betapa sepinya tak ada Rahman yang selalu ada di dekatnya. barulah ia menyadari hari-harinya seolah ada yang kurang.
Saat Fatimah membersihkan kaca di hotel itu, tiba-tiba ada telpon masuk yang ternyata dari Rahman, buru-buru ia mengangkatnya dengan semangat.
"Halo.. assalamualaikum," sapa Fatimah di telpon.
"Waalaikumussalam, baru sehari rasanya udah kayak setahun aja, sayang udah sarapan belum?" tanya Rahman di telpon.
"Udah kak, Kakak udah sarapan?" tanya Fatimah balik yang senyam-senyum sendiri.
__ADS_1
"Belum, nunggu kabar dari kamu dulu, kalau kamu udah sarapan barulah aku bisa sarapan dengan tenang," kata Rahman yang merayu Fatimah.
"Bisa aja, ya udah sana sarapan dulu, aku juga mau lanjut kerja kak," ucap Fatimah di telpon.
"Ya udah, aku sarapan ya, jangan lupa hp nya diaktifkan nanti aku telpon lagi, Assalamualaikum," ucap Rahman menutup telepon.
"Waalaikumussalam," jawab Fatimah dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Sarah sedang bekerja di ruangannya, tiba-tiba ada Rico yang mengejutkannya. "Sarah.." panggil Rico.
"Iya ada apa," Sarah menoleh ke arah Rico.
"Pak Rahman lagi di luar negeri kan, tolong sampaikan ya, beberapa Minggu lagi aku mau ngambil cuti untuk menikah," ucap Rico sambil melirik Sarah.
"Kamu yang mau nikah kok saya yang repot, kamu aja yang bilang langsung sama kak Rahman," cetus Sarah yang sebenarnya dalam hatinya ia kesal mendengar kata-kata itu.
"Ya udah deh," ucap Rico dan langsung pergi.
"Gitu doang? nggak jelas banget, kayaknya dia cuma mau pamer deh, mentang-mentang mau nikah," cetus Sarah yang kesal tanpa sebab dan tak sadar ia sudah merobek dokumen di tangannya.
"Astaghfirullah.." ucapnya spontan, ia baru sadar bahwa dokumen penting sudah robek semua.
***
Fatimah yang membersihkan kamar, Tiba-tiba di telpon Rahman lagi.
"Halo Assalamualaikum bidadari ku," sapa Rahman di telpon.
"Waalaikumussalam, kakak emangnya nggak ada kerjaan ya, baru aja kita telponan, udah telponan lagi," ucap Fatimah yang senyum sendiri.
"Ada sih, tapi sebelum mengurus urusan lain, aku harus tau dulu gimana kabar kamu," tutur Rahman.
"Aku baik-baik aja kak," jawab Fatimah yang sebenarnya merasa senang di telpon Rahman.
"Aku nggak sabar buru-buru pulang, aku udah kangen bangat sama kamu," kata Rahman.
"makanya cepat selesaikan dulu urusan kakak, kalau kita telponan mulu kapan selesainya? bisa-bisa nanti kakak jadi lama di sana," tutur Fatimah.
"Ya udah aku tutup dulu ya telponnya, soalnya ada meeting nih," kata Rahman
"Iya kak, semangat ya, Assalamualaikum," ucap Fatimah menutup telpon.
__ADS_1