My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
24. Rasa curiga


__ADS_3

Fatimah menyiapkan sarapan bersama dengan bi Siti.


"Kak..ayo sarapan dulu," panggil Fatimah sambil menuangkan air minum di gelas.


"Iya..istriku," jawab Rahman sambil tersenyum menatap Fatimah.


"Bahasa-bahasa yang kayak gini nih yang bikin kuping jadi sengsara, kakak nggak usah lebai deh," tegur Fatimah yang sedikit kesal.


"Itu wajar nyonya Fatimah, bukan lebai, kan nyonya memang istri tuan Rahman," tutur Bi Siti pada Fatimah.


"Tuh..dengerin dong Fatimah," tutur Rahman sambil tersenyum melihat tingkah Fatimah.


Rahman dan Fatimah sarapan pagi bersama, perlahan sifat jutek Fatimah pada Rahman memang mulai berkurang, namun tak bisa dipungkiri bahwa di hatinya tetaplah hanya ada Fatih.


Fatimah yang sarapan masih kepikiran dengan kondisi Fatih.


"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Rahman yang memperhatikan Fatimah.


"Nggak...nggak ada, orang aku lagi makan kok," elak Fatimah yang lanjut makan.


***


Pagi yang cerah dengan mentari, Sarah yang berangkat kerja dengan mengendarai mobilnya mengalami sedikit kendala. Ban mobilnya bocor di tengah perjalanan.


"Astaghfirullah..gimana ini, mana tempat ini sepi lagi," keluh Sarah yang sedikit takut karena tempat itu sangat sepi.


Sarah mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan namun ternyata di sana tidak ada jaringan.


"kok bisa sih nggak ada jaringan," keluh Sarah yang semakin panik.


Tiba-tiba mobil hitam berhenti di belakang mobilnya. Sarah menoleh ke arah mobil hitam itu, tak lama pintu mobil terbuka, Sarah melihat Rico yang turun dari mobil itu sambil berkata "Butuh bantuan ya?" tanya Rico yang berjalan ke arah Sarah.


"Ban mobil aku kempes," ucap Sarah singkat.


"Butuh tumpangan?" tanya Rico seolah menawarkan bantuan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk berfikir Sarah langsung naik ke mobil Rico tanpa banyak bicara.


Rico menyusul naik ke mobil dan bergerak ke tempat kerja. "Nanti mobil kamu biar aku yang urus," ucap Rico memulai pembicaraan.


"Makasih," jawab Sarah singkat.


"Kenapa? kok cuek bangat Sar, kamu masih curiga sama saya? saya udah berkali-kali bilang kalau saya nggak tau apa-apa tentang pak Rahman, kamu yang lebih tau," jelas Rico sambil melirik Sarah.


"Nggak usah pura-pura, kamu udah tau kan kalau istri kak Rahman itu adalah Fatimah housekeeping di White Horse Hotel?" tanya Sarah dengan serius.


"Kamu jangan berprasangka buruk dulu dong, oke aku ngaku aku tau kalau Fatimah itu istri pak Rahman, tapi aku bisa jaga rahasia kok, dan aku tidak pernah menyulitkan pak Rahman," jelas Rico pada Sarah.


"Tuh kan kamu tau, awas ya kalau sampai kamu macem-macem, aku tuh dari awal curiga sama kamu, soalnya gerak-gerik kamu itu mencurigakan bangat, kamu kayak tau sesuatu tentang kak Rahman," tutur Sarah yang masih curiga bahwa Rico ada pengaruhnya bagi hubungan Fatimah dan Rahman.


"Oke aku ngaku, kalau aku tau tentang pernikahan yang terpaksa itu," jelas Rico dengan jujur.


"Tuh kan.." Sarah mulai panik karena takut Rico akan membeberkan pernikahan Rahman yang di dasari keterpaksaan.


"Kamu tenang aja, aku nggak ada maksud apa-apa kok, aku ini teman lama pak Rahman, aku cuma mau dia itu bahagia bersama Fatimah," jelas Rico pada Sarah.


***


Fatimah masih melamun di mobil, sesekali ia melirik hp nya untuk melihat kabar dari Lilis tentang kondisi Fatih.


"Kenapa? mikirin Fatih ya?" tanya Rahman dengan cemburu. "Nggak..nggak mikirin apa-apa kok," elak Fatimah.


"Fatimah, mulai saat ini aku tidak akan melarang kamu untuk berteman dengan siapa pun, namun satu hal yang kamu tau, itu semua bukan karena aku tidak menyayangi kamu, tapi aku ingin melihat sejauh mana kesadaran kamu menjaga diri sebagai seorang istri," jelas Rahman menatap Fatimah.


"Kamu bicara apa sih kak, kata-kata kamu itu seolah mengatakan kalau aku itu nggak bisa jaga diri," jawab Fatimah yang sedikit kecewa.


"Bukan gitu Fatimah," tutur Rahman.


"Kalaulah aku ini perempuan yang mau berzina, dari dulu aku sudah melakukan itu, tidak perlu menunggu sampai aku bersuami dulu," tegas Fatimah sambil menatap tajam Rahman.


***

__ADS_1


Sesampainya di WH Hotel Sarah langsung turun dari mobil sambil berkata,"Berapa tarif ongkosnya?" tanya Sarah sambil menatap Rico.


"Ibu Sarah yang terhormat, saya bukan sopir angkot," tegas Rico sambil menatap Sarah.


"Oh ya udah makasih kalau gitu," ucap Sarah. Sebenarnya Sarah tidak pernah bersikap jutek pada orang lain, namun lain halnya pada Rico karena dari awal Sarah mengira Rico memata-matai Rahman.


***


Fatimah merapikan kamar nomor 25 sendirian. Tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Rahman.


"Siang ini kita makan bareng ya," ucap Rahman yang memperhatikan Fatimah yang sedang bekerja.


"Kak, bisa jaga sikap nggak sih, kalau kita tiap hari makan bareng pasti orang-orang akan curiga," jawab Fatimah yang menolak tawaran Rahman.


"Oke kamu nolak kan," ucap Rahman sambil mengambil nafas dan memanggil Fatimah dengan nada yang tinggi,"Fatimah sayang...siang ini kita makan bareng ya," ucap Rahman dengan keras supaya orang-orang tau kalau Fatimah adalah istrinya.


Fatimah buru-buru menutup mulut Rahman dengan tangannya sambil berkata,"Eh suami jelek bisa nggak sih jangan nyusahin aku mulu," gumam Fatimah yang kesal.


"Siapa suruh kamu nggak nurut," kata Rahman dengan santainya.


"Ya udah iya..iya..tapi kamu pergi aja sana, jam makan siang masih lama,", tegas Fatimah dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Jam makan siang masih lima belas menit lagi, namun Fatimah sudah di suruh istirahat oleh Bu Nadia. "Fatimah kamu istirahat aja sana, tadi kamu di panggil ke ruangan pimpinan," tutur Nadia pada Fatimah. "Kan jam istirahat masih 15 menit lagi Bu," ucap Fatimah karena khawatir housekeeping yang lain akan cemburu.


Dan benar saja para housekeeping yang lain merasa tidak adil karena Fatimah selalu diperlakukan spesial oleh Bu Nadia.


***


Fatimah menemui Rahman di ruangannya. "Kak kamu ngapain sih, nyuruh nyuruh Bu Nadia terus buat ngawasin aku, kakak nyebelin bangat deh, aku kan udah bilang kalau aku itu mau diperlakukan sama dengan yang lainnya," cetus Fatimah yang langsung mengomel.


"Buset, punya istri galak amat," ucap Rahman yang memperhatikan Fatimah.


Tiba-tiba handphone Fatimah berdering yang ternyata telpon dari Fatih. Rahman buru-buru merebut HP Fatimah, "Kok..Fatih masih bisa nelpon kamu, bukannya aku udah blokir nomornya, kamu pasti save balik kan?" ucap Rahman yang menggenggam Hp Fatimah.

__ADS_1


"Balikin Hp nya, dasar suami jelek," cetus Fatimah yang berusaha merebut HP itu dari Rahman.


Rahman yang mengangkat tangannya tertawa melihat Fatimah yang pendek berusaha meraih hp dari tangannya.


__ADS_2