My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
31. Ketika kamu di uji


__ADS_3

Tak sadar Fatimah telah senyam-senyum sendiri sambil bekerja, ia teringat Rahman yang selalu ada untuknya.


"Ehem..ada yang yang senyam-senyum sendiri nih, ada apa ya?" sapa Bu Nadia yang tiba-tiba muncul.


"Bu Nadia, apaan sih Bu, siapa yang senyum, saya lagi kerja kok," elak Fatimah yang wajahnya memerah. "Tuh pipinya merah," ledek Bu Nadia yang tersenyum melihat tingkah Fatimah.


"Nggak kok nggak merah," ucap Fatimah memegang pipinya.


***


Fatimah yang masih bekerja tiba-tiba kembali sakit di bagian kepala lagi, "Astaghfirullah..ada apa ya, nggak biasanya aku sakit kepala separah ini, aku juga nggak biasanya secapek ini, padahal aku nggak kerja angkat-angkat barang," ucap Fatimah yang merasa aneh.


***


Rico mondar-mandir di ruangannya, ia ingin menelpon Rahman namun sedikit tegang. Sebenarnya Rico bermaksud meminta izin pada Rahman untuk melamar Sarah karena ia sudah di suruh orangtuanya untuk menikah.


Dengan memberanikan diri ia menelpon Rahman.


"Assalamualaikum pak Rahman," Sapa Rico di Telpon.


"Waalaikumussalam, ada apa Rico, Hotel aman kan?" tanya Rahman di telpon.


"Iya pak Rahman, tapi saya sebenarnya bukan mau bahas itu," ucap Rico yang keringat dingin.


"Lah terus ada apa?" tanya Rahman penasaran.


"Begini pak Rahman, setelah pak Rahman kembali, saya mau ngambil cuti menikah," ucap Rico pelan.


"Bagus dong ternyata kamu laku juga," canda Rahman pada sekretaris nya itu.


"Saya mau ngelamar Sarah kalau pak Rahman mengizinkan," ucap Rico percaya diri.


Seketika Rahman terdiam.


"Pak, tolong beri saya izin pak, saya begitu kagum dengan Sarah, saya berjanji tidak akan mengecewakan pak Rahman, ya saya tau mungkin karena saya ini hanya sekretaris pak Rahman jadi bapak tidak begitu suka," kata Rico yang membujuk Rahman.


"Nggak gitu, cuma saya kaget aja tiba-tiba mendengar niat baik kamu ini, saya setuju kok, tapi silahkan kamu sendiri yang menghadap pada Ayah dan bunda kami untuk melamarnya, laki-laki yang bertanggung jawab adalah yang mampu secara langsung meminangnya, bukan yang hanya iming-iming saja," tegas Rahman di telpon.

__ADS_1


"Iya pak, setelah pak Rahman pulang nanti, saya akan segera datang melamar Sarah," ucap Rico di telpon.


"Lagi pula kita kan sudah kenal lama, saya sudah tau bagaimana kamu dan kepribadian kamu, saya tau kamu ini laki-laki yang bertanggung jawab dan dibekali ilmu agama juga, makanya saya bisa mempercayai kamu untuk menjaga adik saya," jelas Rahman.


Rico pun lega karena telah mendapat lampu hijau dari Rahman.


***


Fatimah yang masih sakit di bagian kepala tiba-tiba pingsan saat jam istirahat.


Sofia tak sengaja melihat itu, "Perempuan ini kok pingsan ya," Sofia panik, meski selama ini ia tidak suka dengan Fatimah, tapi tetap saja ia tidak tega, langsung saja Sofia membantu Fatimah.


***


Fatimah tersadar, begitu ia membuka matanya, ia terkejut karena tiba-tiba terbangun di rumah sakit.


"Akhirnya kamu sadar juga, ternyata selama ini kamu menutupi penyakit kamu ya, padahal kan pekerja di WH Hotel haruslah orang yang sehat tanpa penyakit yang serius seperti penyakit kamu ini," ucap Sofia yang tiba-tiba muncul.


"Bu Sofia, maksud ibu apa ya? penyakit, penyakit apa Bu?" tanya Fatimah yang kebingungan.


"Nggak, nggak mungkin, saya nggak pernah punya penyakit itu," ucap Fatimah yang masih tidak percaya.


"Iya Bu Fatimah, untungnya masih stadium awal, tapi ini adalah penyakit berbahaya Bu, operasi adalah solusi yang kami sarankan saat ini, jika tidak kanker akan menyebar, dan kemungkinan besar peluang hidup akan berkurang," jelas dokter di samping Fatimah.


***


Fatimah meminta waktu pada Sofia untuk berbicara.


"Bu Sofia..tolong rahasiakan ini ya, saya mohon, jangan sampai ada yang tau," pinta Fatimah yang memohon pada Sofia.


"Kenapa saya harus bantu kamu, lagi pula memang sudah seharusnya kamu berhenti bekerja, kerjaan kamu cuma godain pimpinan hotel, apa kamu nggak sadar dengan kondisi kamu ini," gumam Sofia menatap Fatimah.


"Tolong bantu saya Bu, jangan kasih tau siapa pun apalagi pak Rahman," pinta Fatimah sambil menangis.


Sofia pergi begitu saja tanpa mendengarkan perkataan Fatimah.


***

__ADS_1


Sepulang kerja, Fatimah tiba-tiba memeluk Lilis di rumah sambil menangis. "Kamu kenapa, kok nangis," tanya Lilis sambil mengelus punggung Fatimah.


"Lis..aku kanker otak, mungkin hanya butuh beberapa waktu lagi aku bisa berada di samping kamu," ucap Fatimah sambil menangis.


"Astaghfirullah.. Fatimah, kok bisa, kamu nggak salah kan, pasti dokternya yang salah diagnosis," kata Lilis yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Nggak Lis, ini nyata, kepalaku sering pusing tiba-tiba, dan kadang aku nyaris mual-mual, aku nggak biasanya begini, Lis tolong jangan kasih tau kak Rahman dulu ya," pinta Fatimah sambil menangis tersedu.


***


Di sepertiga malam,


Fatimah bangun dari tidurnya, ia mengambil wudhu dan menunaikan sholat tahajud, dalam sholatnya ia berdoa, "Ya Allah ampunilah dosa hamba yang mungkin telah berlebihan, ya Rabb jika penyakit ku ini disebabkan terlalu banyaknya dosaku, maka aku mohon ampunilah, namun jika ini adalah bentuk ujian darimu, maka berilah aku kekuatan menghadapinya, serta ikhlaskan lah aku menerima kenyataan ini,"


Fatimah tak henti menangis hingga pagi menyapa.


Meskipun ia merasa sakit, ia tetap pergi bekerja, karena takut orang-orang akan curiga.


"Aku tidak mau membebani Ayah, bunda dan kak Sarah, apalagi kak Rahman, mereka tidak boleh tau penyakit ku ini, biarlah aku yang menanggung, semoga Allah beri kemudahan," batin Fatimah yang sedang membersihkan kaca.


***


Sofia masuk ke ruangan Sarah untuk menandatangani sebuah dokumen, namun Sarah ternyata sedang di toilet. Matanya tak sengaja melihat Hp Sarah yang tergeletak di meja.


Tepat saat itu Hp Sarah masuk sebuah notifikasi, hingga layarnya hidup. Sofia kaget melihat Wallpaper Hp Sarah yang ternyata ada Foto Sarah, Fatimah dan juga Rahman.


Melihat itu Sofia mulai curiga, "Sebenarnya Fatimah itu siapa ya, kok Fotonya ada di Hp Sarah," batin Sofia yang semakin penasaran.


Sofia yang semakin penasaran bergerak menuju ruangan Rahman. Sofia memanfaatkan waktu itu untuk mencari tahu tentang rasa penasarannya di ruangan Rahman mumpung Rahman masih di luar negeri.


Ia tak berhenti mencari-cari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan nya. tak sengaja ia melihat Foto pernikahan di laci meja Rahman. "Hah.. ternyata Fatimah itu istri Rahman?" Sofia terkejut melihat Foto pernikahan Rahman dengan Fatimah itu.


Terdengar langkah kaki seseorang, buru-buru Sofia menyimpan Foto itu kembali.


"Kamu sedang apa di sini," tanya Rico yang memergoki Sofia.


"Saya cuma mau menemui pak Rahman, ternyata dia nggak ada," ucap Sofia padahal ia tau bahwa Rahman sedang di luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2