
"Pak Rahman lagi di luar negeri," kata Rico yang tidak curiga sama sekali.
Sofia buru-buru keluar dari ruangan itu.
Sofia menyesal selama ini telah lancang pada Fatimah, ia takut akan dikeluarkan dari hotel itu.
Namun untungnya ia teringat bahwa ia mengetahui rahasia penyakit Fatimah, sehingga itu bisa dijadikan alat untuk mengendalikan Fatimah.
***
Fatimah sedang istirahat di bangku yang ada di taman hotel itu, tiba-tiba ada telpon dari Rahman.
"Assalamualaikum Sayang..udah makan belum," sapa Rahman di telpon.
"Waalaikumussalam kak,aku udah makan, kakak udah makan?" tanya Fatimah,
"Udah sayang," jawab Rahman.
"Aku kangen sama kakak," ucap Fatimah yang tak sadar air matanya menetes, namun ia tidak berani mengungkapkan bahwa ia di timpa musibah berupa kanker.
Rahman terkejut bahagia mendengar itu, karena baru kali ini Fatimah berkata rindu, "Masa sih, pokoknya secepat mungkin aku akan pulang," kata Rahman yang semakin semangat pulang.
Fatimah semakin deras air matanya, seolah ingin mengadu namun ia menahannya, ia tak sanggup berkata lagi, hingga langsung mematikan telpon.
Tangisan Fatimah semakin keras, untungnya tak ada orang di sekitarnya.
"Mungkin ini teguran dari Allah, karena aku telah melawan takdirnya, ya Allah padahal aku sudah berada di titik ini dimana aku sudah mulai bisa menerima kak Rahman sebagai suamiku, namun dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin aku membebankan kak Rahman lagi," batin Fatimah dengan kesedihan yang mendalam.
***
Malam itu Fatimah mempertimbangkan untuk melakukan operasi, namun satu-satunya orang yang bisa menemaninya adalah Lilis.
"Fatimah, kamu harus segera kasih tau keluarga kamu kalau kamu ini sedang sakit," usul Lilis sambil mengelus rambut sahabatnya itu.
"Jangan, kamu tau sendiri kan Lis, aku ini dari kecil sudah membebani mereka, aku tidak ingin mereka sedih karena aku," jawab Fatimah yang masih menangis.
"Kalau gitu aku yang akan bertindak tegas untuk membawa kamu berobat ke rumah sakit terbaik," ucap Lilis sungguh sungguh.
"Biaya dari mana Lis, aku nggak punya apa-apa," keluh Fatimah.
"Aku akan cari caranya," kata Lilis yang ikut merasakan kesedihan Fatimah.
__ADS_1
***
Satu Minggu kemudian,
Fatimah sedang sibuk bekerja, ia sedang merapikan kamar 27, tiba-tiba kepalanya sakit lagi, tak terelakkan ia nyaris pingsan.
Tiba-tiba Rahman datang dari arah belakang menangkap Fatimah yang hampir terjatuh.
"Sayang kamu capek ya," ucap Rahman sambil menatap Fatimah.
Fatimah mencoba berdiri tegak,"Kakak kenapa nggak ngabarin kalau hari ini mau pulang," tanya Fatimah yang berusaha menyembunyikan rasa sakit.
"Aku sengaja, biar surprise," jawab Rahman sambil mengelus kepala Fatimah.
Fatimah tiba-tiba memeluk Rahman sambil menangis, "Aku kangen sama kakak," ucap Fatimah yang berusaha menahan air matanya. Seolah hatinya ingin mengadu namun ia memilih untuk merahasiakan.
Rahman terharu melihat Fatimah yang memeluknya, dengan erat ia memeluk Fatimah pula, "Aku juga kangen," ucap Rahman.
***
Untuk merayakan kedatangan Rahman, Sarah mengajak Fatimah dan juga Rahman untuk makan bersama di sebuah restoran.
Namun Rahman menyuruh sekretarisnya Rico untuk bergabung dengan mereka.
"Kak Rahman itu kelamaan ngurusin kerjaan, sampai lupa istrinya setiap hari ngelamun mikirin kakak," canda Sarah sambil melirik Fatimah.
"Nggak..siapa yang ngelamun sih," elak Fatimah.
Rico hanya menunduk seolah ingin mengatakan sesuatu namun ia tak berani.
"Pak Rahman, nanti malam saya bermaksud melamar seorang gadis, mohon di bantu ya pak," pinta Rico pada Rahman.
Seketika Sarah terdiam mendengar itu. Seolah cemburu namun ia tak berani mengungkapkannya, ia tak sadar bahwa sebenarnya dirinya yang akan dilamar.
"Iya insyaallah malam ini saya bantu kamu," ucap Rahman sambil melirik Sarah yang mengalihkan pandangannya.
"Alhamdulillah ya kak Rico udah punya calon," ucap Fatimah sambil menatap Rico.
***
Sepulang bekerja, Rahman dan Fatimah pulang bersama. "Aku mau kasih tau kamu satu rahasia,", kata Rahman sambil menatap Fatimah.
__ADS_1
"Rahasia apa kak?" tanya Fatimah sambil menatap Rahman yang menyetir mobil.
"Sebenarnya gadis yang mau dilamar Rico itu adalah Sarah," kata Rahman dengan serius.
"Serius kak, berarti kita harus ke sana dong," tutur Fatimah.
"Iya sekarang kita langsung ke rumah Ayah," ucap Rahman.
***
Dua keluarga berkumpul di rumah Ayah dan bunda.
Rico bersama dengan kedua orangtuanya menghadap Ayah dan bunda Sarah, untuk melamarnya. Namun Sarah yang tidak tahu apa-apa mengira bahwa Rico datang ke rumahnya hanya sekedar meminta bantuan Rahman untuk meminang gadis lain.
"Maksud kedatangan saya ke sini, untuk melamar putri pak Ahmad," ucap Rico yang menatap serius Ayah dari Sarah.
Ayah hanya tersenyum melihat Rico yang gemetaran, padahal sebenarnya Ayah pun sangat menyukai kepribadian Rico yang baik dan juga berilmu agama, Ayah sudah lama mengenal Rico semenjak Rico Bekerja di WH Hotel.
Sarah terkejut mendengar itu, "Kok aku? bukannya.."
"Iya Sarah, perempuan yang saya maksud adalah kamu," ucap Rico memotong pembicaraan Sarah
"Pak Ahmad, sebenarnya saya tau bahwa kami ini bukanlah dari keluarga yang sekaya pak Ahmad, namun kami tetap berusaha percaya diri melamar putri bapak, karena putra saya ini sangat menyukai Putri bapak, sehingga ia bermaksud untuk menghalalkan pandangannya," ucap papa Rico dengan serius.
"Saya ini sudah kenal Rico sejak lama, dan saya tau bahwa ia adalah pemuda yang baik akhlaknya dan bertanggung jawab, saya setuju setuju saja, tapi keputusan tetaplah ada pada Sarah,", tutur Ayah menatap putrinya Sarah.
"Sarah..apa kamu bersedia menerima lamaran Rico nak, kamu boleh kok meminta waktu untuk berpikir dulu," ujar bunda yang duduk di sebelah Sarah.
Sarah tak bisa mengungkapkan bahagianya, namun tetap saja ia sedikit gengsi untuk langsung menerima. "Gimana ya, aku agak bingung sih, ini terlalu tiba-tiba," ucap Sarah dengan serius.
Rico semakin deg-degan mendengar kata-kata Sarah yang seolah tidak menerima.
Fatimah hanya bisa mendukung apa pun keputusan kakaknya itu, "Kak, pikirkan baik-baik ya, jangan mengambil keputusan yang salah," ucap Fatimah sambil mengelus punggung Sarah.
"Saya menerima lamaran kamu," ucap Sarah singkat.
"Serius.." Rico menatap Sarah
Sarah hanya mengangguk menandakan ia menerima.
"Alhamdulillah..pa.., ma..aku di terima," ucap Rico dengan bahagia sambil menatap papa dan mamanya.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam terindah bagi Sarah, padahal ia baru mengenal Rico namun ia begitu percaya bahwa Rico laki-laki yang bertanggung jawab dan baik ilmu agamanya sehingga mampu menuntunnya ke jalan yang baik. Sarah memeluk bunda dan Fatimah seolah meminta restu dari adik dan bundanya itu.
Rico amat bersyukur karena ekspektasinya sesuai dengan kenyataan.