My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
26. Hidayah cinta di kamar 27


__ADS_3

Rahman yang mengkhawatirkan Fatimah dengan spontan memeluknya. "Aku benar-benar khawatir sama kamu," ucap Rahman memeluk Fatimah.


"Aku nggak pa pa kak, kakak kenapa sih," tanya Fatimah di pelukan Rahman.


"Aku kira kamu kenapa-napa," ucap Rahman pelan. Fatimah melepas diri dari pelukan Rahman sambil berkata,"Aku baik-baik aja kak, justru aku khawatir sama kamu kak, kan semalam kamu masih demam, pasti sekarang juga masih sedikit pusing kan kak?" tanya Fatimah yang mengkhawatirkan Rahman.


Dan memang benar Rahman tiba-tiba pusing karena kecapekan berlari ke kamar 27 yang cukup jauh dari ruangannya.


"Tuh kan..apa aku bilang, harusnya Kakak nggak usah kerja dulu," ucap Fatimah sambil memapah Rahman ke ranjang di kamar itu.


"Ya udah tunggu bentar ya kak, aku cari obat dulu buat kakak," kata Fatimah sambil berjalan ke arah pintu keluar.


"Lah kok nggak bisa di buka, kok di kunci," Fatimah mulai panik melihat itu.


"Kenapa Fatimah?" tanya Rahman


"Pintunya di kunci kak," kata Fatimah yang masih panik. "Siapa di luar? tolong bukain dong, di sini masih ada orang" jerit Fatimah keras.


"Kamu tenang dulu Fatimah, pasti nanti ada yang bukain kok," ujar Rahman sambil mencoba berdiri.


Rahman mendekat ke pintu,"Siapa yang berani mengunci saya di sini, saya pastikan kamu kehilangan pekerjaan," kata Rahman dengan suara keras.


"Udah kak, kamu istirahat aja dulu, nanti kamu pingsan aku nggak tau harus berbuat apa," tutur Fatimah pada Rahman.


Rahman dan Fatimah hanya bisa duduk di sofa kamar itu sambil memikirkan cara untuk keluar, sebab Rahman sudah mencoba menelpon petugas namun ternyata Hp nya habis baterai, begitupun Fatimah yang Hp nya habis baterai juga.

__ADS_1


"Sekarang kita harus gimana kak?" tanya Fatimah yang putus asa. "Kamu jangan takut ya ...aku ada di sini, aku yang akan jagain kamu," ucap Rahman sambil mengelus kepala Fatimah.


"Bentar lagi magrib kak, kita sholat di sini aja?" tanya Fatimah. "Iya Fatimah," jawab Rahman sambil menatap Fatimah penuh kasih sayang.


Untungnya di kamar itu tersedia mukena, entah siapa yang menyediakan namun Fatimah langsung mengenakan itu untuk sholat.


Rahman dan Fatimah sholat berjamaah di kamar 27 itu.


Usai sholat, Rahman memberi kode dengan mengarahkan tangan kanannya pada Fatimah supaya Fatimah mencium tangannya. Dengan malu-malu Fatimah mencium tangan Rahman. Begitupun Rahman mencium kening Fatimah.


"Kenapa? salah ya?" tanya Rahman pada Fatimah yang kaget karena baru kali ini Rahman mencium keningnya usai sholat.


Fatimah hanya menunduk.


Rahman dan Fatimah mengaji bersama. hingga pada saat membaca Al Qur'an itu Fatimah tiba di Ayat 34 surah An-nisa, yang artinya: "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha tinggi, Maha besar"(QS. Annisa ayat 34).


"Kak, maafin aku ya," ucap Fatimah yang tak sengaja air matanya menetes. "Maaf aku sudah menjadi beban bagi kamu, maaf jika aku telah banyak membangkang mu," ucap Fatimah dengan tulus sambil menatap Rahman.


"Jangan bicara seperti itu, kamu tidak salah, aku sangat mengerti bagaimana perasaan kamu, aku juga sudah bilang bahwa aku bersedia menunggu sampai kamu benar-benar mau menerima aku sepenuhnya sebagai suami kamu," ucap Rahman sambil menghapus air mata Fatimah.


"Aku benar-benar bodoh, tetap teguh dengan cinta lama ku yang jelas-jelas sudah menjadi dosa bagiku," ucap Fatimah berderai air mata.


"Aku tidak menyalahkan mu meski cintamu masih tertuju pada Fatih, dengan kamu memberiku kesempatan saja itu sudah lebih dari cukup," ucap Rahman dengan tulus.


"Bantu aku kak, kalau memang Allah menjadikan aku istrimu maka aku akan belajar untuk menerima, tapi tolong bantu aku kak, aku hanya perempuan biasa, bukan ahli surga yang kukuh imannya, aku jauh dari kata sempurna, sehingga aku membutuhkan bantuan kamu untuk mengajariku menjadi istri yang kamu inginkan," pinta Fatimah sambil menatap mata Rahman.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menuntut kamu untuk jadi sempurna, dengan kamu mau belajar saja aku sudah sangat bersyukur," ucap Rahman yang tak sadar air matanya menetes karena terharu.


"Aku tidak ingin bernasib sama seperti istri nabi Nuh dan nabi Luth yang dijamin masuk neraka karena durhaka pada Allah dan tidak mengindahkan perintah suaminya, tolong ajari aku menjadi istri yang baik, seperti patuhnya Khadijah pada Rasulullah," pinta Fatimah sambil berlutut di hadapan Rahman.


"Fatimah, jangan berlutut sayang," ucap Rahman sambil memeluk Fatimah.


Malam mulai larut Fatimah yang berbaring di tempat tidur merasa lapar karena terakhir ia makan adalah tadi siang.


Rahman yang duduk di Sofa mendengar suara perut Fatimah. Fatimah tersenyum malu menatap Rahman.


"Kamu lapar ya, aku cari kamu makanan ya," ucap Rahman menatap istrinya.


"Nggak usah kak, lagian kan pintunya di kunci," kata Fatimah yang merasa malu.


Rahman mencari cara untuk bisa keluar untuk mencari makanan namun Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Rahman buru-buru melihat siapa yang datang. Namun pintu itu keburu tertutup lagi dan hanya meninggalkan dua porsi makanan.


"Aneh..kok ada makanan, apa jangan-jangan ada orang yang sengaja mengunci kami, dan kasih makanan ini, terus di kunci lagi, tapi apa maksudnya apa?" Rahman bertanya-tanya tentang peristiwa yang ia alami hari ini.


Rahman kembali menemui Fatimah yang berbaring di tempat tidur nya.


"Fatimah...makan yuk," ajak Rahman.


"Kok ada makanan kak, dapat dari mana?" tanya Fatimah yang melihat dua kotak makanan di tangan Rahman.


"Aku juga nggak tau Fatimah, tiba-tiba ada yang ngetuk pintu, pas aku lihat pintu sudah terkunci lagi dan ada dua kotak makanan ini di dekat pintu," jelas Rahman yang juga masih bingung.

__ADS_1


"Aneh, kok bisa gitu ya," ucap Fatimah yang semakin penasaran.


"Nggak usah dipikirin dulu, yang penting kamu makan dulu ya," ucap Rahman sambil membantu Fatimah untuk bangun.


__ADS_2