My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
36. Bagai mimpi buruk


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba,


Hari pernikahan Sarah dan Rico mulai berlangsung, akad nikah pun di laksanakan, "Sah" kata yang menandakan resminya Sarah sebagai istri dari Rico.


Sarah menangis haru tak mampu mengungkapkan rasa syukurnya atas kebahagiaannya itu.


Hari itu Fatimah menatap orang-orang yang ia sayangi, mulai dari Rahman, bunda, ayah, dan Sarah. Fatimah khawatir tak bisa jauh dari orang-orang yang ia sayangi itu.


"Kamu pasti terharu ya, jangan-jangan kamu ingat momen kita nikah," bisik Rahman yang duduk di sebelah Fatimah.


Fatimah hanya tersenyum melihat Rahman sambil menggenggam tangan Rahman.


Sarah memeluk Fatimah yang juga menangis, "Selamat ya kak, jadilah istri yang baik," ucap Fatimah ke telinga Sarah.


***


Saat Fatimah berjalan ke toilet, tak sengaja ia bertemu Sofia, "Akhirnya kita ketemu juga," sapa Sofia yang mengagetkan Fatimah.


"Ada apa lagi Bu Sofia," tanya Fatimah dengan tajam.


"Aku cuma mau ingatkan kamu dengan janji kamu, pernikahan Sarah sudah selesai, waktunya kamu menepati janji," tegas Sofia.


"Bu Sofia tenang aja, saya bukan tipe orang yang ingkar janji," ucap Fatimah dan langsung pergi meninggalkan Sofia.


***


Malam itu, Rahman sedang istirahat karena seharian ia cukup lelah membantu mengurusi semua keperluan dalam acara pernikahan adiknya.


Rahman sedang Berbaring di Sofa.


Fatimah duduk di sebelah Rahman untuk membicarakan sesuatu tentang rumah tangganya.

__ADS_1


"Kak, aku mau bicara," ucap Fatimah.


Mendengar itu Rahman langsung duduk, "Mau bicara apa?" tanya Rahman menatap Fatimah.


"Mengenai janji kita, aku sudah punya jawabannya," tutur Fatimah dengan serius.


Mendengar kata-kata Fatimah, Rahman langsung tersenyum, "Aku tau, pasti kamu mau bilang kalau kamu cinta sama aku kan, makanya kamu cepat-cepat kasih tau aku jawaban padahal waktunya belum sampai dua bulan sesuai janji," kata Rahman yang sangat percaya bahwa Fatimah sudah menerimanya.


"Kak, memang waktunya belum sampai dua bulan, tapi kalau aku jawabnya sekarang nggak pa pa kan kak, kan lebih cepat lebih baik," ucap Fatimah yang berusaha tersenyum.


"Iya Fatimah, aku malah senang hari ini kamu memberi Jawaban," ucap Rahman yang makin bersemangat.


"Selama kita menikah, aku merasa kamu laki-laki yang baik kak, kamu perhatian, penyayang dan peduli sama aku,"


Rahman tersenyum dan penasaran mendengar Fatimah.


"Tapi aku tetap pada cinta pertama ku, aku tak bisa mencintaimu lebih dari seorang kakak," lanjut Fatimah yang dengan berat hati membalikkan fakta.


Mendengar itu senyuman Rahman seolah hilang, "Nggak, kamu pasti bercanda kan Fatimah," tegas Rahman menatap Fatimah serius.


"Fatimah, lebih baik kamu kasih aku jawaban setelah waktunya tepat dua bulan, udah sekarang kamu tidur dulu ya sayang, mungkin kamu tadi kecapekan," tutur Rahman menenangkan Fatimah.


"Nggak kak, jawaban aku hari ini sudah tepat dan benar, aku masih bertahan pada cinta pertama ku, lagi pula aku bukanlah tipe wanita yang mudah mengalihkan cintanya," lanjut Fatimah meyakinkan Rahman.


Mendengar itu Rahman semakin panik karena tidak mau melepas istrinya itu, "Nggak, nggak Fatimah, sejauh ini hubungan kita makin membaik, jawaban kamu ini cuma bohongan kan," tegas Rahman yang matanya mulai berkaca-kaca.


Fatimah yang tak kuasa menahan tangis lari ke kamarnya dan mengunci pintu. Rahman yang datang menyusul mengetuk-ngetuk pintu itu, "Fatimah, aku tau itu bukanlah jawaban dari hati kamu, Fatimah..jangan pernah berbohong dengan hati kamu sendiri," kata Rahman dengan nada keras sambil mengetuk pintu.


Di balik pintu itu ternyata Fatimah tak henti menangis, karena ia memang membohongi Rahman, "Aku memang cinta sama kamu kak, tapi aku bukanlah wanita yang pantas mendampingi kamu," batin Fatimah yang menangis sambil bersandar di pintu kamar itu.


Rahman tak henti mengetuk pintu kamar Fatimah, namun Fatimah tak merespon.

__ADS_1


Tengah malam Fatimah membuka pintu kamarnya, ternyata Rahman tertidur di lantai itu.


Karena tak tega, Fatimah mencoba memapah Rahman ke kamarnya, namun Rahman malah terbangun.


"Fatimah, Fatimah aku nggak mau kehilangan kamu, pokoknya jangan paksa aku untuk menceraikan kamu," ucap Rahman yang baru bangun sambil mencium tangan Fatimah.


"Kak, mendingan sekarang kamu ke kamar aja, jangan tidur di sini," suruh Fatimah pada Rahman.


"Aku akan pindah ke kamar, tapi kamu janji ya, jangan paksa aku untuk cerai," pinta Rahman yang menatap Fatimah penuh harap.


Fatimah hanya mengangguk seolah ia setuju.


"Terimakasih ya sayang, jangan pernah ungkit perceraian," ucap Rahman.


Fatimah mengantar Rahman ke kamarnya.


"Please malam ini kamu tidur di sini ya," pinta Rahman yang berbaring di kamarnya.


"Ya udah tapi kakak tidur ya," ucap Fatimah yang duduk di samping Rahman. Fatimah mengelus kepala Rahman, supaya Rahman cepat tertidur.


Fatimah menatap wajah laki-laki yang ada di hatinya itu, karena mungkin esok hari tak akan melihatnya lagi.


***


Jam 4 pagi, Alarm berbunyi, seolah membangunkan Rahman untuk sholat. Rahman terbangun, ia langsung menoleh kanan kiri namun ia tak melihat sosok Fatimah.


tak sengaja matanya tertuju pada kertas di atas bantal itu. Rahman membaca surat itu yang berisi,


"Assalamualaikum kak, mungkin saat kamu membaca ini, aku sudah tidak di sampingmu, kak, janji tetaplah janji, ia harus di tepati, Jawaban ku tetaplah sama, aku tak bisa terlepas dari cinta pertama, aku harap kamu bisa menerima jawaban ku ini dengan lapang dada, karena kamu pun sepakat dengan janji kita yang bukan hanya sepihak saja, aku harap kamu tetap bahagia walau tanpaku, aku pasti akan lebih bahagia jika terlepas darimu, menikahlah dengan gadis lain yang sempurna untukmu, aku akan lega jika ada yang menggantikan ku di hatimu, tolong jangan cari aku kak, aku pergi untuk menenangkan diri dan mencari kakak kandungku yang terpisah saat aku bayi, salam untuk ayah bunda dan kak Sarah," -Fatimah


Setelah membaca surat itu, Rahman seolah hancur tak berdaya, ia menangis berteriak memanggil Fatimah. Rahman dengan cepat mengecek kamar Fatimah, dan benar saja baju-baju dan barang Fatimah sudah tak ada di lemari. Rahman kemudian mengecek seluruh ruangan di rumah berharap Fatimah sembunyi di salah satu ruangan dan bermaksud bercanda dengannya.

__ADS_1


Saat ia mengecek ruang makan, ia melihat nasi goreng yang sudah disajikan di meja makan. Di samping nasi goreng itu ada sebuah kertas kecil, yang bertuliskan, "Jangan lupa sarapan Setiap pagi, walau ini sarapan terakhir buatan ku untukmu,"


Membaca itu Rahman langsung menangis menyebut-nyebut nama Fatimah, bukan manja namun itulah efek dari sakitnya kehilangan.


__ADS_2