My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
19. Ketika kamu dianggap salah


__ADS_3

Pagi itu, Fatimah dan Rahman baru sampai di WH Hotel. Seperti biasa Fatimah turun dari mobil sebelum sampai di depan hotel agar tidak ada yang tau bahwa ia adalah istri dari pimpinan.


***


Sarah yang berniat memulai kerja mengejutkan Rahman di ruangannya.


"Assalamualaikum," sapa Sarah dengan lantang sambil langsung membuka pintu itu.


"Waalaikumussalam,,kok kamu ke sini Sar?" Rahman menoleh ke arah Sarah.


"Kenapa? kaget ya,,aku tuh pengen kerja juga kak, ada kerjaan buat aku nggak?"


"Tumben, ngapain kamu kerja?" tanya Rahman


"Emangnya aku nggak boleh kerja kak? enak aja, mentang-mentang aku perempuan nggak dibolehin berkarir, lagian kakak emangnya nggak mau lihat muka aku di sini setiap hari," tutur Sarah pada Rahman.


"Kamu mau kerja apa di sini? nggak ada lowongan," canda Rahman. "Nyebelin bangat sih kak," Sarah mencubit tangan Rahman.


Tiba-tiba Rico sekretaris Rahman datang,


"permisi pak Rahman, maaf pak saya terlambat, tadi ada dokumen yang ketinggalan," ucap Rico sekretaris Rahman itu.


"Iya saya tau kok, tadi kan kamu sudah konfirmasi sama saya," ujar Rahman sambil menatap Rico.


"Ini sekretaris kakak, ya?" tanya Sarah sambil menatap Rico sekilas.


"Iya Sarah, Rico.. ini adik saya Sarah," ucap Rahman memperkenalkan adiknya.


"Maasyaa Allah cantiknya.." batin Rico yang bengong.


"Rico.." panggil Rahman pada rico yang bengong. "I-iya pak Rahman, adiknya cantik," ucap Rico singkat.


"Eh jangan lirik-lirik adik saya, adik saya masih kecil," canda Rahman yang sudah akrab dengan sekretarisnya Rico. Rico adalah sekertaris dan juga teman SMP Rahman dulu.


"Enak aja kakak ngatain aku masih kecil, kalau aku masih kecil, istrimu Fatimah apa dong? bayi?" gumam Sarah yang menatap kakak nya Rahman.


Rico tersenyum melihat tingkah lucu Sarah.


"Oh ya pak Rahman, jam 11.00 nanti bapak ada meeting dengan Clien" tutur Rico

__ADS_1


"Baik terimakasih ya, tolong kamu siapkan bahan ya, nanti kamu yang presentasi," suruh Rahman pada Rico.


"Terus kerjaan aku apa kak?" tanya Sarah yang berharap bisa memulai karir. "Kenapa sih perempuan selalu begitu, di suruh duduk manis di rumah malah milih kerja," Rahman geleng kepala.


"Emang kakak mau di rumah seharian," balas Sarah yang membela diri.


"Ya udah, kamu di bagian back office mau? tanya Rahman pada Sarah.


"Ya udah deh kak, nggak pa pa," ucap Sarah.


***


Fatimah sedang fokus beres-beres, tiba-tiba tak sengaja ia bertemu dengan kakaknya Sarah yang lewat dari arah belakangnya.


"Fatimah..kamu kok pake seragam housekeeping?" Sarah memperhatikan penampilan adiknya itu.


"Kakak ngapain di sini?" tanya Fatimah,


"Aku mau kerja Fatimah, terus kamu ngapain pake jadi housekeeping segala," Sarah mengomeli adiknya.


"Jangan keras-keras ngomongnya kak, aku di sini emang kerja sebagai Housekeeping, nggak ada yang tau kalau aku istri kak Rahman," ucap Fatimah pada Sarah.


"Kak..aku cuma anak angkat, bagaimana mungkin aku bisa berlagak seolah istri dari pemilik hotel, sedangkan aku bukan siapa-siapa kak, mungkin aku akan jadi orang yang tidak tau diri seolah memanfaatkan kalian," jelas Fatimah menatap Sarah.


"Jangan pernah berkata seperti itu Fatimah, kamu ini keluarga kami, kita saudara, tolong jangan pernah merasa terkucilkan, status kamu sebagai anak angkat tidak mengurangi rasa sayang kami sama kamu, Fatimah..kalaulah ayah tau kamu bekerja di sini sebagai Housekeeping pasti ia akan kecewa," tutur Sarah menasehati adiknya..


"Tolong jangan kasih tau Ayah dan bunda kak, Kak..aku juga tidak ingin berada di posisi ini, aku juga syok tiba-tiba mengetahui kenyataan bahwa aku bukan anak kandung, dan tiba-tiba di nikahi kakak sendiri, aku butuh waktu untuk menerima semua ini kak, aku harap kakak mengerti," jelas Fatimah menggenggam tangan Sarah.


"Aku ngerti Fatimah, tapi sampai kapan?, kamu akan terus-terusan begini? kak Rahman itu kurang apa?" tanya Sarah beruntun.


"Justru karena ia terlalu sempurna, aku tak bisa menerimanya, lagi pula aku tidak bisa menganggap nya lebih dari seorang kakak, aku sudah terbiasa menganggapnya sebagai kakak sendiri," lanjut Fatimah


"cobalah berpikir lebih luas Fatimah, semoga nanti pemikiran kamu bisa berubah," ucap Sarah dan pergi meninggalkan Fatimah.


***


Siang itu di salah satu kafe, Sarah sengaja mengajak Fatimah dan Rahman untuk bertemu di kafe.


Sarah memulai pembicaraan,"Kak Rahman, aku ngajak kalian ke sini karena aku merasa cuma aku saat ini yang tau masalah kalian, kak ...sampai kapan kalian akan mempermainkan pernikahan yang sudah mengatasnamakan Allah," tegas Sarah dengan serius.

__ADS_1


"Sarah...aku sama sekali tidak berani mempermainkan pernikahan, tapi aku menghargai Fatimah, aku mengerti bahwa dia juga butuh waktu untuk bisa menerima semua ini," jelas Rahman menatap Sarah.


Fatimah hanya menunduk menyimak kedua kakaknya.


"Fatimah, kamu adik aku satu-satunya yang paling aku sayang, dek..apa seberat itu menjalankan amanah ayah dan bunda?" tanya Sarah pelan.


"Kakak nggak akan pernah ngerti," ucap Fatimah sambil air matanya menetes dan langsung pergi meninggalkan Rahman dan Sarah di cafe itu.


Rahman langsung mengejar Fatimah,


"Fatimah.." panggilnya.


"Apa lagi," Fatimah menghentikan langkahnya.


"Perlu kamu ingat, jangan terbebani dengan pikiran kamu, aku tidak membatasi waktu mu untuk bisa menerima aku, aku akan tunggu sampai kapan pun itu," ucap Rahman menatap Fatimah.


Fatimah hanya meneteskan air mata menatap Rahman karena merasa bersalah tidak bisa mencintai kakaknya sendiri.


***


Fatimah yang melanjut kerja melamun saat membersihkan kaca, "Ada masalah apa Fatimah, kok hari ini kelihatannya kamu kurang semangat?" tanya Bu Nadia yang tiba-tiba muncul.


" Nggak ada masalah apa-apa kok Bu," elak Fatimah.


"Kalau kamu kurang enak badan, nggak pa pa istirahat aja dulu," suruh Bu Nadia yang memperhatikan Fatimah.


"Iya terimakasih atas perhatiannya Bu, tapi insyaallah saya baik-baik aja kok," ucap Fatimah dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Sarah sedang bekerja di ruangannya, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Rico.


"Permisi.." Sapa Rico


"Iya ada perlu apa?" tanya Sarah.


"Bu Sarah, tadi tasbihnya ketinggalan di mushola," ucap Rico sambil memberikan tasbih itu.


"Oh iya terimakasih ya, nggak usah panggil saya ibu kali, panggil Sarah aja, lagi pula saya cuma staf biasa di sini, meskipun kakak saya yang memimpin tapi tetap saja saya di sini cuma sebagai karyawan biasa," ucap Sarah pada Rico

__ADS_1


"Iya sama-sama Sarah," jawab Rico menghadap Sarah.


__ADS_2