My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
20. Bidadari milik Rahman


__ADS_3

Sepulang bekerja, Fatimah dan Rahman pulang bersama lagi. Suasana di mobil cukup sunyi, Fatimah tak berbicara sepatah pun.


"Kamu masih ingat kan, malam ini aku ada acara silaturahmi antara pengusaha pengusaha lain di salah satu gedung?" tanya Rahman yang memulai pembicaraan.


Fatimah hanya terdiam.


"Kamu pasti nggak bisa kan, ya udah nggak pa pa, kamu istirahat aja nanti," ucap Rahman meskipun Fatimah tak berbicara.


***


Malam itu Rahman pergi ke acara sendirian, sedangkan Fatimah di rumah. tiba-tiba Fatimah dikagetkan dengan kedatangan Lilis sahabatnya.


"Tumben kamu malam-malam ke sini Lis," ucap Fatimah yang menyambut Lilis.


"Aku boleh nginap di sini nggak, satu malam aja, boleh ya, soalnya di rumah ku lagi nggak ada orang, masa aku sendiri sih,orang tuaku lagi di luar kota, apalagi aku baru aja nonton film horor, kan nggak seru kalau harus sendirian di rumah," tutur Lilis menatap Fatimah.


"Ya udah nggak pa pa, nanti kamu tidur di kamar aku aja," ucap Fatimah singkat.


"Emangnya kamu masih pisah kamar sama kak Rahman?" tanya Lilis


"Iya," jawab Fatimah singkat.


"Ih..kok gitu sih, nggak boleh gitu tau, suami seganteng itu kamu sia-siakan, kalau nggak mau kasih ke aku aja," canda Lilis.


"Ya udah ambil sana," gumam Fatimah menatap Lilis.


"Oh ya, kak Rahman mana, kok kamu sendirian?" tanya Lilis. "Dia pergi ke acara silaturahmi antara pengusaha, sebenarnya dia ngajak aku tapi aku nggak mau, males kalau harus pura-pura jadi istri teladan di depan orang lain," jelas Fatimah menatap Lilis.


"Ih kok gitu sih, emangnya kamu nggak kasihan sama kak Rahman, gimana kalau nanti dia itu di tanyain sama banyak orang istrinya kemana, masa dia harus bohong sih, kamu tega bangat sih," kata Lilis dengan serius.


"Terus aku harus gimana?" tanya Fatimah menghadap Lilis.


"Ya kamu harus datang lah," usul Lilis.


"Nggak bisa Lis, aku takut nanti kalau tiba-tiba ada orang yang kenal aku di sana," ucap Fatimah.


"Ya udah, pake cadar aja, gimana?" usul Lilis.

__ADS_1


"Hah, cadar?" Fatimah bingung


"Ya udah, Sana buruan ganti baju yang cantik, aku akan dandanin kamu jadi bidadari malam ini," kata Lilis yang bersemangat.


Lilis mulai memilih baju yang pas untuk Fatimah dan mendandani Fatimah secantik mungkin.


Fatimah pun siap berangkat ke acara dengan mengenakan cadar, namun meski menggunakan cadar aura kecantikannya tak dapat tertutupi seluruhnya.


Dengan semangat Lilis dan Fatimah berangkat dengan taksi ke gedung acara.


"Harusnya kamu nggak perlu seheboh ini Lis, ngapain coba aku di dandanin kayak gini," gumam Fatimah.


"Udahlah Fatimah, kamu lakuin aja apa yang aku bilang tadi, pokoknya malam ini anggap aja kamu bidadari, pasti nanti kak Rahman akan terharu dengan kedatangan kamu," ucap Lilis sambil menatap sahabatnya yang sudah di dandani nya secantik itu.


***


Suasana di gedung acara para pengusaha itu, Rahman hanya duduk sendiri di pojok, sesekali ia berbincang dengan yang lain. Rahman enggan berbaur, karena yang lain membawa istri sedangkan ia hanya sendiri.


tiba-tiba ia dikagetkan dengan kedatangan perempuan bercadar yang duduk di depannya. Matanya terlihat indah, namun cadar itu tidak berpengaruh bagi Rahman, ia tetap mengenali bahwa gadis itu adalah Fatimah.


"Fatimah..kamu.."


"Nggak..justru aku senang kamu ada di sini, makasih Fatimah, harusnya tadi aku nungguin kamu, maaf ya, aku kira tadi kamu nggak mau ikut," ucap Rahman yang matanya enggan berkedip menatap kecantikan istrinya itu.


"Kak..ada makanan nggak sih, aku lapar, masa cuma ada minuman doang," tanya Fatimah menatap Rahman.


"Ada ...ada sebentar ya," Rahman dengan cepat mengambil makanan di meja yang lain untuk Fatimah.


Rahman bahagia meski hanya menatap istrinya yang lahap makan, padahal Fatimah memang sengaja agar Rahman malu.


"Kak, kamu nggak malu aku temani di sini?" tanya Fatimah menatap Rahman.


"Kenapa harus malu, justru orang-orang akan iri karena aku punya istri yang cantik dan Solehah kayak kamu," tutur Rahman sambil tersenyum


Fatimah hanya menunduk karena ia merasa tak pantas di sebut istri Solehah.


Fatimah izin pada Rahman untuk pergi ke toilet sebentar.

__ADS_1


Tiba-tiba Fatimah dikejutkan dengan adanya Fatih di sana. Fatimah baru ingat bahwa ayah Fatih adalah pengusaha, dan berpikir mungkin Fatih mewakilkan ayahnya.


Fatimah hanya lewat dari depan Fatih karena mengira bahwa Fatih tidak akan mengenalnya.


namun tiba-tiba Fatih memanggil namanya, "Fatimah.."


Fatimah berusaha menghindari seolah ia bukanlah Fatimah. "Aku tau kamu Fatimah," ucapnya lagi


Fatimah menoleh ke belakang sambil berkata,"Ada apa Fatih, aku kira tidak akan ada yang mengenali aku di sini," kata Fatimah tanpa menatap Fatih.


"Mana mungkin aku tidak kenal, gimana kabar kamu," tanya Fatih menatap Fatimah sambil menahan rasa sedih. "Untuk apa kamu tau itu, bukannya kamu sudah tidak perduli lagi," tegas Fatimah. "Bukannya aku tidak perduli Fatimah, maafin aku, aku menjauhi kamu bukan karena tidak perduli, tapi karena kamu sudah bersuami," jelas Fatih.


Fatimah hanya tersenyum sinis dan langsung pergi meninggalkan Fatih di sana, namun Fatimah tak kuasa menahan air matanya mengingat Fatih adalah cinta pertamanya.


Acara pun selesai, Fatimah dan Rahman bergandengan saat keluar dari gedung acara itu. Fatimah terpaksa karena bagaimanapun di hadapan orang lain ia adalah istri Rahman.


***


Lilis yang menunggu Fatimah di luar hampir mengantuk. untungnya Fatimah dan Rahman akhirnya muncul.


"Kak, Lilis nanti nginap ya, dia yang tadi maksain aku untuk datang, kalau nggak aku malas bangat harus dandan seheboh ini," pinta Fatimah sambil menatap Rahman.


"Iya sayang, nggak masalah kok," jawab Rahman yang tak henti menatap Fatimah.


"Nggak usah pake sayang sayang lagi, acaranya udah kelar kok," gumam Fatimah


"Nggak ada hubungannya sama acara kali, kamu kan memang istri aku," tegas Rahman menatap Fatimah


Lilis tak kuasa menahan senyum melihat tingkah kekanak-kanakan Fatimah.


Mereka pun menaiki mobil dan berangkat pulang.


Fatimah yang duduk di depan merasa gerah hingga ia membuka cadarnya. "Ternyata pake cadar lumayan gerah juga ya Lis," ucap Fatimah sambil menoleh ke arah Lilis yang duduk di belakang.


Rahman kaget dan kagum melihat istrinya yang ternyata di balik cadarnya telah berdandan cantik, baru kali ini ia melihat Fatimah berdandan.


Lilis hanya tersenyum melihat kelucuan Rahman yang menatap Fatimah yang masih polos.

__ADS_1


"Untung aja tadi kamu pake cadar, kalau nggak, orang-orang pasti akan liatin kecantikan kamu," kata Rahman sambil melirik Fatimah.


"Gombalnya basi kak," ucap Fatimah singkat.


__ADS_2