My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
34. Kebahagiaan sesaat


__ADS_3

Fatimah berpikir sejenak, dengan mengambil nafas lalu ia berkata,"Baiklah aku akan lakukan kemauan kamu, tapi tolong jangan ganggu kak Rahman," tegas Fatimah menatap Sofia.


"Oke," jawab Sofia singkat.


"Beri aku waktu hingga pesta pernikahan kakak ku selesai, setelah itu aku akan pergi," tutur Fatimah yang tak henti menangis.


"Baik, nggak masalah," kata Sofia dan langsung pergi meninggalkan Fatimah.


***


Fatimah yang keluar dari toilet melihat Rahman yang berjalan ke arahnya. Fatimah memandang sosok laki-laki yang ada di hatinya itu, "Sampai kapan pun, kamu akan selalu ada di hati aku kak, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku," batin Fatimah menatap suaminya yang berjalan ke arahnya.


"Kok kamu lama sih," ucap Rahman sambil mencubit pipi Fatimah. "Ih apaan sih kak," Fatimah melepas tangan Rahman.


***


Sarah deg-degan karena sebentar lagi hari pernikahannya tiba, tepat hari Minggu ini ia akan berstatus sebagai istri Rico.


"Anak bunda lagi ngapain nih, ngelamun ya," ucap bunda yang mengagetkan Sarah.


"Aku deg-degan bunda, bentar lagi kan aku mau nikah, aku benar-benar nervous," keluh Sarah pada bunda.


"Itu hal biasa sayang, bunda dulu juga gitu kok," ucap bunda menenangkan Sarah.


***


Malam itu Rahman sedang duduk di ruang tamu sambil menonton bola. Fatimah yang berusaha menjadi istri yang baik membawakan secangkir kopi untuk Rahman. ia meletakkannya di meja,"Aku buatin kopi untuk kakak," ucap Fatimah sambil duduk di samping Rahman.


"Makasih ya sayang," ucap Rahman sambil menoleh ke arah Fatimah, "Iya sama-sama," jawab Fatimah.


Rahman kembali menonton bola di televisi.


Fatimah merasa ini adalah momen-momen terakhir bersama Rahman hingga ia bersikap sebaik mungkin.


Fatimah memijat lengan Rahman, "Pasti kamu kecapekan kan kak, sambil kamu nonton aku pijitin kamu ya," ucap Fatimah.

__ADS_1


Rahman menoleh ke arah Fatimah, "Akhir akhir ini kamu baik banget sama aku, perhatian, lembut, penyayang, sebenarnya ada apa Fatimah? apa kamu mau minta sesuatu, nggak pa pa sayang kamu tinggal bilang aja, apa pun itu akan aku beri," tutur Rahman sambil menatap Fatimah yang memijat lengan nya.


"O..jadi kakak pikir aku ini nggak tulus, semata-mata cuma karena ada maunya? kakak jahat bangat sih," cetus Fatimah sambil mencubit lengan Rahman.


"Aduh..sakit..nggak sayang, maksud aku nggak gitu," ucap Rahman sambil tersenyum.


"Kak..seiring berjalannya waktu, aku sadar, apa yang Allah beri ini adalah yang terbaik, namun apa pun yang terjadi nanti, kakak harus tetap husnuzon sama Allah ya," ucap Fatimah yang mengingat dirinya akan segera pergi.


"Iya, aku harus banyak-banyak bersyukur, karena Allah menghadirkan kamu dalam hidupku," tutur Rahman yang menatap mata Fatimah.


"Aku ke kamar dulu ya kak," ucap Fatimah dan buru-buru pergi ke kamarnya.


"Lah kok tiba-tiba pergi, mungkin Fatimah udah ngantuk kali ya," pikir Rahman yang melihat Fatimah buru-buru ke kamarnya.


***


Fatimah menangis di balik pintu kamarnya yang sudah ia kunci. "Apa yang akan terjadi nanti jika aku pergi kak, apa kamu akan tetap seperti ini, atau justru kamu bersedih hati, aku nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi nanti, tapi aku akan tetap percaya bahwa Allah akan menghadirkan cerita indah di lain hari, dan kalaupun cerita hidup ku berakhir, aku berharap kita bertemu di alam akhirat," batin Fatimah yang menangis tanpa bersuara.


***


Rahman duduk di meja makan memandangi wajah Fatimah, "Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia, karena kamu sangat mengindahkan rumah tangga kita," ucap Rahman yang merasa hatinya sejuk memandang Fatimah.


"Alhamdulillah kalau kamu bahagia kak," ucap Fatimah sambil tersenyum menatap Rahman.


"Memandang kamu ibarat memandang bulan diantara banyaknya bintang, ya bintang memang jauh berukuran besar dari pada bulan, namun dalam pandangan orang yang melihatnya dari bumi tetaplah bulan yang paling jelas, begitulah caraku memandang mu, meski banyak wanita dengan pesonanya masing-masing, namun tetaplah hanya kamu yang paling jelas dan bersinar terang dalam pandangan ku," ucap Rahman yang merayu Fatimah.


"Maasyaa Allah, kalaulah itu benar, pasti kamu akan setia selamanya," jawab Fatimah membalas gombalan Rahman.


"Pasti aku setia sayang," ucap Rahman sambil tersenyum menatap Fatimah.


"Aku juga pengen gombal kamu, tapi aku nggak tau apa-apa tentang kalimat gombalan," kata Fatimah yang sedang menuangkan air ke gelas.


"Seorang istri tidak perlu repot-repot merayu suaminya, melihat senyum kamu aja sudah tak terungkapkan bahagianya, apalagi kalau kamu mulai merayu, bisa-bisa aku terbang jauh," tutur Rahman yang mulai berlebihan.


"Memang gombalan kamu nggak ada lawan ya kak, kalau ada lomba gombal pasti kamu juara," ucap Fatimah yang kemudian tertawa.

__ADS_1


"Bisa aja kamu," kata Rahman yang juga tertawa.


"Kak, hari ini aku ke rumah bunda ya," ucap Fatimah yang meminta izin pada Rahman.


"Iya boleh, nanti aku antar ya," jawab Rahman yang mengizinkan Fatimah untuk menemui bunda.


***


Rahman mengantar Fatimah sampai di depan Rumah Ayah dan bunda. "makasih ya kak," ucap Fatimah sambil mencium tangan Rahman.


"Makasih untuk apa?" tanya Rahman. "Terimakasih udah hadir di hati aku," lanjut Fatimah yang tersenyum menatap Rahman.


"Udah mulai ketularan ya, malahan gombalan kamu lebih juara," kata Rahman yang mengelus kepala Fatimah.


"Iya dong, Selamat ya kak," ucap Fatimah yang tersenyum. "Selamat? selamat buat apa?" tanya Rahman penasaran.


"Selamat pagi," ucap Fatimah dan buru-buru masuk ke Rumah.


Rahman tersenyum bahagia menatap langkah istrinya menuju rumah itu. "Alhamdulillah terimakasih ya Allah, engkau telah berikan aku kebahagiaan yang tidak ternilai harganya, istri kecil ku Fatimah mulai bisa menerima ku, aku bersyukur memilikinya," batin Rahman yang amat bahagia.


***


"Assalamualaikum," sapa Fatimah pada Ayah dan bunda yang sedang mengobrol di ruang tamu.


"Waalaikumussalam, eh ada Fatimah, sini sayang, bunda pengen diskusi sama kamu tentang acara pernikahan Sarah nanti," ucap Bunda yang menyuruh Fatimah duduk di sampingnya.


Fatimah pun duduk di samping bunda, "Iya mau diskusi apa Bun?" tanya Fatimah menatap bunda.


"Ini nih, bunda bingung, menurut kamu dekorasi pelaminan yang bagus itu yang mana ya, bunda bingung semuanya bagus, Sarah juga nggak tau milih yang mana, katanya terserah bunda aja," jelas bunda sambil menunjukkan gambar dekorasi pelaminan pada Fatimah.


"Iya emang bagus semua sih Bun, tapi kayaknya yang biru itu lebih bagus deh," usul Fatimah yang menunjuk gambar itu.


"Iya juga ya, Ayah ..coba lihat, yang biru ini bagus nggak?" tanya bunda yang meminta saran Ayah.


"Bagus Bun," jawab Ayah.

__ADS_1


"Tuh kan, emang bagus Bun," tutur Fatimah menatap bundanya. Fatimah menatap kedua orangtuanya itu, ia menahan air matanya, menahan dirinya yang seolah ingin mengadukan seluruh rasa sakitnya.


__ADS_2