My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
44. Sembunyi tapi peduli


__ADS_3

Fatimah sedang sibuk memasak untuk Rahman, sambil memasak ia bercerita pada bi Siti. "Bi, jadi benar kak Rahman akan menikah?" tanya Fatimah. "Dengar-dengar sih iya, makanya nyonya Fatimah buru-buru temui tuan Rahman, tuan Rahman mungkin stres karena kelamaan nunggu nyonya, makanya dia mencoba mengalihkan pikiran dengan mencari pengganti nyonya Fatimah," jelas bi Siti.


"Aku nggak boleh temuin dia sekarang bi, aku nggak mau merusak kebahagiaan dia," ucap Fatimah yang masakannya hampir selesai.


Setelah selesai, Fatimah langsung menyajikan Ayam geprek kesukaan Rahman di atas meja. Saat Fatimah menuangkan air minum ke gelas, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki, yang tentunya itu adalah Rahman. Mendengar itu Fatimah buru-buru sembunyi di dapur. Bi Siti yang panik berusaha tenang di depan Rahman.


"Eh tuan udah pulang makan dulu tuan Rahman, pasti tuan lapar kan," sambut bi Siti.


"Nanti aja bi," jawab Rahman.


"Ayolah tuan, kali ini masakannya istimewa," bujuk bi Siti. "Apa yang istimewa sih bi," tutur Rahman yang penasaran. "Makanya makan dulu biar tuan tau apa yang istimewa," lanjut bi Siti. "Ya udah deh," ucap Rahman yang berjalan menuju ruang makan.


Rahman pun duduk, dan menatap hidangan itu,"tumben masakannya banyak bi, kayaknya enak nih," ucap Rahman memuji hidangan itu. "Iya pasti dong, silahkan makan tuan," tutur Bi Siti.


Rahman pun mulai mencicipi hidangan itu, seketika ekspresinya berubah,"Ini sih enak bangat bi, tapi masakan ini kok familiar bangat di lidah saya, kenapa ya," tutur Rahman yang bertanya-tanya.


Tiba-tiba terdengar suara pecahan piring dari arah dapur. Rahman spontan berdiri, "Suara apaan bi, emang di rumah ini ada orang?" tanya Rahman. Bi Siti makin khawatir bahwa Rahman akan mengetahui keberadaan Fatimah di dapur.


Perlahan Rahman melangkahkan kaki menuju ke dapur. Fatimah yang tak sengaja menjatuhkan piring itu pun panik, ia tak tahu harus lari kemana, untungnya dia punya akal untuk lari keluar lewat pintu dapur yang di kunci, ia menemukan kunci di tempat yang biasanya di simpan. Buru-buru Fatimah berlari keluar.

__ADS_1


Rahman memperhatikan seluruh isi dapur, namun ada yang janggal, ia melihat pintu dapur terbuka, yang berarti ada yang baru saja keluar dari pintu belakang. Rahman menatap ke arah luar, dan benar saja, Rahman melihat sosok perempuan yang berlari pergi. "Hah..aku nggak lagi lihat hantu kan," batin Rahman.


Tiba-tiba bi Siti datang, " maaf tuan, itu tadi saya lupa kunci pintunya," ucap bi Siti untuk menghilangkan kecurigaan Rahman.


"Tadi saya kayaknya ada lihat sosok perempuan berjilbab deh, tapi saya nggak lihat wajahnya," tutur Rahman. "Ah tuan Rahman mau nakut-nakutin saya ya," kaya bi Siti mengelak.


"Nggak bi, beneran tadi saya lihat perempuan," tegas Rahman. Bi Siti hanya terdiam karena takut akan ketahuan.


***


Rahman melanjutkan makan, namun ia masih terpikir kejadian tadi. "Kenapa aku merasa masakan ini seperti masakan Fatimah ya," batin Rahman yang sangat menikmati hidangan itu.


***


Fatimah mengambil selimut di kamar, diam-diam ia menyelimuti Rahman. Fatimah yang amat merindukan Rahman menatap wajahnya saat ia tidur. "Semoga tidurmu nyenyak kak," ucap Fatimah pelan sambil menatap Rahman.


***


Fatimah pun kembali ke rumah Lilis. "Kamu dari mana aja Fatimah, dari tadi aku telpon nomor kamu nggak aktif," tanya dokter Hadi yang khawatir. "Aku cuma jalan-jalan sebentar kok, bosan di rumah terus kak," elak Fatimah mencari alasan.

__ADS_1


Malam itu Fatimah masih terbayang akan sosok Rahman, "Kak, aku nggak tau kenapa, rasanya aku tidak ikhlas membiarkan perempuan lain menggantikan aku, aku tau apa yang aku rasa ini mungkin berkesan egois, tapi aku bisa apa, aku hanya akan bersembunyi dari kamu untuk membiarkan kamu bahagia," batin Fatimah yang melamun. "Eh mikirin apa," tanya Lilis yang tiba-tiba datang dan menepuk punggung Fatimah.


"Nggak lagi mikirin apa-apa kok, kamu yang ngagetin," elak Fatimah. "Oh ya, apa kamu benar-benar akan menghadiri pernikahan Fatih?" tanya Lilis. "Iya Lis, Fatih kan ngundang aku, apa salahnya kalau aku datang," tutur Fatimah. "Iya sih nggak salah, cuman ya kasian aja liat kamu nanti jadi baper di acara itu," kata Lilis sambil tersenyum seolah mengejek Fatimah.


"Ih apaan sih, baper kenapa, aku kan udah move-on kali, " jelas Fatimah.


"Aku tau tadi kamu habis dari rumah kak Rahman kan," ucap Sofia dengan serius.


"Kamu tau dari mana," tanya Fatimah.


"Ya Taulah, tapi Fatimah, kenapa kamu harus sembunyi sembunyi, harusnya kamu temui dia, sebelum semuanya terlambat, aku tau kalau hati kamu cuma untuk kak Rahman," tegas Lilis menasehati Fatimah.


"Untuk apa aku kembali Lis, ini adalah hukuman buat aku, karena mungkin dulu aku terlalu banyak menyakiti hatinya, biarkan aku terhukum karena ulahku itu, lagi pula aku malu jika kembali hanya untuk menggagalkan pernikahannya, padahal akulah yang pergi meninggalkan kak Rahman," Jelas Fatimah yang putus asa.


"Kamu nggak salah Fatimah, kamu pergi karena diancam sama wanita iblis itu, apa perlu aku yang membalas perempuan kejam itu?" cetus Lilis yang kesal.


Fatimah menghapus air matanya dan berkata, "Tidak perlu Lis, kita tidak perlu membalas orang lain hanya untuk mendapat kemenangan, biarkan saja dulu,aku hanya akan menjalaninya semampuku, aku tidak berharap banyak, Allah pasti akan mengatur yang terbaik untuk kita semua," tutur Fatimah.


"Fatimah, kenapa kamu putus asa kayak gini sih, tindakan kamu ini menunjukkan seolah kamulah yang paling bersalah, padahal dulu kamu pergi dengan keadaan yang amat lemah karena penyakit, justru kamulah yang jadi korbannya, aku nggak mau ngeliat masa depan kamu suram, pokoknya kita harus temui Kak Rahman," tegas Lilis yang sudah tidak tahan melihat sikap lemah Fatimah.

__ADS_1


"Udahlah Lis, aku malu kalau harus kembali dan menarik semua kata-kata ku pada kak Rahman, karena dulu aku yang menyuruhnya untuk menikah dengan laki-laki lain," tutur Fatimah.


"Sebenarnya kamu sayang gak sih sama diri kamu sendiri? Fatimah tolong buka pikiran jernih kamu, pikirkan baik-baik apa yang terbaik untuk semuanya, aku yakin kalau kak Rahman pun tidak akan bahagia menikah dengan perempuan iblis itu," tegas Lilis yang memberi semangat pada sahabatnya itu.


__ADS_2