
Rahman menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia menelpon Lilis lagi.
"Kenapa kamu matikan telpon Lis, kamu pasti tau Fatimah dimana kan?" tanya Rahman yang penasaran.
"Fatimah ada di Rumah sakit kak, Fatih kecelakaan," jawab Lilis yang terpaksa memberi tahu yang sebenarnya.
"Rumah sakit mana?" tanya Rahman, namun Lilis buru-buru mematikan telon lagi.
Untungnya Rahman langsung bisa menebak rumah sakitnya dan langsung menemui Fatimah di sana.
**
Rahman melihat Fatimah yang menangis di luar ruang rawat Fatih.
langsung saja Rahman menemui Fatimah. "Kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau kamu ada di sini, kamu tau nggak,, aku dari tadi pagi cariin kamu, aku mengkhawatirkan kamu, apa kamu tidak memikirkan itu," Rahman mengomel lagi sehingga Fatimah merasa risih dengan kedatangan Rahman.
"Kak Rahman ngapain ke sini, jangan berisik kak," tegur Fatimah dengan pelan.
"Ayo pulang, Fatih sudah ada yang jagain, kamu tidak perlu 24 jam berjaga di sini," tegas Rahman sambil menarik tangan Fatimah.
"Kak..please..aku mau di sini dulu, aku mau tau keadaan Fatih, lagipula Fatih itu teman aku, aku juga nggak ngapa-ngapain sama dia, disini kan ada keluarganya juga," kata Fatimah yang melepas tangannya dari Rahman.
"O..jadi gitu, kamu udah mulai melawan," ucap Rahman pelan tapi tajam.
"Siapa yang mau ngelawan, aku cuma jenguk teman, apa itu salah? lagipula aku juga nggak ngelarang kakak berteman sama siapa pun," tegas Fatimah menatap Rahman.
"Ya udah kalau gitu terserah kamu aja, aku nggak akan larang kamu, silahkan lakukan apa yang kamu mau," ucap Rahman pelan tapi tajam dan langsung pergi meninggalkan Fatimah di sana.
***
Fatimah dan Lilis masuk ke ruang rawat Fatih. "Fatimah..Lilis.. ternyata kalian masih di sini," ucap Fatih yang masih terbaring lemah.
"Iya..kamu cepat sembuh ya," kata Lilis menatap Fatih. Fatimah hanya menunduk karena merasa canggung berada di dekat Fatih.
"Makasih ya Fatimah, aku dengar kamu ikut membawa aku ke rumah sakit ini," ucap Fatih menatap Fatimah.
"Sama-sama, makanya lain kali kamu kalau nyetir itu lebih hati-hati," kata Fatimah pelan.
"Iya Fatimah," jawab Fatih yang sedari tadi tersenyum melihat Fatimah.
__ADS_1
***
Rahman kembali ke WH Hotel, ia yang duduk di ruangannya sangat kecewa dengan sikap Fatimah. Antara marah dan cemburu tidak dapat ia kontrol hingga gelas di mejanya pecah karena di lempar ke lantai.
Rico yang melihat itu langsung Faham bahwa Rahman pasti punya masalah. "Rico.." panggil Rahman yang melihat Rico di pintu itu.
"Iya pak" Rico buru-buru mendekat ke arah Rahman.
"Menurut kamu saya harus gimana, istri saya itu benar-benar keras kepala, dia lebih memilih menjenguk temannya daripada saya, saya tau dia pasti masih punya perasaan pada laki-laki itu," jelas Rahman yang menahan emosi.
"Istighfar dulu pak, biar lebih tenang, menurut saya sekarang pak Rahman tenangkan pikiran dulu, setelah itu kita cari solusinya," tutur Rico dengan pelan.
Rahman pun beristighfar berkali-kali dan berkata,"Solusinya apa, biasanya kamu pasti punya ide-ide cemerlang,"
"Menurut saya masalah kali ini adalah mengenai Perhatian, makanya saya sarankan bapak lakukan hal yang membuat istri pak Rahman harus memberikan perhatian lebih," usul Rico.
" Iya juga ya, Fatimah memperhatikan Fatih karena ia di rawat setelah kecelakaan, berarti aku harus sakit dulu biar dia memperhatikan aku," batin Rahman yang memikirkan suatu ide
"Oke..makasih Rico, sekarang saya tau apa yang harus saya lakukan," ucap Rahman sambil bergerak keluar ruangan itu.
Rahman buru-buru masuk lift untuk keluar dari gedung hotel itu. Ternyata di dalam lift ada Sofia yang mencoba mengobrol dengan Rahman.
"Makan siang bareng yok," ucap Sofia sambil membenarkan hijabnya.
"Aku lagi nggak lapar" tolak Rahman singkat.
"Oh gitu, kamu tau nggak apa yang beda dari aku hari ini," tanya Sofia sambil senyum.
"Apa?"
"Ih..Masa kamu nggak lihat sih, hari ini aku pakai hijab loh," jelas Sofia yang berharap Rahman memperhatikannya namun Rahman sama sekali tidak menatapnya.
***
Di tengah hujan deras Rahman keluar dari gedung itu, sementara Sofia masih mengikutinya,"Rahman kamu mau kemana, ini masih hujan deras loh," tegur Sofia yang mengkhawatirkan Rahman.
Rahman tak mendengarkan itu, ia langsung berdiri di tengah derasnya hujan sambil bermain air layaknya anak kecil.
Seluruh staf yang ada di hotel itu memperhatikan tingkah pimpinan yang aneh.
__ADS_1
Sarah yang juga bekerja di hotel itu kaget dan panik melihat tingkah kakaknya yang tidak masuk akal.
"Astaghfirullah kak Rahman ngapain di tengah hujan," batin Sarah yang melihat Rahman dari kejauhan.
Sarah buru-buru mengambil payung dan menyusul Rahman, namun Rico menahan Sarah.
"Sarah...mau kemana," tanya Rico yang menghentikan langkah Sarah.
"Aku mau nyusul kak Rahman, dia paling nggak bisa hujan-hujanan, nanti dia sakit," ucap Sarah yang khawatir.
"Jangan di ganggu, mungkin pak Rahman hanya ingin menikmati hujan, hujan itu Rahmat, pak Rahman pasti ingin menikmati Rahmat yang diturunkan Allah di bumi ini," jelas Rico menatap Sarah.
"Kamu pasti tau sesuatu kan? apa jangan-jangan kamu.."
"Jangan menduga duga Sarah, kamu pasti berpikiran buruk tentang saya kan" Rico menghentikan perkataan Sarah.
"nggak nyangka Pak Rahman akan senekat ini, tapi kenapa ya istrinya tidak bisa menerima pak Rahman," batin Rico yang penasaran.
"Kamu pasti tau sesuatu, kamu kan dekat sama kak Rahman," tutur Sarah yang curiga pada Rico.
"Kamu yang lebih tau Sarah, kamulah adiknya, kamu yang lebih tau masalah apa yang mungkin terjadi pada pak Rahman," kata Rico menatap Sarah.
***
Benar saja, setelah hujan-hujanan Rahman bahkan tidak sanggup untuk menyetir mobil, Untungnya Rico yang pengertian mengantar Rahman pulang.
"Harusnya pak Rahman nggak perlu senekat ini, banyak cara lain untuk mendapat perhatian istri pak Rahman," ucap Rico sambil menyetir mobil.
"Ini bukan apa-apa, perjuangan saya masih panjang," kata Rahman yang sedari tadi bersin.
"Kayaknya bapak demam deh," tutur Rico yang mengkhawatirkan Rahman.
"Baguslah, berarti saya berhasil, tapi kok kepala saya pusing bangat yah," keluh Rahman yang sudah lemah karena demam.
***
Sesampainya di rumah Rahman masih menyempatkan sholat magrib meski dengan kondisi lemah, namun kali ini ia tidak menunaikan sholat di mesjid.
Setelah itu ia langsung terbaring di tempat tidur, karena kepalanya terasa berat dan kedinginan.
__ADS_1
Ia menunggu kedatangan Fatimah yang masih belum kembali dari rumah sakit.