
Kali ini Fatimah makan dengan lahap tanpa gengsi karena seharian ia belum makan. Rahman hanya menatap wajah istrinya itu sambil menahan agar tidak menunjukkan kemarahannya.
"Nggak usah seheboh itu kali kak, aku tadi cuma ke rumah teman kok," ucap Fatimah dengan santainya.
"Kemana pun itu harusnya kamu izin dulu, supaya aku juga bisa antar kamu kemanapun," tutur Rahman dengan pelan.
"Oh, ya udah, mau gimana lagi kan udah terlanjur," ujar Fatimah tanpa merasa bersalah.
"Seharian ini kamu ngapain?" tanya Rahman dengan serius.
"Nggak kemana-mana, tadi aku cuma...,"
"Cuma apa?" Rahman penasaran.
"Aku cuma mengurus beasiswa, aku mau kuliah, tapi tadi aku nggak bisa ikut daftar beasiswa, karena udah nikah, semua itu gara-gara kakak yang maksain pernikahan ini," kata Fatimah dengan kesalnya.
"Beasiswa? untuk apa kamu capek nyari beasiswa, seolah aku tidak sanggup membiayai kamu, lagian kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku Fatimah, aku tidak akan melarang kamu kuliah, seluruh keperluan kamu sudah menjadi tanggung jawab ku," tutur Rahman yang menatap Fatimah.
"Tidak perlu, kakak sudah menghancurkan mimpi ku sejak awal, untuk apa membantuku kuliah? aku tidak butuh itu, tidak usah beri aku uangmu, simpan saja harta mu, aku akan kuliah sambil bekerja," tegas Fatimah dengan tajam.
"Fatimah, jangan halangi aku untuk melaksanakan kewajiban ku sebagai suami," ucap Rahman pelan.
"Jangan sebut-sebut kata-kata 'suami' aku benci itu," bentak Fatimah sambil meninggalkan Rahman di meja makan.
Rahman hanya diam membisu melihat sikap Fatimah yang semakin kasar padanya. ini tak sesuai harapannya. Rahman mengira Fatimah akan mudah untuk menerimanya sebagai suami karena Fatimah sangat menyayanginya sebelumnya.
Fatimah mengunci diri di kamar. tak sengaja ia melihat Fotonya dengan Rahman sewaktu kecil di atas meja. Fatimah terbawa emosi hingga ia memecahkan Foto dengan bingkai kaca itu.
Fatimah tak kuasa menahan air mata. hampir setiap saat dia letih karena menahan sedih.
***
__ADS_1
Pagi hari Rahman bersiap-siap berangkat bekerja. Rahman dan Fatimah sarapan bersama. "Masalah kuliah kamu tidak usah pikirin, aku akan urus pendaftaran kamu," ucap Rahman memulai pembicaraan.
"Aku mau kuliah di Turki," tegas Fatimah yang sengaja supaya bisa jauh dari Rahman.
"Oh, ya udah nanti kita sama-sama ke sana sekalian bulan madu di sana, aku akan beli rumah di sana, supaya kita bisa tinggal di sana selama kamu kuliah," kata Rahman dengan santainya.
Fatimah sangat kesal mendengar kata-kata Rahman hingga ia membengkokkan sendok di tangannya sambil berkata "Nggak usah urus kuliah aku lagi, aku bisa urus sendiri,"
"Sayang... sebenarnya mau kamu itu seperti apa, kamu cerita dong, biar aku tau," tutur Rahman dengan lembut.
"Aku mau cerai," tegas Fatimah singkat.
"Nggak, sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu," tegas Rahman menatap Fatimah.
***
Di hotel milik keluarga Rahman,,
Rahman meminta pendapat Sekretarisnya Rico mengenai Fatimah.
"Menurut saya, bapak perbanyak sabar aja, mungkin istri bapak itu hanya belum siap saja menerima keadaan saat ini, tapi cepat atau lambat dia pasti akan luluh, wanita memang begitu pak, harus kita dulu yang ngemis, nanti kalau udah cinta pasti dia yang gak mau jauh dari bapak, sama satu lagi pak, pak Rahman jangan terlalu keras sama dia, coba bapak itu bersikap sebagai teman untuk dia, sehingga dia bisa nyaman sama bapak," jelas Rico sekretaris Rahman itu.
Handphone Rahman berdering, ia mengangkat telepon itu yang ternyata dari Fatimah.
"Halo Assalamualaikum Sayang," sapa Rahman di Telepon. "Waalaikumussalam, gila yah, kenapa di depan rumah ada tiga orang penjaga suruhan kakak, aku ini bukan tahanan, kak...apa ini tujuan kamu nikahin aku, kamu mau aku gila di kurung di rumah ini," Fatimah langsung mengomel di telepon.
"Emangnya kamu mau kemana sayang, ya udah aku pulang ya, tunggu sebentar, aku akan temani kamu kemanapun yang kamu mau, atau kamu mau kita traveling dulu?" tanya Rahman yang mencoba menarik perhatian Fatimah.
"Geli bangat dengar kata 'sayang' dari si tua ini," batin Fatimah yang langsung mematikan telepon.
Tak butuh waktu lama, Rahman langsung bergerak cepat ke rumah untuk menemui istrinya.
__ADS_1
***
Rahman sampai ke rumah, namun ternyata Fatimah sudah tertidur di sofa. "Siang bolong begini masih bisa tidur ya," ucap Rahman sambil tersenyum memperhatikan wajah cantik Fatimah yang tertidur.
Rahman mendekatkan wajahnya bermaksud mencium kening Fatimah, namun Fatimah terbangun dan karena kaget ia dengan spontan memukul wajah Rahman dengan buku yang ada di tangannya, hingga hidung Rahman berdarah.
"Maaf...maaf... lagian kakak ngagetin aja deh," ucap Fatimah sambil memperhatikan hidung Rahman yang berdarah.
"Nggak pa pa..," Rahman menahan hidungnya agar darah tidak menetes terlalu banyak.
"Lagian jadi orang itu jangan kegenitan kak, gini nih akibatnya, maaf ni ya bukannya aku jahat tapi kakak itu harusnya sadar dong," ucap Fatimah pelan.
"Aku nggak mau tau, kamu harus tanggung jawab," tegas Rahman melototi Fatimah.
"Nggak ...aku nggak salah, kakak yang salah, siapa suruh tadi ngagetin," elak Fatimah yang membela diri.
"Aduh...sakit..hidung ku kayaknya patah nih," Rahman pura-pura menekan hidungnya.
"Ya udah sini aku obati," ucap Fatimah yang kurang ikhlas. Fatimah membersihkan dan mengompres dingin hidung Rahman yang duduk di sebelahnya. "Makanya jadi orang itu jangan jahat jahat kak, nanti kalau udah kena azab baru tau rasa," ucap Fatimah menyindir Rahman. "Kamu tuh mau jadi istri durhaka ya," Rahman memegang tangan Fatimah.
"Ih ...apaan sih pegang-pegang tangan orang," Fatimah menghempaskan tangan Rahman.
"Jadi sebenarnya hari ini kamu mau aku temani kemana," tanya Rahman pada istrinya itu.
"Aku kangen sama ayah, bunda dan kak Sarah, aku mau ke sana," ucap Fatimah menatap Rahman.
"Ya udah kamu siap-siap, kita akan ke sana," kata Rahman sambil mengelus kepala Fatimah.
***
Di mobil Fatimah hanya terdiam, ia tak sabar bertemu sang ibunda. "Apa yang membuat kamu menyukai Fatih?" tanya Rahman yang memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kenapa kakak nanya nanya tentang Fatih," Fatimah sedikit kesal. "Aku hanya ingin tau," Rahman tersenyum tipis.
"Tidak ada yang bisa menggantikan Fatih di hati ku, aku tak pernah menemui laki-laki seperti dia, dia tidak pernah memaksakan kehendak orang, dia menghargai wanita, dan bahkan ia rela pergi jauh menempuh pendidikan ke Turki hanya supaya jauh dari aku, karena dia takut mendekati zina, dia menyuruh ku menunggunya, tapi aku malah menikah dengan laki-laki yang tidak kuinginkan menjadi pasangan ku," jelas Fatimah dengan matanya yang berkaca-kaca.