
Rahman dan Fatimah menyadari bahwa Sarah menyaksikan pertengkaran mereka.
"Kak Rahman.. Fatimah...apa yang udah kalian lakukan, ternyata ini yang selama ini terjadi dibelakang kami, di depan kalian pura-pura menjadi pasangan bahagia, tapi ternyata gini?" ucap Sarah yang matanya berkaca-kaca melihat kenyataan yang terjadi pada kedua saudaranya.
"Sarah..kamu tenang dulu ya, aku bisa jelaskan ini, tapi tolong jangan kasih tau apa-apa dulu sama ayah dan bunda," ucap Rahman yang menenangkan adiknya Sarah.
"Iya kak Sarah, yang kamu lihat ini memang nyata," ucap Fatimah pelan tapi tajam.
"Kenapa Fatimah, kenapa kalian mempermainkan pernikahan yang sudah mengatasnamakan Allah?" Sarah kecewa pada kakak dan adiknya.
"Kak, maafin aku sudah mengecewakan kalian semua," Fatimah menangis memeluk Sarah.
"Kenapa kamu simpan kesedihan kamu dari kakak?" ucap Sarah di pelukan Fatimah. "Aku menikah dengan kak Rahman untuk membahagiakan Ayah dan bunda, bukan untuk membahagiakan diriku kak, tapi tolong jaga rahasia ini kak , jangan sampai ada yang tahu," ujar Fatimah berderai air mata.
"Tapi Fatimah..Allah maha tau," tutur Sarah menatap adiknya. "Sarah..kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja, perlahan, rumah tangga aku dan Fatimah akan membaik," ucap Rahman menenangkan Sarah.
"Membaik apanya? aku sudah bilang berapa kali kak, aku tidak akan pernah bisa menganggap kamu suami, kamu ku anggap kakak ku," jelas Fatimah dengan tegas.
"Jadi sekarang mau bagaimana Fatimah, apa yang akan kalian lakukan saat ini?" tanya Sarah berderai air mata.
"Aku ingin perceraian dalam waktu dekat," tegas Fatimah.
"Tidak, Allah membenci perceraian Fatimah," sanggah Rahman menatap istrinya.
Sarah hanya terdiam dan menangis melihat pertengkaran kakak dan adik angkatnya itu.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana kak? apa kita akan terus-terusan gini?" Fatimah menatap tajam Rahman.
"Kasih aku kesempatan dua bulan, jika dalam dua bulan kamu tidak juga mencintai aku, aku rela menceraikan kamu," kata Rahman dengan berat hati.
"Baik, hanya dua bulan kan, setelah itu ceraikan saya," gumam Fatimah menatap Rahman.
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi," ucap Rahman pelan.
Sarah terlalu sedih, ia pergi ke kamar untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Fatimah yang merasa bersalah menyusul Sarah di kamarnya. "Kak, maafin aku yang udah buat kakak kecewa," ucap Fatimah memeluk kakaknya Sarah.
"Jangan minta maaf sama kakak Fatimah, aku juga tidak bisa menyalahkan kamu, bagaimana pun juga kamu sudah mau melakukan pernikahan ini semata-mata hanya untuk kebahagiaan ayah dan bunda," kata Sarah yang mengelus kepala adiknya.
"Tolong rahasiakan ini kak, aku tidak mau membuat ayah dan bunda sedih," ujar Fatimah di pelukan Sarah.
"Apa yang membuat kamu tidak bisa menerima kak Rahman sebagai suami kamu? Fatimah... sebenarnya sejak kamu kecil, aku sudah melihat Rahman sangat perhatian sama kamu, sampai-sampai aku pernah cemburu karena beranggapan bahwa akulah adik nya yang sebenarnya, sehingga harusnya akulah yang paling diperhatikan. sampai pada saat kamu remaja, aku mulai melihat perhatian Rahman ke kamu itu berbeda, seolah bukan perhatian yang diberikan kakak pada adiknya, sejak kamu SMP aku sudah mulai melihat sikap Rahman yang menjagamu layaknya menjaga orang yang di cintai, ia selalu cemburu jika kamu punya teman laki-laki, tapi kamu tidak menyadari itu," jelas Sarah panjang lebar.
"Kak Rahman laki-laki yang baik, tapi aku menganggap nya sebagai kakak, tidak lebih," ucap Fatimah pada Sarah.
"Cobalah untuk membuka hati," ujar Sarah pelan.
Fatimah hanya menunduk.
***
Pagi hari, Ayah, bunda dan Sarah pamit pulang.
"Hati-hati di jalan ya, Bunda dan Ayah sering-sering ke sini ya, soalnya aku nggak bisa lama-lama nggak ketemu kalian," ucap Fatimah yang masih manja.
Ayah menepuk pundak Rahman sambil berkata,"Jaga Fatimah kami, sekarang dia adalah tanggung jawab mu,"
"Iya Ayah, aku akan menjaga Fatimah," ucap Rahman pada Ayah.
***
Fatimah buru-buru bersiap untuk berangkat kerja, karena hari ini adalah hari pertama bekerja.
"Kamu mau kemana?" tanya Rahman
"Mau kerja"
"Ya udah ayok bareng," ajak Rahman.
"Nggak pantas Housekeeping diantar pimpinan, aku naik ojek online aja," ucap Fatimah menolak tawaran Rahman.
__ADS_1
"Nggak,, kamu nggak boleh naik ojek, aku nggak mau ya..kalau kamu harus diboncengi tukang ojek," tegas Rahman melototi Fatimah.
"Terus mau gimana lagi, nanti kalau aku satu mobil sama kamu, orang-orang pada tau dong kalau aku ini istri kamu," lanjut Fatimah yang menolak tawaran Rahman.
"Nggak akan ada yang tau, udah kamu tenang aja, nanti aku parkir diluar kawasan hotel aja, biar nggak ada yang lihat," kata Rahman yang meyakinkan istrinya.
"Ya udah deh, daripada nanti terlambat," ucap Fatimah yang buru-buru naik ke mobil.
***
Rahman menyetir sambil sesekali melirik Fatimah.
"Harusnya kamu nggak usah kerja sayang, aku merasa nggak berguna melihat kamu harus jadi housekeeping gini, aku nggak tega melihat kamu nanti bersih-bersih di hotel aku sendiri," ujar Rahman memulai pembicaraan.
"Kak...aku nggak mau cuma numpang hidup sama kamu," ucap Fatimah pelan. "Itu namanya bukan numpang hidup, tapi kewajiban aku sebagai suami," jelas Rahman menatap istrinya.
"Kak..aku merasa kalau aku itu jadi beban di hidup kalian, aku bukan siapa-siapa, tapi Ayah dan bunda udah baik sama aku, mau membesarkan aku sampai saat ini, dan kamu.., aku tau kamu menikahi aku karena kasihan," kata Fatimah sambil menatap ke arah kaca mobil.
"Untuk apa aku menikah kalau hanya berlandaskan rasa kasihan? aku menikahi kamu karena aku cinta Fatimah, sudah lama aku memendamnya," jelas Rahman pada Fatimah.
"Sulit untuk saya percaya, kamu terlalu sempurna kak, mana mungkin kamu suka sama anak pungut," Fatimah seolah merendahkan diri.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku akan membuktikannya dalam waktu dua bulan ini," tegas Rahman.
Fatimah hanya terdiam menatap ke arah kaca mobil.
"Oh ya, besok malam ada acara silaturahmi para pengusaha, aku di undang, kamu ikut ya," pinta Rahman pada Fatimah.
"Aku nggak bisa, aku capek kak, lagian apa kamu nggak malu kak, punya istri kayak aku?" Fatimah merendahkan diri lagi.
"Malu? kenapa harus malu, justru kamu istri sempurna buat aku, cantik, Solehah, meski saat ini kamu belum bisa terima aku" kata Rahman memuji istrinya.
"Mana mungkin perempuan seperti aku ini kamu bilang sempurna, nggak masuk akal kak," ujar Fatimah melirik Rahman.
"Iya nggak masuk di akal, tapi masuk di hati," ucap Rahman menatap manis Fatimah.
__ADS_1