My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
49. Dilamar


__ADS_3

Siang itu Rahman dan Fatimah langsung bergegas ke rumah Sofia, dan benar saja, di rumah itu tampak Sofia yang tengah melakukan perlawanan dengan dua lelaki berjaket hitam yang wajahnya tampak sangar.


"Permisi.." ucap Rahman sambil mengetuk pintu itu meskipun terbuka.


"Rahman," Sofia spontan menatap ke arah pintu. "Iya ini aku, aku ke sini untuk membantu kamu," jelas Rahman.


"Untuk apa Rahman, kamu ke sini cuma untuk memamerkan bahwa kamu sudah kembali bersama istri kamu, kamu ke sini cuma untuk menyalahkan aku kan," ucap Sofia sambil menangis tersedu.


"Kak Sofia yang sabar ya, jangan emosi dulu, kami ke sini ingin membantu," tutur Fatimah yang berdiri di samping Rahman.


Rahman dengan tegas berbicara pada kedua lelaki sangar itu, "Berapa hutang Sofia yang harus di lunasi?" tanya Rahman.


"500 juta," ucap laki-laki itu.


Rahman pun mentransfer seluruh hutang Sofia pada kedua laki-laki itu.


Ibu Sofia pun merasa berhutang pada Rahman dan Fatimah, "Terimakasih ya nak, saya nggak tau lagi harus berkata apa, entah bagaimana cara saya melunasi itu pada kalian," ucap ibu Sofia yang penuh syukur. "Tidak usah di bayar Bu, saya ikhlas kok," tutur Rahman dengan tulus.


"Kenapa kamu masih membantu aku?" tanya Sofia yang merasa malu. "Aku sebenarnya enggan membantu kamu, Fatimah lah yang membujukku untuk membantumu," tutur Rahman. "Aku tidak butuh dikasihani," tegas Sofia yang merasa malu pada Fatimah.


Ibu Sofia pun menegurnya, "Sofia..nggak boleh gitu nak, mereka ini sudah membantu kita, harusnya kita berterima kasih," tegur ibu Sofia.


Sofia pun terdiam, dan sebenarnya ia pun sadar kalau Fatimah terlalu baik padanya.


Saat Rahman dan Fatimah berbalik badan dan berjalan menuju mobil untuk pulang, tiba-tiba Sofia menghentikan langkah Fatimah.


"Fatimah, maafin aku ya, aku sadar selama ini aku terlalu jahat sama kamu, aku benar benar perempuan yang menghinakan diri sendiri, Fatimah aku pantas menebus semua kesalahanku," ucap Sofia yang berlutut di hadapan Fatimah.


Fatimah memeluk Sofia dan berkata, "Sudahlah kak Sofia, aku sudah memaafkan semua yang telah berlalu, biarlah saat ini kita sama-sama memperbaiki kesalahan, aku harap peristiwa ini bisa menjadi bahan untuk kakak berubah menjadi lebih baik," tutur Fatimah.


"Aku bodoh karena dulu menganggap kamu musuh hanya karena cinta konyol ku, padahal aku tau kalau kamu sudah menjadi istri Rahman, sekarang aku menyesal Fatimah, bukannya membalas ku tapi kamu malah membantuku," Sofia menangis haru di hadapan Fatimah.

__ADS_1


"Sudahlah kak, yang terpenting sekarang masalah hutang kakak udah kelar, jadi nggak boleh sedih-sedih lagi, masih ada hari esok yang menanti kakak untuk membuka lembaran baru yang lebih baik," jelas Fatimah menasehati Sofia.


***


Sore itu Lilis baru saja pulang kuliah, ia berjalan menuju gang rumahnya, tiba-tiba ia bertemu Hadi di depannya.


"Kak Hadi? kok bisa di sini," Lilis bertanya tanya.


"Iya ini saya, saya kembali karena ada hal yang janggal," jelas dokter Mahadi.


"Apa? ada yang ketinggalan ya kak?" tanya Lilis.


"Tidak ada yang ketinggalan sih, cuma ada hal janggal yang harus aku selesaikan, kalau tidak aku akan selalu kepikiran," tutur Mahadi.


Lilis semakin penasaran mendengar perkataan dokter Hadi.


"Saya nggak ngerti apa maksud kak Hadi, hal janggal apa kak?" tanya Lilis.


Lilis spontan terdiam. "Aku nggak mimpi kan?" batin Lilis yang tidak menyangka bahwa dokter Hadi pun menyukainya. Namun Lilis tetap berusaha untuk tetap tenang. "Saya nggak bisa jawab kak, kalau memang serius silahkan temui orang tua saya," ucap Lilis cuek dan pergi meninggalkan dokter Hadi di sana.


***


Fatimah kaget dengan kedatangan Hadi ke rumahnya, "Bukannya kakak udah pulang?" tanya Fatimah. "Aku belum pulang Fatimah, aku ingin menyelesaikan urusan ku dulu," tutur Dokter Hadi.


"Urusan apa kak?" tanya Fatimah.


"Aku ingin melamar Lilis," tegas Mahadi.


"Lah kok bisa?" Fatimah terkejut mendengar itu. selama beberapa bulan mengenalnya aku merasa dia itu perempuan yang baik," jelas dokter Hadi.


"Tapi kak, Lilis itu seusia aku loh, kakak udah tua kali," canda Fatimah meledek Dokter Mahadi.

__ADS_1


"Kamu bukannya bantuin malah ledekin kakaknya sendiri, gimana sih," cetus Mahadi sambil mencubit pipi Fatimah.


"Nggak tau nih Fatimah, berarti kamu juga mau ledekin aku tua dong," ucap Rahman yang tiba-tiba muncul.


"Kan emang fakta kak, gimana sih, kalian itu kayaknya menolak tua ya," tutur Fatimah sambil tertawa.


"Ganteng begini di bilang tua," ucap Rahman menatap Fatimah.


***


Malam itu Rahman dan Fatimah membantu dokter Hadi untuk menemui kedua orang tua Lilis. untungnya saat itu orangtuanya sudah kembali dari luar kota.


Dokter Hadi dengan serius menyampaikan niatnya pada kedua orang tua Lilis. "Saya Mahadi pak, Bu, saya seorang dokter, kedatangan saya ke sini untuk melamar putri bapak dan ibu," tutur Mahadi dengan serius menatap kedua orang tua Lilis.


"Iya Tante, dokter Hadi ini kakak saya," sambung Fatimah yang sedari dulu sudah dekat dengan keluarga Lilis.


"Lilis ini masih kuliah nak Hadi, masih terlalu muda," ucap Ayah Lilis.


namun Lilis tampaknya sangat berharap agar ayah dan ibunya menyetujuinya.


"Pak, Bu, sebenarnya usia Lilis yang masih muda tidak masalah bagi saya, karena saya tau dibalik itu Lilis punya pemikiran yang matang dan tegas, akhlaknya yang baik menuntun saya datang kesini untuk melamarnya," jelas Mahadi dengan serius.


"Ya udah kalau gitu saya serahkan semuanya pada Lilis, kalau memang ia menerima, kami setuju-setuju saja, karena saya kenal betul dengan Fatimah, Fatimah pasti juga ingin yang terbaik untuk lilis," tutur ibu Lilis.


"Iya Tante insyaallah kakak saya ini bertanggung jawab, pasti ia akan menjaga Lilis, dan menuntun Lilis ke jalan yang benar," tutur Fatimah.


"Bagaimana Lis apa kamu bersedia nak?" tanya Ayah pada Lilis.


Seketika suasana menjadi tegang menunggu jawaban dari lilis. "Iya, aku bersedia menjadi istri kak Hadi,tapi aku nggak mau meninggalkan kuliahku di sini," tegas Lilis.


"Jangan khawatir Lis, saya yang akan pindah kerja ke sini, saya akan memulai lembaran baru di sini, supaya saya selalu bisa memantau Fatimah dan juga menjaga kamu," jelas Mahadi pada Lilis.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku senang kamu bakal nikah Lis, ujung-ujungnya kamu nikah muda juga ya, sana kayak aku," ucap Fatimah yang tersenyum menatap Lilis. "Iya juga ya, kok bisa ya," ucap Lilis yang juga tersenyum menatap Fatimah.


__ADS_2