
Malam itu ayah mengumpulkan anggota keluarga di ruang tamu karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Ayah mengumpulkan kalian di sini karena ada sesuatu hal yang amat penting," ucap Ayah dengan serius.
Rahman, Sarah, Fatimah dan Bunda menatap sang Ayah yang berbicara.
"Fatimah..," panggil Ayah pada putrinya.
"Iya ada apa Ayah,?" Fatimah penasaran.
"Ayah akan menikahkan Rahman dengan kamu nak, mengingat kamu adalah putri kami yang kami sayangi, kami tidak ingin sembarang lelaki meminang mu," tutur Ayah dengan pelan menatap Fatimah.
Fatimah kaget dengan kata-kata ayahnya. "Apa? nikah? ayah bercanda ya, aku mana mungkin nikah sama kak Rahman, lagi pula aku masih mau lanjut kuliah, kalaupun aku harus menikah kenapa harus dengan kak Rahman," tegas Fatimah yang masih bingung.
"Fatimah, sebenarnya bunda merahasiakan ini dari kalian, bunda dan almarhumah ibu kandung kamu dulu pernah menjanjikan untuk menikahkan putra-putri kami, bunda dan ibu kandung mu berteman baik saat kamu masih muda dulu, lagi pula apa salahnya nak," bunda membujuk Fatimah.
Rahman hanya tertunduk dan tidak berani menatap Fatimah.
"Fatimah, apa salahnya berbakti kepada kedua orang tua dek, anggap saja ini adalah wujud dari bakti kamu terhadap ayah dan bunda," bujuk Sarah menatap Fatimah.
Fatimah yang masih shock dengan perintah orangtuanya itu meninggalkan ruang tamu. ia menyendiri dan merenung di kamar.
" Ya Allah, perintah macam apa ini, kenapa aku harus menikah dengan kakak ku sendiri, aku tahu aku harus berbakti, tapi tidak begini caranya, sungguh aku mencintai Fatih, kami sudah memiliki komitmen, bagaimana mungkin aku harus memperlakukan kakak ku sebagai suami, aku tidak bisa melewati ini," batin Fatimah yang menangis di kamar.
***
Keesokan harinya Fatimah pergi ke suatu kafe dan menyuruh kakaknya Rahman untuk datang ke sana. Fatimah bermaksud meminta tolong pada Rahman untuk berbicara baik-baik pada ayah dan bunda.
"Ada apa Fatimah, kenapa kita harus bicara di tempat ini, kan bisa di rumah," Rahman memulai pembicaraan.
"Aku hanya ingin bicara dengan kakak, aku mau kakak bicara sama ayah dan bunda agar rencana pernikahan ini di batalkan, kakak pasti juga nggak mau kan dinikahkan sama aku, bagaimana pun juga kita itu saudara, meskipun aku anak pungut," tegas Fatimah dengan lembut tapi tajam.
__ADS_1
"Aku tidak bisa Fatimah, apa yang membuat kamu menolak dinikahkan dengan ku, Fatimah aku akan menjadi seperti apa yang kamu mau, asalkan kamu mau menjadi istriku," ucap Rahman dengan serius.
"Apa? kak.. bagaimana mungkin aku menjadi istrimu, aku menganggap mu sebagai kakak ku, kakak gila ya, kakak baru pulang dari Singapura, kenapa tiba-tiba jadi begini?" tanya Fatimah dengan nada keras karena ia tak menyangka bahwa ternyata Rahman juga menginginkan pernikahan ini.
"Apa kamu mau melihat ayah dan bunda bersedih?, lagi pula ini adalah wasiat dari almarhumah ibu kandung kamu, ayah dan ibu kandung mu sudah tiada Fatimah, dan ini adalah wasiat mereka, apa kamu mau menolaknya?" tanya Rahman beruntun.
"Aku sudah punya calon suami," tegas Fatimah pelan tapi tajam.
"Aku tidak perduli, tidak ada laki-laki yang boleh meminang mu selain aku," ucap Rahman dengan serius.
"Kenapa jadi gini kak? kenapa kakak menghadapkan aku pada situasi yang aku benci," Fatimah menangis di hadapan Rahman.
"Fatimah, ini yang terbaik untuk kita," ucap Rahman menatap Fatimah.
"Terbaik untuk mu , bukan untuk ku," cetus Fatimah dan meninggalkan Rahman di Kafe.
***
Sambil menangis Fatimah berdoa, "Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia, tetapkan lah hatiku pada pilihan yang tepat, bantulah hamba untuk mendapatkan petunjuk,"
Usai sholat Fatimah masih merenungkan masalah nya." aku telah mencintai Fatih, ku kira kisah cintaku dengan Fatih akan seperti Ali dan Fatimah, yang berjodoh tanpa pacaran, begitupun aku yang memilih untuk menanti Fatih tanpa hubungan pacaran, namun kenyataannya aku malah harus menikah dengan laki-laki yang ku anggap kakak ku," Batin Fatimah.
***
Sarah sangat mengerti perasaan Fatimah saat ini ia mengetuk pintu kamar Fatimah seusai subuh.
"Fatimah..boleh aku masuk?"
"Silahkan kak," Fatimah menghapus air matanya seolah tidak mau kakaknya tau kesedihan hatinya.
"Fatimah...kakak mengerti bagaimana kacaunya pikiran dan hati kamu saat di jodohkan dengan kak Rahman, awalnya aku juga tidak menyangka ini bisa terjadi, tapi kalau di pikir-pikir ini memang sebuah jalan yang baik, dan suatu peluang bagi kamu untuk membahagiakan ayah dan bunda," kata Sarah sambil mengelus kepala Fatimah.
__ADS_1
"Entahlah kak, kakak kan tau sendiri aku sedang menanti Fatih untuk datang melamar ku setelah lulus kuliah," ucap Fatimah yang menangis.
***
Ayah kembali mengumpulkan anggota keluarga untuk membicarakan rencana pernikahan.
"Bagaimana Fatimah, jika kamu bersedia pernikahan ini akan dilaksanakan Minggu depan," ucap Ayah dengan serius.
Fatimah tak berhenti menangis membayangkan sosok Fatih berada di sana. namun demi kebahagiaan ayah dan bundanya ia rela menggugurkan bahagianya. ia akan merasa bersalah jika menolak karena ayah dan bunda sudah mau membesarkannya dengan baik kayaknya putri kandung.
"Iya, Fatimah bersedia ayah," ucap Fatimah dengan berat, sedang ia tak berhenti menangis.
Rahman begitu lega dengan jawaban Fatimah namun di satu sisi ia tak tega melihat kesedihan Fatimah.
***
Malam itu Fatimah tidak sengaja berpapasan dengan Rahman saat hendak mengambil air minum.
"Kak, kamu akan menyesal menikah dengan saya, saya tidak akan bisa menjadi istri yang baik, saya masih terlalu muda, kamu jauh lebih tua, saya tidak sebaik apa yang kamu kira," ucap Fatimah dengan tajam seolah itu bukanlah dirinya.
"Tidak masalah," kata Rahman dengan santai.
"Nanti sifat asliku akan terlihat, aku paling malas mandi, bau badan ku bisa membuat manusia pingsan," lanjut Fatimah dengan serius.
"Tidak masalah, justru bagus, aku masih sanggup kok untuk merawat kamu, mandiin kamu, dan memastikan kamu selalu wangi," tutur Rahman sambil menuangkan air ke gelasnya.
"Dasar nyebelin, ini bukan kak Rahman yang aku kenal, dasar genit...apa jangan-jangan selama ini dia ...nggak, nggak ,nggak mungkin, tetap berfikir positif Fatimah" batin Fatimah yang amat kesal pada Rahman.
"Oh ya...satu hal lagi, kakak siap-siap aja nanti aku bisa saja merenggut semua harta kekayaan mu, setelah itu aku akan meninggalkan mu, dan aku akan menikah dengan laki-laki lain," tegas Fatimah tersenyum sinis.
"Aku tidak perduli, karena aku kenal betul bagaimana Fatimah yang ku cintai, Fatimah yang ku cintai di bekali dengan ilmu agama, tidak mungkin berbuat sejahat itu," lanjut Rahman membalas perkataan Fatimah.
__ADS_1