
Lilis membawa Fatimah untuk di cek kondisinya ke Rumah sakit di dekat rumah budenya.
Seorang Dokter muda yaitu Dokter Hadi memeriksa kondisi Fatimah. Usai mencek Fatimah, dokter Hadi menjelaskan mengenai penyakit Fatimah.
"Maaf nama kamu tadi siapa ya?" tanya Dokter Hadi. "Saya Fatimah dok," jawab Fatimah.
"Saya Lilis dok," ucap Lilis yang sedari tadi menatap dokter muda itu.
"Baik, Fatimah, Lilis, apa sebelumnya kalian belum pernah memeriksakan kondisi Fatimah ini ke dokter?" tanya dokter Hadi.
"Sudah dok, saya di vonis kanker, namun saat itu saya belum bersedia untuk operasi," tutur Fatimah menatap dokter itu.
Dokter Hadi menghela nafas dan berkata,"Menunda operasi sama saja mengurangi kesempatan hidup,semakin lama kanker ini akan semakin menyebar, dan peluang sembuh juga akan berkurang, sama seperti dokter sebelumnya, kami dari pihak dokter juga menyarankan untuk operasi sebelum kankernya menyebar," jelas dokter Hadi.
Fatimah bahkan takut mendengar kata-kata operasi, "Terimakasih dok, saya akan pikir-pikir dulu," ucap Fatimah. "Apa yang membuat kamu takut dengan operasi ini, ya memang operasi pasti ada resiko tersendiri apabila gagal, namun itu adalah satu-satunya cara saat ini," jelas dokter Hadi.
"Saya belum ada biayanya dok, saya pikirkan dulu untuk beberapa hari ini, terimakasih dokter Hadi, permisi," ucap Fatimah dan langsung menarik tangan Lilis untuk pergi.
***
Fatimah dan Lilis disambut hangat oleh bude, "Silahkan minum dulu, pasti kalian capek kan," sambut bude pada Lilis dan Fatimah.
"Makasih bude," ucap Fatimah.
"jadi kamu yang namanya Fatimah, si Lilis ini suka cerita tentang kamu sama bude, eh ternyata aslinya lebih cantik dari pada yang di Foto," tutur bude sambil tersenyum.
"Bude bisa aja," ucap Fatimah yang juga tersenyum ramah.
"Bude senang kalian datang ke sini, jadi bude nggak sendirian lagi," kaya bude yang duduk di samping Lilis.
"Iya bude, pokoknya aku sama Fatimah akan temani bude di sini," tutur Lilis.
***
__ADS_1
Malam itu Lilis dan Fatimah sedang mengobrol di kamar, "Dokter Hadi ganteng bangat, sumpah, baru kali ini aku ketemu Dokter seganteng itu," tutur Lilis sambil membayangkan dokter Hadi.
"Lebai deh, kamu apaan sih Lis, jadi dari tadi kamu merhatiin dokternya, bukan aku," cetus Fatimah menatap Lilis. "Nggak gitu, yah ngambek deh," Ucap Lilis yang menatap Fatimah.
Tiba-tiba Fatimah merasa sakit di bagian kepala, Fatimah berjalan menuju kamar mandi dan mual-mual di sana. "Fatimah, kondisi kamu makin parah, kita ke rumah sakit lagi ya," tutur Lilis yang memapah Fatimah dari kamar mandi.
Fatimah tak berkata apa-apa, ia malah langsung pingsan.
***
Fatimah terbangun dan membuka matanya, ia sudah berada di rumah sakit lagi. "Apa kamu masih menolak untuk operasi?" tanya dokter Hadi.
Fatimah hanya terdiam karena ia tau tak akan mampu membiayainya.
"Fatimah lebih baik kamu segera operasi ya, aku akan usahakan biaya nya," tutur Lilis. "Biaya dari mana Lis, aku nggak mau ngerepotin kamu terlalu banyak," ucap Fatimah. "Nggak, nggak repot kok, kamu itu sahabat aku," tegas Lilis.
***
Meski dengan kondisi hati yang buruk, Rahman masih harus memimpin WH Hotel. Rahman hanya memikirkan Fatimah di ruangannya. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. "Masuk," ucap Rahman singkat.
Ternyata yang datang adalah Sofia.
"Rahman, aku baru tau kalau istri kamu lari dari rumah, aku turut prihatin ya sama kamu, padahal kamu ini suami yang sempurna, tapi istri kamu malah pergi gitu aja," tutur Sofia yang duduk di depan Rahman.
Rahman hanya menunduk dan terdiam.
"sebagai teman yang baik, aku janji akan bantuin kamu cari Fatimah," tegas Sofia menatap Rahman.
"Terimakasih Sofia," ucap Rahman singkat.
"Tapi, Fatimah pergi pasti ada sebabnya, jika dia pergi untuk laki-laki lain, apa kamu akan tetap mengejarnya?" tanya Sofia.
"Nggak ada yang boleh merebut Fatimah," tegas Rahman menatap Sofia.
__ADS_1
"Aku cuma khawatir aja kalau nanti Fatimah malah menikah lagi," ucap Sofia yang menakut-nakuti Rahman.
"Kalau Fatimah memang bahagia dengan laki-laki lain, dia tidak perlu lari, ia cukup menikah saja di depan ku, biar aku sadar kalau aku bukan yang terbaik untuknya," jelas Rahman yang masih sangat sedih.
"Apa kamu tidak mencoba mencari pengganti?" tanya Sofia. "Fatimah tidak bisa digantikan oleh siapapun," tegas Rahman singkat.
***
Siang itu Fatih yang sedang kuliah tak henti memikirkan Fatimah, ia mengingat peristiwa Rahman yang datang ke rumah nya bertanya tentang Fatimah. karena penasaran Fatih langsung menelpon Lilis, namun nomor Lilis tidak aktif lagi.
"Apa Fatimah kabur dari rumah ya, tapi kenapa, selama ini kan dia tidak pernah main kabur-kaburan, sebesar apa pun masalahnya dia pasti bisa mengatasinya," batin Fatih yang bertanya-tanya tentang kondisi Fatimah.
***
Rahman yang sedang bekerja dihampiri oleh istrinya Fatimah, "Makan siang dulu ya kak, nanti kamu sakit loh," suruh Fatimah sambil mengelus kepala Rahman.
"Fatimah, kamu udah kembali?" Rahman langsung berdiri dan menatap Fatimah.
"Aku nggak pernah ninggalin kamu kak," tutur Fatimah yang tersenyum manis menatap Rahman.
Rahman memeluk Fatimah, "Jangan pernah pergi ya,aku nggak sanggup kalau harus jauh dari kamu, kamu sandaran ternyaman dalam sedih ku," jelas Rahman pada Fatimah.
"Pak..Pak Rahman.." Panggil seorang karyawan pada Rahman yang tertidur di meja kerjanya.
Rahman terbangun dari mimpinya, "Fatimah.. Fatimah.." panggil Rahman sambil menoleh kanan kiri mencari cari Fatimah. "Di sini cuma ada saya pak," ucap Karyawan itu.
Rahman menangis sambil menyebut-nyebut nama Fatimah. "Apa tidak ada sedikit pun rasa kasihan mu kepada ku Fatimah, aku tidak tau bagaimana menjalani hari tanpa kamu, siapa yang akan membangunkan ku sholat subuh ketika aku terlambat bangun, siapa yang akan menjadi penyemangat ku di saat aku lemah, siapa yang akan menemaniku menjalani hari-hari ku, Fatimah, inikah yang kamu inginkan, sekarang aku lemah tak berdaya, kehilangan kamu bagai kehilangan seluruh kebahagiaan ku," batin Rahman yang tak henti menangis.
***
Fatimah yang terbaring di rumah sakit, menangis teringat akan Rahman yang selalu ada untuknya selama ini.
"Kak, aku benar-benar baru merasakan kalau hidup aku serasa kurang tanpa kamu, maafkan aku yang pergi meninggalkan mu, ini bukanlah kemauan ku, namun inilah yang terbaik untuk kita semua, andai kamu tau, kamulah cinta terakhir ku, namun biarlah aku mengorbankan rasa ini demi kebahagiaan mu kelak bersama orang yang akan menggantikan ku," batin Fatimah yang tak henti menangis.
__ADS_1