
Fatimah menunggu ojek di tepi jalan usai sholat magrib di mushola.
Tiba-tiba mobil Rahman berhenti di depannya.
"Ayo naik," ajak Rahman sambil menatap Fatimah dari mobil.
Mempertimbangkan hari yang sudah malam, Fatimah pun langsung naik tanpa banyak berfikir.
"Gimana hari pertama kerja?" tanya Rahman pada istrinya.
"Ya begitulah," jawab Fatimah sambil menghela nafas.
"Begitu? gimana maksudnya?" tanya Rahman lagi. "Lumayan membosankan karena ada kamu di sana," ucap Fatimah menatap Rahman.
"Bilang aja kamu takut jatuh cinta sama ketampanan ku," kata Rahman yang fokus menyetir.
"Kayaknya Bu Sofia nggak suka sama aku kak," ucap Fatimah.
"Hah..masa sih, cuma perasaan kamu aja kali, atau jangan-jangan kamu cemburu ya..Sofia itu cuma teman lama aku Sayang," tutur Rahman sambil mengusap kepala Fatimah.
"Nggak, siapa yang cemburu sih," elak Fatimah.
"Oh ya, besok malam aku ada acara silaturahmi antar pengusaha pengusaha di daerah sini,kamu bisa ikut kan?" tanya Rahman yang berharap Fatimah mau menemaninya ke acara itu.
"Kalau aku ikut pasti orang akan tau kalau aku ini istri kakak," ucap Fatimah menatap Rahman.
"Nggak akan ada yang kenal kamu di sana, yang hadir itu orang-orang besar semua, bukan karyawan di hotel," kata Rahman membujuk Fatimah.
Fatimah hanya terdiam.
***
Fatimah istirahat di kamarnya.
ia mendengar suara mengaji dari arah kamar Rahman. "Maasyaa Allah..suara lantunan Alquran kak Rahman memang selalu membuat hati lebih sejuk," batin Fatimah yang teringat kenangan beberapa tahun lalu ketika ia dan kedua kakaknya mengaji bersama saat Ramadan.
"Andai aku bisa memutar waktu kak, aku rindu dengan kebersamaan kita bertiga," ucap Fatimah pelan.
***
Fatimah mencuci piring di dapur, ia tak bisa tidur dengan kondisi rumah yang berantakan.
padahal malam sudah mulai larut. "Loh kok kamu cuci piring sayang, kan ada bi Siti," ucap Rahman sambil mengambil dan meletakkan piring dari tangan Fatimah.
"Bi Siti tadi izin pulang kak, anaknya lagi sakit," ucap Fatimah dan lanjut mencuci piring.
__ADS_1
"Ya udah deh aku bantuin kamu ya," kata Rahman sambil mengambil piring lain untuk di cuci.
"Nggak usah kak, kakak istirahat aja,"
"Nggak usah bawel deh," ucap Rahman sambil melanjutkan cucian piring itu.
Fatimah menatap wajah Rahman yang fokus mencuci piring.
Melihat wajah bengong Fatimah membuat Rahman berinisiatif untuk mengejutkan Fatimah. Rahman mengoleskan busa di pipi Fatimah.
"Ih kakak apaan sih," gumam Fatimah sambil mengoleskan busa di wajah Rahman untuk membalasnya.
"Nih Rasain.." Rahman mengoleskan busa lagi di wajah Fatimah.
Suasana seakan berubah, Fatimah merasa kebersamaan bersama kakaknya dulu terulang kembali meski saat ini Rahman bukan lagi kakaknya melainkan suami nya.
***
Pagi hari, tiba-tiba ada tamu mengetuk pintu.
Fatimah buru-buru melihat siapa yang datang. sebelum membuka pintu ia mengintip dari kaca karena penasaran. ternyata yang datang adalah Sofia.
"Aku nggak boleh keluar nih, bisa-bisa nanti dia tau kalau aku istri kak Rahman," batin Fatimah.
"Siapa yang datang Fatimah?" tanya Rahman pada istrinya. "Bu Sofia, gimana nih kak, apa aku sembunyi aja," Fatimah panik.
Rahman membuka pintu.
"Hai Rahman, maaf ya ganggu kamu pagi-pagi," sapa Sofia menatap Rahman.
"Iya ada apa Sofia," tanya Rahman.
"Aku cuma mau ngantar bubur ayam kesukaan kamu, dengar-dengar istri kamu itu masih terlalu muda, mungkin dia nggak bisa masak, makanya aku sengaja tadi masak bubur agak banyak," ucap Sofia basa-basi.
"Iya makasih ya," ucap Rahman singkat sambil mengambil bubur itu.
Fatimah yang melihat itu sedikit kesal pada perempuan bernama Sofia, karena pagi itu dia bangun lebih awal untuk memasak nasi goreng.
Fatimah berjalan menuju meja makan. ia menatap hidangan yang ia buat.
**
Rahman menemui Fatimah di ruang makan. Sementara Fatimah memakan nasi goreng buatannya itu sendiri dengan raut wajah yang tidak begitu cerah seperti biasanya.
"Kok nggak nunggu aku makan," sapa Rahman mengejutkan Fatimah.
__ADS_1
"Kakak mana mau makan masakan beginian, Kakak kan lebih suka bubur ayam," ucap Fatimah tanpa menatap Rahman.
"Nggak kok, siapa bilang aku suka bubur ayam, aku suka bubur ayam itu kalau pas lagi sakit," kata Rahman sambil meletakkan nasi goreng buatan Fatimah di hadapannya.
Fatimah menatap Rahman, "loh Bubur ayam buatan Bu Sofia mana?" tanya Fatimah yang menyadari bahwa Rahman tidak membawa bubur itu.
"Udah aku kasih sama tetangga," ucap Rahman singkat.
"Kenapa?"
"Kalau ada masakan istri kenapa harus makan masakan orang lain," kata Rahman menatap Fatimah.
Kedua mata Fatimah berhadapan dengan Rahman. Fatimah grogi dibuatnya.
Fatimah tidak tau harus berkata apa, tapi yang jelas kali ini ia merasa ada rasa lain yang masuk dihatinya. ia merasa sangat dihargai oleh suaminya itu.
"Oh ya..kapan bi Siti kembali bekerja?" tanya Rahman. "Aku nggak tau kak, tapi apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Fatimah.
"Boleh, mau minta apa?" tanya Rahman balik.
"Bi Siti sepertinya butuh bantuan, anaknya harus dibawa ke rumah sakit, bi Siti nggak punya biaya untuk itu, siapa lagi yang mau bantu dia kalau bukan kita," jelas Fatimah menatap Rahman.
Rahman menatap Fatimah dengan tersenyum sambil berkata,"Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta dengan perempuan lugu yang hatinya baik seperti kamu,"
"Ih..kok malah gombal sih, itu bi siti nya di bantu dong kak," suruh Fatimah sambil menatap serius Rahman.
"Iya sayang, tenang aja, semua biaya berobat anak bi Siti akan aku tanggung," kata Rahman pada istrinya.
Barulah Fatimah tersenyum menatap Rahman.
"Andai setiap hari aku bisa lihat senyuman ini," ucap Rahman sambil memperhatikan senyum Fatimah.
"Ih..hobi kakak gombal ya," cetus Fatimah.
"Itulah mengapa seorang istri tidak perlu repot-repot merayu suaminya karena hanya dengan sekali senyuman saja sudah bisa membuat tenang hati suaminya," jelas Rahman pada Fatimah.
"Makin nggak jelas," gumam Fatimah.
***
Sarah yang suntuk di rumah memohon pada ayah agar ia dibolehkan bekerja di White horse hotel.
"Ayah.. masa aku cuma di rumah aja setelah lulus kuliah, aku kerja di WH Hotel ya.. please" pinta Sarah pada Ayah.
"Kenapa kamu nggak nikah aja," canda ayah pada putrinya. "Ayah ngusir aku ya," gumam Sarah.
__ADS_1
"Nggak, siapa yang ngusir sih, ya udah terserah kamu, kalau itu memang kemauan kamu ya udah, ayah izinkan, tapi kamu juga izin dulu sama Rahman, kan sekarang dia yang memimpin hotel itu," jelas Ayah menatap putrinya.
"Makasih ayah," ucap Sarah yang girang.