
"Arkhhhhhhh.. ampunnnnn.. ampunnnnn"
Suara teriakan seorang wanita yang tengah kesakitan tak mampu membuat 3 pria di sana mengiba.
Satu pria di antara nya hanya menatap dan tak melakukan apapun karena dia hanya akan menyaksikan detik-detik kematian wanita itu.
Sedang kan dua lain nya tengah melakukan tugas mereka yaitu mengeksekusi bagian mereka masing-masing.. Mark..ya pria psychopath yang tak kenal ampun itu kini tengah mengurus Rikasya wanita yang sudah berani mengusik ketenangan nya.
Bahkan jika saja saat itu tidak datang bala bantuan mungkin saat ini dia tak bisa melihat istri dan anak nya di dunia ini.
Fatal...
Ya sangat fatal bagi seorang Mark Andrevis Ranvin.
Tidka termaafkan....
Ya tidak akan pernah dia maafkan hingga ajal menjemput sekali pun.
Bagi Mark Nelsy dan anak nya adalah prioritas utama nya..mereka segala nya bagi Mark..tak akan dia biarkan siapapun menyakiti mereka..jika berani maka dia akan menghabisi nya tanpa sisa seinci tubuh nya di dunia ini.
"Mana keberanian mu bitchh tunjukkan padaku saat kau menyuruh keparat-keparat itu untuk menghabisi istri ku hah.. tunjukkan.. tunjukkan hahahaha" ujar Mark berteriak lalu tertawa bagaikan seorang malaikat maut yang sudah siap mencabut nyawa.
Mark menguliti Rikasya dengan tanpa perasaan..dia tak ada hati jika sedang melakukan tugas nya..apalagi menyangkut keselamatan keluarga tercinta nya.
Hati nya sudah dia buang.
Kulit tubuh Rikasya bagian tangan sudah terkelupas dan berserakan di lantai..Mark tersenyum senang melihat darah di baju nya hingga menciprat di kulit nya.
Tak sampai di situ saja Mark menyiksa Rikasya..kini Mark mulai menarik rambut Rikasya menggunakan tang hingga tercabut dengan kulit-kulit nya sekaligus.
Setelah puas dengan menyiksa menurut jenis nya kini Mark mulai memotong lidah Rikasya dengan belati yang selalu dia bawa.
Tanpa perasaan atau rasa iba Mark menarik keluar lidah Rikasya hingga menjulur dan.
Sretttttt......
"Arkhhhhhhh... arkhhhhhhh"
Lagi dan lagi teriakan Rikasya terdengar memekik di telinga Nichole namun bagai lagu di telinga Mark dan Max yang tengah mengeksekusi mangsa nya.
__ADS_1
Mark berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi kegiatan nya dengan tanpa ekspresi apapun di wajah nya.
Mark mulai mengiris telinga Rikasya hingga putus kedua nya..Mark bakar telinga itu hingga tercium aroma daging bakar di ruangan itu kemudian Mark memasukkan telinga Rikasya pada mulut Rikasya dan dia sumpal agar tak di muntahkan.
Rikasya meronta-ronta ingin di lepaskan namun dengan kuat anak buah Gian memegangi nya hingga terpaksa Rikasya mengunyah telinga nya sendiri dan tertelan.
"Hahahaha..kenapa kau tak melawan?"
"Aku tak suka milikku di usik"
"Aku tak suka dengan pengganggu seperti mu"
"Aku sudah berkali-kali mengingatkan mu agar tak berbuat macam-macam karena akibat nya akan sangat membuatmu menyesal"
"Lihat lah..hahahaha kau bahkan tak mampu hanya untuk sekedar menghirup udara bebas"
"Hahahaha"
Mark terus tertawa namun tawa nya begitu mengerikan di telinga siapapun kecuali Max sahabat nya.. Max sendiri kini tengah menjadikan Garty sebagai bahan uji coba nya.
Max menjadikan Garty sebagai bahan uji coba mengenal isi otak manusia..ya Max kini tengah membedah kepala Garty karena dia ingin tau isi otak Garty yang sangat jahat.
Max juga membedah hati Garty karena dia penasaran dengan isi hati Garty yang begitu kotor dan penuh dengan kebencian dan iri dengki.
Andai ada alat untuk memvakum isi hati manusia maka akan dia gunakan itu untuk membersihkan iri dengki dan kebencian dari hati Garty.
Tapi sayang tak ada alat semacam itu di dunia ini..hanya ada satu jalan yaitu menghabisi dan membakar hati nya hingga terbakar semua rasa itu di hati Garty.
Ada seorang ibu mengajarkan anak nya untuk berbuat hal sejahat ini bahkan sudah sedari kecil Rikasya di cekoki kebencian dan iri dengki kepada keluarga Nelsy.
"Hati ini sudah tak lagi layak di tempat nya..mati lah dengan tanpa hati mu nyonya Garty dan sesali lah di alam akhirat semua perbuatan mu" ujar Max melemparkan tubuh Garty ke kandang Leon yang sedari tadi sudah menanti nya.
*
*
"Hey sayang mommy kenapa hm?" tanya Nelsy pada anak nya yang rewel.
Nelsy menyusui baby Grey namun masih saja menangis.. alhasil Nelsy menggendong nya sama menimang-nimang nya hingga diam dan terlelap..para oma dan opa nya sudah pergi karena ada urusan mereka hanya menjaga sebentar baby Grey.
__ADS_1
Jahitan Nelsy seperti nya berdenyut lagi..dia merasakan sedikit basah pada jahitan di perut nya..Nelsy menidurkan baby Grey pada box bayi nya kemudian dia membuka baju nya dan benar saja ada sebercak darah yang menempel di baju nya.
"Ya tuhan seperti nya jahitan nya lepas lagi.. perih..kenapa Mark belum pulang juga sih" kesal Nelsy karena Mark belum juga kembali.
Nelsy membuka baju nya dan mulai membersihkan sisa darah yang keluar..untung tidak sampai lepas.. Nelsy mengolesi salep yang dokter resep kan kemarin sebelum pulang.
Setelah di beri salep Nelsy hanya menggunakan baju rajut simple.
Baby Grey menangis lagi setelah Nelsy selesai mengganti baju nya,mau tak mau dia menggendong nya lagi dan menidurkan nya hingga terlelap kembali dalam gendongan nya.
Ngilu mulai terasa di perut Nelsy..mana mungkin dia letakkan baby Grey ke box lagi karena seperti nya baby Grey ingin di dekapan Nelsy.
Nelsy memutuskan untuk duduk di atas ranjang bayi sambil mendekap baby Grey dan dia tepuk-tepuk punggung nya dengan pelan.
Tak berapa lama kemudian pintu kamar nya terbuka dan tampak lah Mark suami nya dari balik pintu..Mark masuk dan melihat Nelsy tengah menepuk-nepuk punggung baby Grey.
"Baby..kenapa menggendong nya nanti jahitan mu terbuka lagi..sini biar aku yang gendong" tanya Mark menatap ngeri pada Nelsy.
"Dia tidak mau di box nya" jawab Nelsy sambil menyerahkan baby Grey pada gendong Mark.
Mark menerima nya dan mulai menimang-nimang nya hingga di rasa sudah lelap dia meletakkan baby Grey pada box nya dan benar saja belum tubuh nya menyentuh kasur di box baby Grey menangis lagi.
"Aku kan sudah bilang by..you see dia tidak mau di box nya" ujar Nelsy mengejek Mark.
"Hahaha..baiklah kau nakal juga ya boy" Mark hanya terkekeh melihat tingkah anak nya tapi dia tak masalah asalkan anak nya nyaman.
Nelsy membuka baju nya lagi dan benar saja darah nya kini keluar dan mengalir dari bekas jahitan nya..Mark yang ada di samping Nelsy tentu saja terkejut.
"Baby sejak kapan itu?" tanya Mark serius.
"Sejak 30 menit yang lalu dan ini ke dua kali nya..sudah lah tidurkan baby Grey di ranjang kita saja seperti nya dia ingin tidur dengan kita" ujar Nelsy menyarankan.
"Baiklah"
__ADS_1