
Setelah melepas pelukan,mereka duduk dan berbincang mengenai hal yang tak membuat kepala pening.
Alice juga mengutarakan keinginan nya untuk mengangkat Sashya menjadi saudara nya lewat jalur adopsi.. keinginan itu sudah dia utarakan pada kedua orangtua nya tadi sebelum ke ruangan Sashya.
Mereka setuju-setuju saja asalkan anak mereka bahagia jadi tidak akan keberatan malah mereka sangat senang dan hendak mengurus semua surat-surat yang di perlukan.
Aldebar sejak masuk kedalam ruangan Sashya tampak tengah memikirkan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di hati nya..hanya dia yang tau apa yang sedang dia pikirkan.
Sedangkan Nichole saat ini tengah berada di markas kematian dimana dia dan beberapa anak buah Gian tengah berdiskusi untuk mendapatkan bukti-bukti keterkaitan seseorang dalam kecelakaan yang menimpa adik nya dan Sashya.
"Rayand Arturos..jadi dia yang sudah membuat adik ku mengalami hal ini..ckckck berani sekali dia..apa kalian sudah mengetahui keberadaan nya?" kata Nichole bertanya posisi si bajingan yang sudah membuat Nelsy masuk rumah sakit.
"Belum tuan..saat ini kami masih melakukan penyelidikan mengenai orang itu" jawab anak buah Gian.
"Baik lah lakukan dengan teliti.. jika kalian berhasil maka bonus besar tengah menanti kalian" balas Nichole kemudian keluar dan menuju rumah sakit.
#
Seminggu berlalu.
#
"Baby kau istirahat lah biar baby Grey bersama mommy dan Daddy saja..kau butuh banyak istirahat agar cepat pulih" ujar Mark menyarankan agar Nelsy menyerahkan baby Grey pada kedua mertua nya.
"Hm..baiklah" balas Nelsy menurut.
Mark menyerahkan baby Grey kepada sang mertua agar di bawa pulang karena rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak kecil.
__ADS_1
Setelah kepergian mertua nya Mark masuk kedalam ruangan Nelsy lagi dan duduk di samping brankar Nelsy.. dia mengambil tangan Nelsy dan dia kecup serta dia usap-usap.
"Baby..apa kau sudah memaafkan ku?" tanya Mark hati-hati.
"Jika aku tidak begini maka sudah bisa di pastikan kau akan babak belur di tangan ku..aku lelah mau istirahat" balas Nelsy ketus tanpa mau memandang Mark.
Mark begitu sakit mendengar ucapan Nelsy yang arti nya Nelsy belum memaafkan nya..Mark menghela nafas nya panjang dan berat namun apa mau di kata ini juga akibat kebodohan nya.
Sudah untung Nelsy mau bicara dengan nya dan tak mendiami nya.. bersyukur saja yang bisa Mark gumam kan.
Mark memilih duduk di sofa ruangan itu setelah membenarkan selimut Nelsy..karena hari mulai gelap dan tak terasa sudah pukul 10 malam jadi sudah waktu nya bagi Nelsy beristirahat agar kondisi nya cepat pulih.
Setidak nya kondisi Nelsy jauh lebih stabil dan akan memudahkan bagi nya untuk melakukan terapi pengobatan pada kaki nya..meski butuh waktu lama namun setidak nya kaki itu masih bisa di gunakan lagi selama Nelsy mau berusaha.
Pagi nya.....
Hari ini Nelsy sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang menangani nya asalkan tetap melakukan berobat jalan dan terapi..Mark dengan sigap mendengarkan apa saja yang dokter katakan..dari jadwal terapi hingga apa saja yang boleh dan tidak Nelsy lakukan.
Demi kebaikan bersama dia rela mengikuti langkah Nelsy..bukan dia takut jauh dari Nelsy dia hanya takut di pisahkan dari keluarga kecil nya saja..bagi Mark kehilangan keluarga kecil nya itu sama saja kehilangan seluruh hidup nya.
Lebih baik dia mati daripada berpisah dari kedua kesayangan nya itu.
Mark dengan perlahan mengangkat Nelsy dan dia dudukan di kursi roda agar memudahkan nya..sebenar nya dia ingin menggendong Nelsy hingga sampai mobil namun Nelsy bersikeras ingin duduk di kursi roda saja.
Mark mendorong kursi roda nya menuju mobil,ketika sampai di mobil dia mengangkat Nelsy lagi dan dia dudukan di kursi depan sementara dia menyetir sendiri.
Awal nya kedua mertua nya ingin ikut menjemput Nelsy namun dengan segala kekeras kepalaan nya Mark menentang keras karena tak mau mereka mengganggu momen berdua nya dengan Nelsy.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap baby?" tanah Mark setelah selesai mengatur duduk Nelsy agar nyaman dan dia bergegas menuju kursi kemudi.
"Hm.. cepat lah" balas Nelsy singkat.
Jujur.. Nelsy tak percaya diri dengan kondisi nya..dia merasa tak pantas menjadi pendamping Mark yang sangat sempurna..dia sekarang lumpuh meski tidak permanen namun itu sudah membuat tatapan mata orang-orang seakan mengejek nya.
Nelsy merasa dia begitu hina jika bersanding dengan Mark..dia bahkan merepotkan Mark dan menjadikan Mark kaki nya selama kaki milik nya tidak bisa di gerakan.
"Ada apa baby..kau tampak seperti ada masalah?" tanya Mark yang selama tau perubahan wajah istri nya sejak keluar dari ruangan nya tadi.
"Tidak ada" balas Nelsy singkat tanpa mengalihkan tatapan nya pada luar mobil.
Mark tak lagi bertanya dia seakan sudah tau mengenai sikap Nelsy yang tiba-tiba berubah.. dia sadar bahwa kondisi Nelsy mungkin akan membuat Nelsy minder jika bersama dengan nya seperti saat keluar dari ruangan Nelsy tadi.
Lagi dan lagi Mark menyalahkan diri nya sendiri atas apa yang Nelsy alami..jika saja malam itu dia langsung mengusir jallang itu pasti Nelsy akan baik-baik saja saat ini dan mereka tidak akan berselisih paham seperti saat ini.
Dia sangat merindukan istri nya..dia rindu dengan segala tingkah istri nya, kemanjaan istri nya,bahkan kegalakan nya.
Semua hilang hanya dalam satu malam yang membuat hidup kedua nya bagai orang asing..dia tersiksa dengan diam nya Nelsy.
Mobil Mark sampai di kediaman Bastian..dia turun dan segera membantu sang istri setelah mempersiapkan kursi roda nya..Mark dengan sigap mengangkat Nelsy dan dia dudukan di kursi roda itu kemudian dia mulai mendorong masuk kedalam rumah.
Saat mereka masuk kedua nya di sambut oleh keluarga yang sudah menanti kedatangan mereka.
Arny sebagai ibu langsung menghampiri sang putri saat Nelsy dan Mark memasuki rumah..dia memeluk Nelsy penuh kerinduan.
"Anakku hiks..selamat datang nak" ujar Arny tak mampu menahan Isak tangis nya saat memeluk sang putri.
__ADS_1
"Thank you mom" balas Nelsy yang ikut larut dalam keharuan yang tercipta.
"Kau kuat sayang..kau bisa melewati ini..kau adalah putri Arny dan Bastian..kau keturunan keluarga Richard dan Wilson..ingat jangan pernah merasa rendah diri mengerti?" ujar Arny mengingatkan sang putri untuk kuat menjalani segala kondisi nya.