
Rizal membuka aplikasi yang bernama Ojekku di ponselnya. Jaket hijau bertuliskan Ojekku dengan cap jempol yang dipakainya saat ini menjadi perjalanan kerjanya yang baru setelah ia mengundurkan diri dari tempat kerjanya yang lama. Dulu ia bekerja di sebuah kafe yang lumayan besar. Setelah kafe itu berpindah tangan ke bos yang lain, ia selalu ditekan dan harus dipindahkan ke kafe cabang di luar kota. Rizal menolak karena ia tak mau meninggalkan ibu dan kakak perempuannya. Akhirnya Rizal memutuskan untuk mengundurkan diri.
Dihari pertama, ia mencoba nongkrong didekat kampus Nusantara. Siapa tau ia mendapat banyak orderan di sana.
"Anak baru, ya?" tanya seseorang yang berjaket sama disampingnya.
"Iya, Pak, baru hari ini. Salam kenal, Pak." Rizal mengulurkan tangannya.
"Wah... Selamat bergabung di Ojekku. Saya Ajun." ucapnya sembari tersenyum ramah.
"Sudah dapat orderan?" tanyanya lagi.
"Belum, Pak." jawabnya Rizal dengan senyum tipis.
"Sabar saja, saya juga dari tadi baru dapat tiga."
"Anak kampus sini, Pak?" tanya Rizal.
"Yang satu anak kampus, duanya lagi ibu-ibu." jawabnya.
Rizal mengangguk, mungkin sebaiknya ia mencari tempat tongkrongan yang lebih ramai dari sini. Pasalnya, anak-anak kampus Nusantara ini kebanyakan memakai kendaraan sendiri. Tidak mungkin juga mereka memesan makanan lewat ojek online secara kampus Nusantara adalah salah satu kampus ternama dan mewah di Jakarta.
Bukan karena itu saja, sebetulnya Rizal masih bingung dengan cara kerja seorang tukang ojek. Ia masih harus menyesuaikan diri dengan keadaan.
"Alhamdulillah..."
"Dapat orderan, ya, Pak?" tanya Rizal saat ia melihat wajah Ajun yang tampak senang.
"Iya, nih. Saya duluan, ya."
"Iya, Pak. Hati-hati." ucap Rizal tersenyum.
Apa ada perbedaan antara senior dan junior? Tanyanya dalam hati. Pasalnya, sudah hampir dua jam dia berdiam disini tapi tak ada satupun orderan yang masuk.
"Tunggu setengah jam lagi, deh." gumamnya.
Setengah jam berlalu, tapi masih belum ada juga yang memesan ojeknya. Sesuai janjinya, ia menghidupkan motornya lalu pergi meninggalkan kampus Nusantara.
"Mudah-mudahan ponselku bergetar secepatnya." ucap Rizal penuh harap.
***
Sedan hitam keluar dari rumah Meira, tak lain adalah si Boy pacar Meira. Ia sudah datang dari jam tujuh pagi tadi hanya untuk membujuk Meira. Malam lalu mereka bertengkar karena Boy tak menepati janjinya untuk pergi makan malam berdua dengan Meira. Ia malah pergi nongkrong bersama teman-temannya.
__ADS_1
Setelah seribu rayuan gombalnya keluar, akhirnya Meira mau diajak pergi ke kampus bersama. Amarah Meira belum sepenuhnya reda. Ia masih saja memasang raut wajah cemberut. Lama-lama Boy juga tak tahan dengan sikap pacarnya itu. Kalau bukan karena Meira anak orang kaya, sudah lama Boy meninggalkan gadis berambut lurus itu.
"Jangan marah terus, dong, sayang. Aku kan sudah minta maaf." Boy kembali berusaha merayu sang pacar.
"Aku heran sama kamu, kamu selalu mementingkan teman-teman kamu daripada aku."
"Kenapa diungkit lagi, sih. Aku kelupaan, sayang."
"Pokoknya hari ini aku bete banget sama kamu."
Ini bukan kali pertama Boy beralasan lupa. Dalam seminggu ini saja ia sudah tiga kali tidak menepati janji. Kemarin ia malah meminjam uang pada Meira dengan alasan membeli obat untuk sepupunya yang sakit, tapi nyatanya uang itu untuk poya-poya dengan temannya.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Terserah." ucap Meira lalu memalingkan wajahnya.
Saat sudah setengah jalan tiba-tiba ponsel Boy berbunyi. Ia segera mengangkatnya.
"Halo... Ada apa, Mita?
"Jemput aku di bandara sekarang." ucap perempuan yang ada diseberang telepon.
"Naik taksi aja, ah." Suara Boy terdengar agak kesal.
"Gak mau, pokoknya jemput. Kalau nggak balikin mobilku."
Boy melirik Meira yang sedang memainkan ponselnya. Ia bingung harus bicara apa pada Meira. Itulah akibat sering berbohong, saat keadaan genting seperti ini ia jadi harus mengeluarkan kemampuan ekstra untuk bisa meyakinkan Meira.
"Mei, sepertinya aku harus terpaksa menurunkan kamu di halte depan sana, deh."
Meira membulatkan bola matanya. Lagi? Apa tidak cukup kesalahan yang dilakukan Boy semalam hingga ia ingin membuat masalah baru.
"Kamu menyuruhku jalan kaki ke kampus?" tanya Meira dengan nada agak meninggi.
"Bukan begitu, Mei. Masalahnya adikku Mita pulang hari ini. Di memaksaku menjemputnya di bandara. Aku harus ke sana sekarang, kalau tidak mama akan marah padaku dan menyita mobil ini."
"Ya sudah, aku bisa naik bis nanti. Kamu jemput saja Mita." ucap Meira pasrah. Sebenarnya ia sangat kesal hari ini. Tapi kali ini ia melihat tidak ada kebohongan di mata Boy. Atau mungkin dia yang sudah kelewatan bucin .
"Maafkan aku, ya, sayang. Aku janji nanti akan aku jemput." ucap Boy lalu melambaikan tangannya.
Meira hanya membalasnya dengan senyum. Sekarang ia berdiri di halte sendirian. Kalau tau begini lebih baik ia pergi sendiri. Meira menghela napas kesal pada sikap pacarnya itu. Tapi entah kenapa ia selalu tunduk dan mudah percaya pada sang pacar.
Sudah lima belas menit ia menunggu tapi tidak ada bis yang singgah di halte itu.
__ADS_1
"Kalau begini aku bisa telat." gumam Meira semakin kesal.
Tiba-tiba ada suara motor berhenti tepat di samping Meira. Meira melihat pria berjaket hijau itu. Ia menjentikkan jarinya, seolah dapat ide cemerlang.
"Kenapa aku gak kepikiran, ya." ucapnya tersenyum gembira.
Ia lalu memanggil Rizal yang sedang meminum air mineralnya.
"Saya?" tanyanya.
"Iyalah, siapa lagi."
"Mas, Ojekquick, dong. Anterin saya ke kampus Nusantara." pinta Meira.
"Alhamdulillah... Ayo, boleh, Mbak."
"Panggil aja gue Meira, tua banget gue dipanggil Mbak." protes Meira.
"Oke, siap." jawab Rizal. Ia harus mengikuti kata penumpangnya. Selain itu Rizal memang orang yang sopan dan mudah diajak ngobrol.
"Meira... Bisa tidak kita mampir sebentar ke pom bensin. Soalnya bensin saya tinggal dikit." izin Rizal. Sebenarnya ia memang berniat mengisi bensin. Ia berhenti di halte tadi hanya mau minum.
"Aduh, lo gak ada persiapan banget, sih. Gue udah telat, nih. Bensinnya masih cukupkan kalau ke kampus gue?" tanya Meira.
"Cukup, sih..."
"Kalau gitu lo gak usah isi bensin. Ayo buruan gue udah telat, nih."
"Iya, iya, Mbak. Eh, Meira maksud saya."
Tepat sekali dugaan Rizal. Bensinnya habis tepat didepan gerbang kampus Nusantara.
"Akhirnya sampai juga, nih, duitnya." Meira menyodorkan selembar uang berwarna merah pada Rizal.
"Ini kembaliannya."
"Thanks, ya. Gue kasih lo bintang lima, deh, Rizaldi Anugerah." ucap Meira lalu memencet bintang urutan ke lima di aplikasi Ojekku.
"Terima kasih." ucap Rizal lalu mendorong motornya.
"Kenapa didorong?" tanya Meira seakan tidak ingat saat Rizal bilang kalau bensinnya tinggal sedikit.
"Bensin saya habis."
__ADS_1
"Maafin gue, ya." Meira lalu berlari masuk kedalam kampus. Ini saja ia sudah terlambat lima menit.
Rizal hanya bisa bersyukur ada yang memesan Ojekquick nya. Apalagi dia diberi bintang lima oleh perempuan tadi.