
Raut wajah Wijaya sudah memerah menahan amarah. Kemarin Boy mendatanginya dan memperlihatkan foto-foto Meira yang tersebar di kampus kemarin. Boy mengadu pada Wijaya perihal hubungan Rizal dan Meira. Tentu saja Wijaya tak terima. Selain rencana perjodohannya bisa jadi akan gagal karena ulah Meira itu, ia juga bakal malu sekali jika anaknya berhubungan dengan pria yang derajatnya jauh dibawah Meira. Ia dan Sherin akan pulang menemui Meira hari ini. Meminta penjelasan kepada sang anak tentang foto itu.
Meira bangun dengan tubuh yang masih terasa sakit. Tadi malam ia sudah di obati dokter Ronald. Tidak ada luka serius, hanya saja ia butuh istirahat setidaknya sehari. Lina sudah mempersiapkan susu hangat dan roti yang berisi selai coklat kesukaan Meira di meja makan.
"Non, katanya hari ini Bapak dan Ibu mau pulang."
"Tumben." Meira lalu meneguk susu hangat itu.
"Mungkin mereka kangen sama, Non." ucap Lina sembari tersenyum.
Meira memutar bola matanya dengan ekspresi malas. Perkataan Lina itu jauh dari kenyataan. Orang tuanya selama ini pulang hanya ada keperluan, bukan sepenuhnya rindu dengan sang anak.
"Bangunkan aku jika mereka datang." ucap Meira lalu pergi meninggalkan meja makan.
Sudah tengah hari, akhirnya Wijaya dan Sherin sampai dirumah. Wijaya yang sudah tak tahan lagi ingin bertemu Meira itu langsung masuk dan naik ke lantai atas.
"Mana anak itu?" tanyanya pada Lina.
"Non Meira sedang tidur, Pak." jawabnya menunduk hormat pada sang majikan.
"Bangunkan. Suruh dia kebawah." perintahnya.
Meira datang menemui kedua orangtuanya. Ia menyalami dan memeluk Sherin. Tapi beda dengan Wijaya, ia tak mau basa-basi lagi. "Ada apa, Pa? Kok tumben pulang."
"Duduk."
Meira sangat heran dengan tampang sang papa yang sedang menahan amarah itu.
"Siapa dia?" Wijaya menunjukkan foto-foto Meira dan Rizal yang ia dapat dari Boy.
"Dia..."
__ADS_1
"Kamu sudah bikin Papa malu, Mei. Kamu itu sudah kami jodohkan dengan Boy. Mau taruh dimana muka Papa jika kamu punya hubungan dengan tukang ojek seperti ini?" ucap Wijaya geram.
"Dari awal aku tak setuju dengan perjodohan ini, Pa. Dan sampai kapanpun aku tidak akan mau."
"Kamu tidak boleh menentang Papamu, Nak," Sherin mengelus lembut bahu sang anak.
Meira menoleh mamanya heran, tak ada sedikitpun perlawanan dari sang mama untuk membelanya. Dari dulu Sherin selalu berpihak kepada Wijaya tanpa memikirkan perasaannya.
"Pikirkan perusahaan kita." lanjutnya.
"Jauhi gembel itu!" bentak Wijaya.
Tanpa berkata apapun Meira berdiri dan keluar dari rumah meninggalkan kedua orangtuanya yang masih duduk di ruang keluarga. Ia melajukan mobilnya dengan perasaan yang teramat sangat kesal. Rumah serasa panas seperti neraka setiap kali orangtuanya pulang. Selama ini harapannya adalah jangan terlalu sering bertemu dengan orang yang ia panggil papa dan mama itu. Kasih sayang Melinda dan Dewanto sudah cukup baginya. Lagi pula selama ini ia juga di jaga oleh Lina dan Burhan, orang sudah menemani dan merawatnya dari kecil. Tidak, memang tidak ada nama Sherin dan Wijaya di hatinya.
Nu, gue butuh lo.
Meira mengirim pesan pada Rizal, karena saat ini ia benar-benar butuh teman untuk mencurahkan segala kesedihan yang sedang ia rasakan saat ini.
Mau tidak menghiraukan tapi ia juga khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. Tapi jika bertemu terus akan ada perasaan yang lebih dalam lagi. Hatinya bimbang, antara melaju atau tidak. Tapi... Ah, sudahlah.
"Ada apa, Mei?"
Meira menoleh, matanya sudah sembab karena menangis dari tadi. Ia berlari kearah Rizal yang sedang berdiri di depannya. Ia memeluk erat pria berjaket hijau itu. Meminjam kenyamanan sebentar saja.
"Papa jahat..." Ia mengeratkan pelukan yang tak berbalas itu.
"Gue udah gak tahan sama sikap papa sama mama, Nu." ia kembali menangis.
Rizal memegang kedua pundak gadis cantik itu perlahan. Mencoba menenangkannya. "Sudah jangan nangis lagi, Mei."
Meira menggeleng dalam dekapan Rizal. Rasanya tak ingin lepas.
__ADS_1
"Lepaskan anak saya!" seseorang menarik tangan Rizal dengan kasar. Pria berjas hitam itu datang dengan sang supir untuk menjemput sang anak yang kabur di tengah-tengah perbincangan di ruang keluarga tadi.
Rizal hanya bisa berdiri diam di samping Meira. Dari gelagatnya, ia sudah tau siapa pria paruh baya yang ada didepannya saat ini.
"Keterlaluan kamu!" tangan Wijaya melayang hendak menampar pipi mulus sang anak, tapi Rizal langsung membelakangi Meira. Kini wajahnya terasa panas dan memerah. Karena tamparan Wijaya melayang padanya.
Meira yang terkejut langsung memegangi tangan Rizal. Ia tak menyangka papanya tega ingin menamparnya hanya karena ia tak mau menuruti kehendak sang papa.
"Oh, mau jadi pahlawan anak saya, ya? Bagus juga tamparan itu untukmu." tunjuk Wijaya pada Rizal.
"Maaf, Om. Saya bukan mau ikut campur. Tapi sebaiknya Om tidak melakukan kekerasan pada anak Om sendiri." ucap Rizal yang masih memegangi pipinya.
"Jauhi anak saya," tunjuk Wijaya dengan tatapan tajam pada Rizal. "Orang gembel seperti kamu tidak pantas berada didekat anak saya, Meira itu sudah dijodohkan. Jadi kamu harusnya tau malu!" bentaknya.
"Papa!"
Deg...
Aku tak tau malu...
Rizal menahan napasnya agar tak emosi menghadapi laki-laki yang ada didepannya itu. Dari awal ia juga tak pernah mau dekat dengan Meira. Tapi Meira lah yang selalu datang padanya. Ia juga sudah berusaha membuang perasaan nyaman, suka maupun perasaan lebih dari itu di hatinya. Tapi setiap ada Meira ia seolah lupa kalau derajat mereka sangatlah berbeda. Sekarang Meira sudah seperti tuan rumah dihatinya yang tanpa permisi lagi sudah duduk santai didalamnya.
Saat Wijaya hendak menarik tangan Meira secara paksa, ia menahan Meira. "Saya akan tetap berada di sisi Meira, Om." Rizal menatap Wijaya dengan berani. Apapun yang akan terjadi kedepan, ia harus siap menghadapinya.
Sontak Meira kaget dengan ucapan Rizal barusan. Ucapan yang selama ini ia tunggu akhirnya di ucapkan oleh Rizal.
"Kamu sedang melawan orang yang salah, anak muda." Wijaya tersenyum sinis. "Kita lihat saja sampai mana kamu akan bertahan,"
Wijaya menoleh Meira yang sedang bersembunyi di balik badan Rizal. "Ingat! Pertunanganmu dengan Boy akan di percepat." ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan penuh amarah.
Tidak sesuai harapan, kali ini Meira benar-benar melawan perintahnya. Anak itu bersikeras untuk menolak perjodohan yang sudah direncanakan. Sebenarnya perusahaan Wijaya tidak akan bangkrut jika perjodohan ini tidak dilakukan. Tapi sifat tamak yang ada di dirinya begitu kuat. Ia ingin menguasai segalanya. Perusahaan yang sedang melaju pesat saat ini belum cukup untuknya hingga mengorbankan perasaan sang anak untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan ternama milik Gunawan itu agar perusahaannya melaju lebih pesat lagi.
__ADS_1