My Sweet Green

My Sweet Green
Siapa Yang Egois?


__ADS_3

Sepasang suami istri itu keluar dari mobil sedan berwarna hitam. Mereka melihat kondisi rumah yang sudah mereka tinggalkan hampir dua bulan. Keadaannya tampak sunyi, apa anak semata wayang mereka jarang dirumah?


"Non Meira sedang kuliah, Pak, Buk." Lina menundukkan kepalanya hormat.


Pukul lima tepat Meira pulang ke rumah, ia melihat ada sedan hitam di garasi. Meira menghela napas, ternyata mereka masih ingat rumah. Pikirnya.


"Meira..." panggil sang mama.


"Eh, Pa, Ma, Kapan kalian pulang?" tanyanya basa-basi.


"Tadi siang, Sayang." jawab Sherin lalu mengelus lembut bahu sang anak.


Mereka duduk di ruang keluarga. Menikmati malam yang canggung. Entah ada kepentingan apa sehingga kedua orang tua Meira pulang. Yang jelas bukan hanya sekedar untuk menjenguk anaknya. Meira sudah paham sekali.


"Gimana hubunganmu dengan anak nya pak Gunawan itu?" tanya Wijaya spontan.


Meira diam. Butuh beberapa menit berpikir untuk menjawab pertanyaan sang papa.


"Baik-baik saja, kan?" tanyanya lagi.


"Kami sudah putus." Meira menegakkan kepalanya setelah beberapa menit mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kenapa, Nak?" sahut Sherin.


Meira hanya menggeleng. "Meira dan Boy sudah tidak punya kecocokan lagi, Ma. Lebih baik Meira sudahi saja hubungan kami."


Wijaya mengepalkan tangannya geram. Ia sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan Meira. Saat ini Gunawan adalah aset penting bagi perusahaan Wijaya Grup. Mendengar Meira telah memiliki hubungan cukup lama dengan anak pemilik perusahaan Gunawan Grup itu, Wijaya merasa aman-aman saja. Tapi mendengar pernyataan Meira beberapa menit yang lalu amarahnya meluap. Geram.


"Menjalin hubungan itu bukan masalah cocok atau tidak, itu hal yang biasa."


Meira masih diam.


"Kamu tau siapa Gunawan itu? Dia adalah pemilik perusahaan konveksi terbesar di kota ini. Dia adalah investor tetap kita. Dan sekarang kamu menyia-nyiakan kesempatan untuk mempererat hubungan dengan keluarga mereka." ucap Wijaya kesal.


"Meira tidak mau punya pasangan yang kasar dan juga tukang selingkuh seperti Boy, Pa." sanggah Meira.


"Nak, sifat orang kan bisa berubah. Bertahan saja dulu." ucap Sherin lembut.


Lembut memang, tapi sangat menyayat hati Meira. Sang mama tega menyuruhnya untuk bertahan dengan pria seperti Boy. Tak ada sedikitpun pengertian dari kedua orang tuanya ini. Dadanya kembali sesak, ingin ia lari dari rumah yang seperti neraka ini. Orang tuanya tak sedikitpun menanyakan kondisinya, kuliahnya ataupun yang lain. Yang ada dipikiran mereka hanya lah bisnis.


"Papa harap kamu balikan sama Boy. Bujuk Dia." ucap Wijaya.


Mata Meira terbelalak mendengar ucapan sang papa. Tentu saja ia tidak akan melakukan hal itu.


"Cobalah, Nak. Samping kan ego mu dulu demi kebaikan perusahaan papa kamu." bujuk Sherin.

__ADS_1


Ego siapa yang harus di kesampingkan? Apa mereka bicara saat sedang mabuk hingga tak sadar siapa yang lebih egois disini? Orang tua seperti apa mereka yang tega memaksa anaknya seperti ini. Mereka lah yang sesungguhnya egois, memaksa sang anak untuk kepentingan sendiri.


Meira tau ia terlahir dari orang tua yang dulunya menikah karena perjodohan atas dasar bisnis. Tapi ia tak mau nasib nya sama dengan Sherin sang mama. Baginya perasaan bukan untuk dipermainkan. Ia tak akan tahan jika akan bernasib sama dengan mamanya.


Beruntung Sherin dulu dijodohkan dengan Wijaya, pria dingin tapi baik. Hingga rumah tangga mereka bertahan selama ini. Tapi beda kasus dengan Meira, Boy adalah pria kasar dan tukang selingkuh.


"Kalau kamu tidak mau balikan dengan Boy. Biar papa yang akan turun tangan." ucap Wijaya lalu pergi meninggalkan dua perempuan itu.


Meira pun pergi meninggalkan Sherin tanpa sepatah kata pun. Hatinya sakit sekali, tak terasa air matanya berderai. Bertemu orang tua yang hampir dua bulan tidak pulang harusnya ia merasakan kebahagiaan karena melepaskan kerinduan kepada orang yang disayangi.


Meira mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi seseorang yang siapa tau bisa melegakan hatinya.


"Ini siapa?" tanya seseorang diseberang telepon.


"Ini gue Meira, Nu. Maaf gue lancang ngambil nomor hp lo di aplikasi Ojekku."


"Tidak apa-apa, ada apa, Mei?"


"Lo dimana? Gue mau curhat." ucap Meira sesegukan.


"Aduh maaf, Mei. Aku belum pulang kerja."


"Ah, iya, tidak apa-apa. Maaf menggangu, ya, Nu." Meira menutup telponnya. Padahal ia ingin sekali bercerita pada Rizal tentang apa yang dialaminya malam ini. Ia merasa lega saja jika curhat dengan Rizal, walaupun tanggapan Rizal seadanya.


***


"Jangan biarkan Meira keluar hari ini." tambahnya.


"Iya, Mas." angguk Sherin.


Meira mendengar itu, ia tidak mau melihat wajah Boy lagi. Ia mencoba mencari cara agar bisa keluar dari rumah. Mumpung ini masih pagi, ia cepat-cepat menyiapkan bahan kuliahnya. Ia pun juga sudah rapih sejak jam tujuh pagi tadi.


Meira kemudian keluar dari rumah diam-diam. Setelah keluar rumah tanpa ketahuan, ia mengabari Lina yang memang masih berbelanja di pasar. Ia meminta Lina menyampaikan kalau dirinya pergi lebih awal karena ada kelas pagi yang tak bisa ditinggalkan.


"Aku tidak akan mau dijodohkan dengan pria hidung belang itu." gerutu Meira.


Tentu saja Meira tak ke kampus pagi-pagi seperti ini. Kelas dimulai jam sembilan nanti. Ia menuju rumah Dwi terlebih dahulu.


"Tumben lo jemput gue." ucap Dwi lalu memasuki mobil Meira.


"Gue lagi baik aja."


"Pagi banget lagi." tambah Dwi heran.


"Abis jam kuliah kita main, yuk." ajak Meira.

__ADS_1


"Sorry banget, Mei. Gue nanti ada kelas tambahan sampai jam lima."


"Gitu, ya." ucap Meira yang tampak kecewa.


"lo kenapa sih, Mei?" tanya Dwi curiga. Jangan-jangan Meira sedang ada masalah.


"Gue gakpapa." ucap Meira tersenyum palsu.


Pukul dua siang, kelas sudah selesai. Meira menuju mobilnya. Sedangkan Dwi masih melanjutkan kelas tambahan. Sekarang ia tak tau harus kemana. Ia tidak akan pulang karena sang papa yang mengundang Boy untuk datang ke rumah nya.


Tiba-tiba ia kepikiran untuk ke tempat yang pernah ia kunjungi bersama Rizal waktu itu. Sawah ibu Rizal.


Meira menghidupkan mobilnya lalu menuju kesana. Walaupun hanya sekali, ia bisa mengingat jalannya dengan baik. Tak butuh waktu lama ia pun sampai ke sawah milik ibu Rizal itu. Terlihat ada dua perempuan yang sedang sibuk memanen padi.


"Bik Ningrum!" serunya.


Ningrum menoleh, ia sangat terkejut dengan kedatangan Meira.


"Eh, Nak Meira, ya?"


"Iya, Bik. Ini Meira temannya Rizal." ucap Meira tersenyum.


"Sebentar..." Ningrum menuju sawah untuk memanggil Risma dan mengajaknya menemui Meira.


"Ini ibunya Rizal, Nak." Ningrum memperkenalkan Risma kepada Meira.


"Saya Meira, Bu." Meira mencium punggung tangan Risma.


"Saya Risma." ucap Risma sembari tersenyum ramah.


"Ada perlu apa ya, Nak Meira kesini?" tanya Ningrum.


"Apa mau meneliti lagi?" tambahnya.


"Ah, tidak, Bik. Saya mau main-main saja. Ternyata hari ini saya juga bertemu dengan Bu Risma. Saya senang sekali." ucap Meira.


"Mari duduk, Nak. Kebetulan kami memang mau istirahat makan siang. Ayo kita makan bersama." ucap Risma.


"Iya, Bu. Terimakasih, saya juga bawain makanan untuk Bu Risma dan Bik Ningrum." Meira memberikan bungkusan berwarna putih yang ia beli sebelum kesini tadi.


Mereka menyantap makan siang bersama. Hati Meira sangat lega melihat pemandangan sekaligus sambutan hangat dari dua perempuan itu.


***


"Dimana Meira?"

__ADS_1


"Sudah berangkat kuliah dari padi tadi, Pak." ucap Lina.


Wijaya mengepalkan tangannya geram. Anak tunggalnya itu memang sangat keras kepala. Tapi ia akan tetap kekeh menjodohkan Meira dengan Boy. Itu sudah tekadnya.


__ADS_2