My Sweet Green

My Sweet Green
Rasa Nyaman Yang Terhalang


__ADS_3

Ranjang lebar, kasur yang nyaman, dan kamar yang begitu besar. Rizal terkejut, ini jelas bukan kamarnya. Ia mencoba mengangkat tubuhnya, tapi sayang tenaganya belum pulih benar. Ia menoleh ke arah jendela, matahari sudah muncul. Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya yang terasa tertindih sesuatu.


Meira...


Ia menarik tangan yang di sedang digenggam perempuan itu dengan cepat. Menjauhkan tubuhnya dari cewek manis itu.


"Argh..."


Badannya terasa remuk.


"Lo udah bangun, Nu." Meira menegakkan kepalanya. Ia sangat senang melihat pria yang terbaring disampingnya itu sudah sadar.


"Jangan banyak bergerak dulu, Nu." pintanya.


"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Rizal sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Ia mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Tubuhnya dipukuli habis-habisan oleh Boy dan teman-temannya.


Lo berurusan sama gue, karena lo sudah berani deketin pacar gue!


"Ayo makan dulu, Nu. Lo harus minum obat biar cepat pulih." Meira menyodorkan nasi beserta ayam goreng dan susu hangat yang telah dipersiapkan Lina tadi.


Rizal menatap Meira dalam. Perempuan didepannya ini sudah membuat dirinya babak belur seperti sekarang. Tapi ia tak bisa membohongi perasaannya, bahwa ada rasa suka di lubuk hatinya untuk perempuan ini.


Ia menghela napas, menepis perlahan makanan yang disodorkan Meira.


"Kamu harus makan, Nu." paksa Meira.


"Aku mau pulang."


Rizal mencoba menggerakkan tubuhnya tapi ditahan oleh Meira.


"Maaf..."


"Maafin gue, Nu. Lo terluka gara-gara gue."


Meira memeluk erat tubuh yang terbaring lemah itu sekali lagi. Ia sangat tak tega melihat Rizal seperti ini.


Sedangkan Rizal hanya bisa diam dan terbujur kaku. Ia sama sekali tak menolak pelukan hangat itu. Tak bisa dipungkiri rasa nyaman sudah tercipta dalam pelukan yang Meira berikan.


"Kita memang tak seharusnya berteman, Mei."

__ADS_1


Ucapan Rizal membuat Meira melepaskan pelukannya. Tidak! Rizal tidak boleh berkata seperti itu, pikirnya.


"Boy dan teman-temannya mengeroyokku tadi malam."


Meira menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Rizal mengerti akan perasaannya jika ia ditinggal pria manis itu.


"Gue tau... Tapi gue mohon jangan jauhi gue, Nu. Untuk masalah Boy, gue akan balas perbuatannya."


Rizal menggeleng. Perbuatan Meira hanya akan menambah masalah baru lagi.


"Kamu akan mempersulit hidupku saja."


Meira menunduk, ia makin merasa bersalah.


"Aku mau pulang sekarang." Ia mencoba bangkit dari kasur berwarna putih itu.


"Lo harus makan dulu. Habis itu lo baru boleh pulang." ucap Meira tegas dan menghadang tubuh Rizal hingga si empunya tak bisa berbuat apa-apa.


Meira menyuapi Rizal dengan hati-hati. Ah... Pandangannya terbagi dua antara menyuapi dengan menatap wajah yang teramat sangat manis itu. Rizal sudah membuatnya mabuk.


Meira mengusap bibir Rizal yang belepotan. Mengelus lembut bibir yang pernah ia kecup secara tidak sadar waktu itu.


"Ehem... Aku bisa makan sendiri, Mei." Rizal buru-buru mengambil piring yang ada ditangan Meira.


"Gak papa." Rizal buru-buru menghabiskan makanannya dan menahan rasa sakit di tangan kanannya. Dari pada dadanya semakin berdegup kencang dan tak beraturan akibat tatapan perempuan yang sudah menghipnotis nya itu.


"Ini obatnya," Meira memberikan tiga butir pil bulat dan dua pil lonjong berwarna putih itu pada Rizal.


"Yang ini untuk menurunkan demam dan yang ini untuk menghilangkan sakit-sakit di tubuh lo." terangnya.


"Makasih." Rizal segera menelan pil-pil itu.


"Aku harus segera pulang,"


Ia mencoba berdiri dan meninggalkan rumah Meira sebelum ada kesalahpahaman selanjutnya.


"Terimakasih sudah menolongku. Tapi aku mohon sama kamu, Mei, hubungan pertemanan kita cukup sampai disini. Kita ini beda kasta, aku gak pantas berteman sama kamu. Kamu hanya... Membuat hidupku sulit." ucapnya seperti tertahan. Tapi ini harus diselesaikan. Jika semakin dekat dengan perempuan kaya ini, ia akan semakin terganggu. Lebih baik berterus terang dan menjauh dari sekarang.


Rizal berjalan terhuyung menuju pintu. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.


Sementara Meira hanya terdiam mendengar perkataan pahit yang dilontarkan Rizal. Apa status mereka sangat menghalangi untuk berteman, pikirnya. Itu bukan alasan baginya.

__ADS_1


Rizal berbalik Menatap Meira di ambang pintu.


"Mana baju dan jaketku."


Meira buru-buru mengambil baju dan jaket berwarna hijau itu dan menyembunyikan di belakang badannya agar Rizal tak bisa pulang secepatnya.


"Lo gak boleh jauhin gue."


Rizal menghela napas, lalu mendekati Meira. Berusaha mencoba mengambil baju dan jaket yang disembunyikan di balik tubuh cewek cantik itu.


"Balikin, Mei." pintanya memohon.


"Enggak!"


Rizal menarik tangan Meira hingga tubuh itu jatuh ke pelukannya. Meira hanya tersenyum dibalik dada bidang itu. Ah, ini sangat nyaman.


"Berikan baju dan jaketnya." Rizal kembali mencoba merebut seragam kerjanya itu.


Bukannya memberikan baju dan jaketnya, Meira malah mendekap tubuh Rizal lebih erat lagi. Tak ingin kesempatan ini hilang begitu saja.


Deg...


Rizal yakin jantungnya saat ini berdetak tak karuan. Perempuan ini sudah membuatnya mengeluarkan keringat dingin.


"Mei... tolong lepaskan aku." Ia mencoba mendorong tubuh itu.


"Maaf..." Meira menjauhi Rizal. Sadar akan perbuatannya yang salah. Tapi ia hanya ingin merasakan nyaman sebentar saja.


Air matanya mulai mengalir di kedua pipi mulusnya. Membuat Rizal heran kenapa gadis didepannya ini tiba-tiba menangis.


"Lo gak tau kan gue pulang dari mana tadi malam?" ucapnya sembari mengepalkan tangan. Ingin ia mencurahkan isi hatinya yang sudah sangat penat.


"Gue dipaksa menemui orang tua Boy. Gue dipaksa papa gue sendiri untuk setuju dengan perjodohan itu. Itu semua hanya demi kemajuan perusahaan papa. Lalu dimana hati nurani mereka untuk gue?" Ia menunjuk dadanya yang terasa sesak.


"Kalau bunuh diri itu gak dosa, udah gue lakuin dari dulu!" ucapnya kasar.


"Gue udah gak sanggup lagi, Nu. Gue bodoh udah terjebak rayuan Boy selama dua tahun ini. Dan sekarang masalah gue semakin rumit. Gue..."


Rizal memeluk Meira sekali lagi. Membungkam mulut Meira di dadanya. Entah sadar atau tidak ia mencium rambut hitam lurus itu.


"Sudah cukup, jangan ngawur, Mei." ia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Jujur gue seneng banget bisa ketemu lo, Nu. Mungkin lo nganggap gue musibah bagi lo. Tapi bagi gue lo itu adalah penyelamat gue, Nu. Gue nyaman sama lo." Air matanya berderai hingga membasahi baju coklat itu.


Rizal jadi merasa serba salah. Memang sebaiknya ia tidak pernah bertemu dengan perempuan kaya ini. Jika terus bersama akan banyak rintangan di dalam hidupnya nanti. Tapi ini sudah terlanjur. Ia tak akan bisa melihat Meira bersedih seperti ini. Hatinya ikut tersayat saat melihat Meira menangis tersedu-sedu.


__ADS_2