
"Selamat siang, Om."
"Siang, Boy. Ayo silahkan duduk."
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Wijaya.
"Saya baik, kalau Om dan Tante gimana kabarnya, sehat?"
"Sehat, Nak. Om lihat anaknya Gunawan ini makin tampan saja, ya." puji Wijaya.
"Bisa aja, Om." ucap Boy tersenyum.
Sherin datang membawa dua gelas jus jeruk kepada mereka.
"Diminum, Nak. Ini spesial buatan tante, loh." ucap Sherin sembari memberikan jus jeruk itu pada Boy.
Boy menundukkan kepalanya hormat lalu meminum jus jeruk itu. Ia sudah tau maksud Wijaya dan Sherin mengundangnya. Pasti ingin menanyakan hubungannya dengan Meira. Ini adalah kesempatan bagus untuk Boy. Ia bisa memanfaat kan kedua orang tua Meira agar bisa balikan dengan sang mantan.
Tak bisa dipungkiri setelah putus dengan Meira, Boy merasa kehilangan. Tak ada lagi yang bisa dimanfaatkan. Nayla hanya bisa ngatur dan manja. Ia juga menyesal putus dengan Meira.
"Saya khilaf, Om. Saya merasa bersalah pada Meira. Saya menyesal." Boy menunduk.
"Tidak apa-apa, Nak. Kalian pasti bisa memperbaiki hubungan kalian lagi. Om berharap hubungan kamu dan Meira bisa sampai ke jenjang pernikahan." ucap Wijaya.
Boy mengangguk. "Saya janji tidak akan menyakiti Meira lagi."
Setelah sekitar dua jam lebih mereka berbincang. Boy pamit pulang dengan perasaan senang. Akhirnya dia menemukan cara untuk bisa balikan dengan Meira.
"Salam untuk papa dan mama mu, ya, Boy." Wijaya dan Sherin melambaikan tangannya kepada Boy.
"Tentu, Om, Tan." ucap Boy tersenyum ramah.
Hati kedua orang tua Meira sudah Boy dapatkan. Kini ia harus mencoba kembali mendapatkan hati Meira setelah sering kali ia sakiti. Kalau ia mendapatkan Meira lagi, ia bisa memanfaatkan perempuan cantik itu seperti dulu.
***
"Siapa Meira, Nak?"
Rizal hampir tersedak mendengar pertanyaan sang ibu. Darimana ibunya tau Meira?
"Bukan siapa-siapa, Bu."
"Yang benar?" tanya Risma bak penyidik.
Rizal mengangguk. " Darimana ibu kenal Meira?" tanyanya.
"Dia ke sawah kita siang tadi."
Mau apa?
"Kata Ningrum, Meira itu temanmu." tambahnya.
"Iya, Bu. Dia teman Rizal."
"Dia sepertinya anak orang kaya, ya, Nak?"
__ADS_1
Rizal tersenyum pada sang ibu. "Iya, Bu. Memang Meira memang anak sultan." Ia jadi teringat saat Meira pertama kali makan nasi pecel lele waktu itu.
"Kalau berteman saja, sih, tidak masalah, Nak. Kalau untuk lebih sepertinya kita bukan level dia." tutur Risma. Ia berkata seperti itu agar Rizal tau batasan. Agar Rizal tak terjebak dalam perasaannya pada Meira. Jangan sampai kejadian yang menimpa Tika dulu terulang lagi pada anak bungsunya itu.
Rizal terdiam. Hatinya berdenyut. Kenapa ibunya berkata seperti itu. Ia juga tidak akan jatuh cinta pada gadis manja itu. Tapi kenapa ketika sang ibu berkata demikian, ia seolah menjadi lesu. Hatinya seperti ada yang mengganjal.
"Tidak akan, Bu."
Rizal menarik selimutnya, ia tak bisa tidur. Kepikiran kenapa Meira ke sawah ibunya tadi siang. Apa cewek itu lagi ada masalah besar? Karena ia ingat sekali waktu Meira menelponnya, suara gadis itu sesegukan.
Ah, kenapa Meira harus melibatkan dirinya ke masalah yang ia tak tau itu. Orang se kaya Meira pasti punya banyak teman. Kenapa harus dirinya?
Rizal takut kalau masuk ke kehidupan Meira terlalu jauh. Takut kalau ia akan jatuh cinta pada gadis itu. Status sosial mereka sangat jauh berbeda. Belum lagi ia harus berhadapan dengan Boy sang mantan.
Harusnya kamu tidak kenal aku...
Pukul tujuh pagi. Rizal sudah sarapan dan memanaskan si hitam, motor kesayangannya di teras rumah.
"Hari ini libur, ya, Nak?" tanya Risma.
"Iya, Bu. Ini Rizal mau berangkat ngojek, Bu."
"Gak istirahat saja, Nak?" tanya Risma lagi.
"Tidak, Bu. Kalau ngojek kan lumayan dapat tambahan. Lagian minggu depan kan kita harus bawa kak Tika ke rumah sakit."
Risma mengelus lembut bahu Rizal sembari tersenyum. "Terimakasih, ya, Nak."
Rizal membalas senyum sang ibu.
***
"Rizal gak masuk, ya?" tanyanya pada perempuan berbaju hijau yang ada di balik meja kasir.
"Rizal hari ini libur, Mbak. Ada apa, ya?"
"Ah, tidak ada. Cuma nanya."
"Mbak ini siapanya Rizal?" tanya Erin penasaran.
"Saya temannya, Mbak. Oh, ya, ini uangnya." Meira mengulurkan selembar uang berwarna merah itu pada Erin.
Ia keluar dari minimarket dengan wajah sedikit lesu karena tak bisa bertemu dengan Rizal. Kenapa perasaannya jadi seperti ini? Apa dia benar-benar sudah jatuh hati pada pria manis itu?
Meira menggeleng. Jangan sampai semua itu terjadi.
Meira melajukan mobilnya keluar dari kampus. Hari ini cuma ada tiga kelas. Jadi jam tiga semua sudah selesai. Ia tak tau lagi harus kemana. Mau pulang juga ogah karna masih ada papa dan mama.
Kemarin ia pulang dan ia habis di marahi sang papa karena kabur pagi-pagi. Kalau ia pulang cepat hari ini pasti sang papa akan mengomelinya lagi dan memaksanya untuk balikan dengan Boy.
Meira tiba-tiba menghentikan mobilnya, ia melihat Rizal yang sedang makan bakso pinggir jalan.
"Pak, bakso nya satu, ya."
"Meira..." Rizal sangat terkejut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ngapain disini?"
"Gue mau makan bakso. Gak boleh?" ucap Meira sewot.
"Boleh, tapi..."
"Susah banget ya mau ketemu sama lo." ucap Meira sedikit kesal.
"Mau ngapain ketemu aku?" tanya Rizal heran.
"Lo gak mau ya ketemu sama gue lagi?" Meira balik bertanya.
Rizal hanya menghela napas. "Bukan gitu."
"Kita kan sekarang teman, Nu. Masak lo gak mau ketemu sama temen lo sendiri." ucap Meira lagi.
"Iya, iya. Kata ibu kamu ke sawah ya kemarin?" tanya Rizal.
"Iya, gue mau healing, Nu."
"Kenapa lagi?" tanya Rizal.
"Papa sama mama gue pulang ke rumah."
Rizal mengernyit. Bukannya itu adalah hal bagus.
"Mereka mau menjodohkan gue sama Boy. Gue gak mau, Nu."
Rizal hanya bisa diam. Ia tak tau harus bicara apa. Memang siklus orang kaya kan seperti itu. Perjodohan adalah hal yang biasa demi kepentingan bisnis satu sama lain.
"Gua gak bakal mau di jodohkan dengan Boy."
"Mungkin Boy memang jodoh kamu." ucap Rizal.
"Lo tega gue nikah sama Boy yang kasar dan tukang selingkuh itu?"
"Terus aku harus apa?" tanya Rizal bingung.
"Gue mau nya lo, Nu."
Rizal tersedak mendengar ucapan Meira.
"Gue bercanda, kok." ucap Meira tersenyum geli melihat raut wajah Rizal.
"Aku juga gak mau sama kamu." ucap Rizal.
"Segitu jeleknya, ya, gue di mata lo?" tanya Meira sedih.
"Kamu cantik, kok." Rizal keceplosan.
"Ya gue tau gue cantik, maksud gue segitu jeleknya sifat gue di mata lo, sampai lo cuek banget sama gue. Eh, tunggu...lo barusan puji gue, loh, Nu. Aaaa... Gue seneng banget dengernya, Nu."
"Apaan, sih, Mei." ucap Rizal sedikit gugup dibuat perempuan cantik yang ada disebelah nya itu.
__ADS_1