
Rizal merapikan kemeja putihnya. Ia sudah mempersiapkan kelengkapan bahan untuk wawancara nanti. Semuanya sudah ia persiapkan dari tadi malam dan sekarang sudah saatnya ia berangkat. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Bu, lihat Rizal." pintanya.
"Ganteng sekali anak Ibu." puji Risma sembari tersenyum lembut melihat anak bungsunya sudah berdiri rapih dengan kemeja putih polos dan celana hitam.
"Semoga kamu diterima ya, Nak. Doa Ibu selalu menyertai kamu." tambah Risma.
"Makasih, Bu." Rizal mencium punggung tangan Risma lalu pamit pergi.
Setelah setengah jam perjalanan, Rizal pun sampai. Ia bertanya kepada satpam dimana tempat interview nya diadakan. Satpam itu menunjuk ruang tunggu di dalam kantor berlantai tujuh itu.
"Interview juga, Mas?" tanya seorang perempuan yang duduk disamping Rizal.
"Iya." jawab Rizal sembari tersenyum ramah pada perempuan itu.
"Bagian apa?" tanyanya lagi.
"Kasir, Mbak."
"Jangan panggil aku mbak, kayaknya kita seumuran. Kenalin aku Sindi." Gadis berambut sebahu itu menjulurkan kan tangannya.
"Oh, iya, aku Rizal." Rizal menyambut salam Sindi.
Tiba-tiba seorang perempuan lain datang menghampiri mereka berdua.
"Sindi..." panggilnya.
"Andin."
"Gue udah ketinggalan, ya?" tanyanya sambil mengatur napas yang sepertinya sedang tidak stabil setelah berlari kencang dari parkiran tadi.
"Belum, kok. Sini duduk." ajak Sindi.
Rizal hanya menunduk diam. Bukan anti sosial hanya saja ia tak tau ingin bicara apa pada dua perempuan ini.
"Itu siapa, Sin?" bisik Andin.
"Orang mau interview juga, namanya Rizal."
"Ganteng bingit, Sin." bisik nya lagi lalu melirik Rizal sekilas.
"Eh, Mas kenapa gak jadi Tiktoker aja. Mas nya ganteng soalnya."
__ADS_1
Sontak Sindi mencubit lengan temannya itu.
Rizal hanya tersenyum geli mendengar ucapan Andin. "Saya pemalu orangnya."
"Maafin temen aku ini ya, Rizal. Orangnya memang suka gitu. Oh, ya kamu ada kenalan siapa disini?" tanya Sindi lagi.
"Enggak ada. Aku ngelamar disini sudah tiga minggu yang lalu kalau tidak salah dan Alhamdulillah dipanggil." jawab Rizal.
"Gitu, ya. Kalau kami berdua ditawari omnya Andin. Karena kami baru saja lulus kuliah dan kebetulan ada lowongan untuk menejer disini."
Rizal mengangguk paham.
"Kalau boleh tau, kamu lulusan universitas mana?" timpal Andin
"Saya gak kuliah." ucap Rizal tersenyum tipis.
Andin mengangguk. Ia jadi merasa tidak enak tiba-tiba menanyakan hal itu.
Setelah kira-kira lima belas menit mereka menunggu barulah para calon pekerja lain berdatangan mereka duduk dan saling mengobrol tak terkecuali Rizal. Ada lima perempuan dan lima laki-laki termasuk Rizal. Satu per satu mereka disuruh masuk keruangan untuk di interview. Kini tibalah saatnya giliran Rizal. Jantungnya agak sedikit berdetak cepat. Di dalam hatinya ia terus berdoa semoga ia lolos.
"Kamu akan ditempatkan di toko cabang jalan Kenanga. Dan di SweetMart ini dibagi dua shift. Pagi dan sore, apa kamu sanggup?" tanya lelaki berjas hitam itu.
"Saya sanggup, Pak."
"Kalau begitu kamu akan kami training tiga bulan terlebih dahulu. Jika kamu rajin dan patuh, kami akan langsung mengontrak kamu selama setahun."
"Besok kamu bisa langsung bekerja, untuk masa training kamu akan di gaji tiga juta dan setelah tanda tangan kontrak, baru kami akan normal kan gaji kamu sama seperti karyawan yang lain. Sesuai aturan UMR." tambahnya lagi.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak sudah memberikan saya kesempatan bekerja disini." Rizal menjabat tangan lelaki yang bernama Darwin itu.
Darwin mengangguk tersenyum kepada Rizal.
Rizal senang bukan main. Ia langsung mengabari sang ibu lalu membuka jok motornya. Mengambil jaket Ojekku nya. Niatnya ingin ngojek lagi, setidaknya hanya sampai magrib saja karena besok ia mulai bekerja di SweetMart.
Seperti biasa Rizal mangkal bersama teman ojek yang lain sembari menunggu orderan.
"Hari ini gue lumayan dapat banyak." celetuk Adi.
"Gue juga Alhamdulillah dari pagi sampe sekarang cuma tiga." ucap Wawan dengan raut wajah cemberut.
"Di syukuri saja, Mas." saut Rizal.
Wawan hanya menghela napas. "Ngomong-ngomong kamu udah dapat berapa, Zal? Dari pagi kamu juga tidak ada disini." tanyanya.
__ADS_1
"Saya habis interview kerja, Mas." jawab Rizal.
"Wah, ngojek bakal jadi kerja sampingan aja. Atau kamu akan berhenti ngojek?" tanya Adi.
"Enggak kok, Mas Adi, Mas Wawan. Saya masih tetap ngojek buat tambahan." terang Rizal.
"Kamu rajin bener, Zal." Adi menepuk bahu Rizal. "Keponakan saya seumuran kamu nganggur dikampung sana. Katanya gak mau kerja. Mau bantu ibunya saja berkebun sawi, tapi nyatanya juga jarang bantu. Gak ngerti juga saya sama sikapnya." tambahnya sambil geleng kepala terkenang sang ponakan.
Rizal hanya tersenyum mendengar cerita bapak satu anak itu.
Tiba-tiba ponsel Rizal bergetar tanda orderan masuk. Ia segera berpamitan dengan Adi dan Wawan. Alamatnya tidak jauh dari tempat mereka mangkal. Sekitar lima belas menit.
Setelah sampai, Rizal mencoba menghubungi sang penumpang.
"Sebentar lagi saya keluar, Mas."
"Lo nungguin siapa?" seseorang sudah berdiri didepan Rizal. laki-laki itu tampak sinis melihat wajah Rizal.
"Orderan, Mas."
"Gak ada yang pesen ojek disini. Lo bukannya waktu itu yang menghalangi gue buat ngejar pacar gue, kan?" tunjuk Boy.
"Saya cuma kerja, Mas. Dan kebetulan waktu itu pacar kamu adalah penumpang saya." jawab Rizal santai.
Mita keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Hari ini ia ada janji dengan temannya untuk mengerjakan tugas bersama. Kebetulan mobilnya sedang di pakai sang mama pergi ke butik.
"Maaf sudah menunggu saya lama." ucap Mita pada Rizal.
"Lo yang pesen?" tanya Boy.
"Iya, kenapa?" Mita balik bertanya karena ia curiga dengan gelagat kakaknya yang sepertinya sedang emosi melihat tukang ojek di depannya itu.
"Cancel saja. Biar gue yang nganter, lo." perintahnya.
"Pake apa lo mau nganter gue." ucap Mita kesal. Boy sudah membuang waktunya.
"Mobil lo lah."
"Kalau mobil gue ada dirumah, gue gak bakal pesen ojol. Tidak punya mobil sok mau nganter, makanya punya mobil jangan dijual." gerutu Mita.
"Lo, ya..." Boy mengepalkan tangannya geram dengan perkataan adiknya itu.
"Maaf ini jadi pergi, kalau mau di cancel silahkan, Mbak. Gak apa-apa, kok. Saya akan terima orderan lain saja." potong Rizal. Daripada ia berurusan dengan Boy mending dia pergi. Ia tak mau ribut dengan mantan pacar Meira itu.
__ADS_1
"Jangan, Mas. Saya lagi buru-buru, nih. Jangan dengar omongan orang gila itu." ucap Mita lalu mengambil helm penumpang ditangan Rizal.
Mereka pun berlalu meninggalkan Boy yang berdiri dengan wajah kesalnya. Entah kenapa saat ia melihat Rizal rasanya ingin menonjok pria itu. Boy merasa Rizal juga bagian dari penyebab putusnya ia dengan Meira.