
"Mas kenal sama kakak saya?" tanya Mita penasaran.
"Enggak, cuma waktu itu saya jemput pacarnya terus dia marah-marah."
"Sudah putus, Mas." ucap Mita santai.
Rizal hanya mengangguk. Padahal ia juga sudah tau kalau Boy dan Meira putus.
Setelah dua puluh menit perjalanan, merekapun sampai. Mita memberikan uang lima puluh ribu pada Rizal.
"Kembaliannya gak usah, Mas. Buat tips." ucap Mita tersenyum pada Rizal.
"Wah makasih banyak." Rizal tersenyum senang.
***
Hari pertama kerja, Rizal sudah mempersiapkan semuanya. Ia juga sudah diajari sang kepala toko bagaimana caranya mengelola mesin kasir dan menghapal harga-harga barang. Walaupun agak sedikit bingung, Rizal berusaha menghapal secepat mungkin.
Minimarket SweetMart terdiri dari lima ratus lebih cabang di berbagai kota. Satu toko ada delapan karyawan dua di antaranya adalah kepala toko. Rizal merasa sangat beruntung mendapatkan pekerjaan ini, beruntung dapat pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan.
Rizal mulai merapikan roti panggang yang ada di samping meja kasir. Roti-roti berbentuk bulat itu memang harus di panaskan setiap satu jam agar tetap lezat. Biasanya orang-orang membeli roti dan juga minuman untuk sarapan ataupun makan siang.
Martin sang kepala toko juga memerintahkan Rizal untuk mengecek harga-harga terbaru dan mencetaknya. Karena ia ingin keluar sebentar untuk membeli makan siang. Ia juga berpesan kalau ada yang belum mengerti bisa langsung bertanya pada Riska di gudang belakang.
"Mas, mau roti nya satu." panggil seseorang.
"Rasa apa?" tanya Rizal lalu menoleh sang pembeli. Ia tertegun.
"Coklat." jawab perempuan itu.
"Oh, ya, sama Latte nya satu." tambahnya sembari sibuk men-scroll ponselnya. Ia belum menyadari siapa penjaga toko di hadapannya itu.
"Oke." jawab Rizal singkat. Ia cepat-cepat mengambil pesanan perempuan itu lalu memberikannya.
"Totalnya empat puluh ribu."
"Ini..." Meira seketika terdiam saat melihat kasir yang ternyata Rizal.
"Anu! Lo kerja disini?"
"Iya." jawab Rizal singkat. Sebenarnya ia tak mau lagi berurusan dengan perempuan satu ini. Cukup beberapa waktu itu saja.
"Lo gak ngojek lagi?" tanyanya.
"Masih."
"Lo kenapa cuek banget sih sama gue. Gue ada salah, ya?" tanya Meira heran. Ia tau Rizal memang orang yang pendiam dan cuek setengah mati. Tapi kali ini sikap Rizal berbeda, seperti menghindar.
"Enggak ada."
__ADS_1
"Aneh, lo." ucap Meira kesal.
"Lo bakal ketemu gue terus, karna gue selalu makan siang disini. Jadi lo gak bisa menghindar dari gue." tambahnya.
Rizal mengernyit. "Saya gak menghindar."
Meira mengambil roti dan Latte nya lalu pergi dengan wajah cemberut. Dalam hati sebenarnya ia sangat senang bertemu dengan pria tinggi itu. Dari awal bertemu dengan Rizal ia juga sudah berharap Rizal bisa menjadi temannya. Rizal bagai penyelamat disaat ia bertengkar hebat dengan Boy.
Rizal menghela napas, sikapnya kepada Meira tadi memang dingin. Tapi ia yakin saat menatap wajah gadis cantik itu jantungnya berhenti beberapa detik. Tapi ia sadar ia tak pantas berteman dengan orang-orang seperti Meira. Daripada terjerumus makin dalam, mending menjauh dari sekarang. Apalagi kalau ia sampai jatuh hati pada gadis itu. Sangat menyusahkan.
"Istirahat, gih, Zal. Biar gue yang jaga kasir." ucap Martin lalu mengambil alih posisi Rizal.
"Iya, Bang." Rizal lalu ke ruang istirahat di samping gudang. Ia membuka tasnya, mengambil bekal yang sudah disiapkan ibunya pagi tadi.
Rizal membuka kotak nasi bewarna merah itu, ia tersenyum senang melihat bekalnya. Sambal ikan serta sayur kol dan kacang panjang. Sebelum berangkat kerja tadi pagi ia memang melihat Risma semangat sekali memasakkan bekal untuknya.
Rizal meneguk air putih setelah menghabiskan bekalnya. Ia merenung sejenak, teringat sesuatu. Apakah Meira akan sering mendatangi tokonya nanti. Ia tak tau harus bersikap seperti apa pada Meira.
"Bersikap seadanya saja..." gumamnya.
Delapan jam berlalu, saatnya pulang.
"Ayo, Zal." ajak Riska.
Rizal mengangguk.
"Oh, ya, Ris. Gue boleh tanya?"
"Apa anak kampus Nusantara suka makan siang di SweetMart, ya?"
"Iya, Kebanyakan, sih, sambil nongkrong. Soalnya di toko kita tuh lengkap, sayangnya hari ini memang stok makanan lain habis, tinggal roti. Mungkin besok baru datang. Dan kita bakal sibuk banget besok." tuturnya.
"Gitu, ya." Berarti ucapan Meira tadi benar.
"Bukan anak kampus saja sih, orang-orang kantor deket sini juga sering belanja atau makan disini." terang Riska.
"Tapi tenang, di bagian itu ada Erin. Hari ini dia gak masuk, katanya sakit perut." tambahnya.
Rizal mengangguk paham. Ia lalu mengambil jaket Ojekku didalam tasnya.
"Lo driver ojol?" tanya Riska.
"Iya, Ris." jawab Rizal.
Hebat, lo." ucap Riska tersenyum.
"Biasa aja, buat tambahan." Rizal balas tersenyum.
Rizal pergi meninggalkan toko. Ia langsung ke tempat mangkal. Terlihat Adi dan Wawan sedang duduk santai. Sepertinya mereka habis dapat orderan yang lumayan banyak. Terlihat dari raut wajah yang lelah.
__ADS_1
"Gimana hari ini?" Rizal menepuk bahu Wawan.
"Lumayan."
"Mas Adi?"
"Lumayan juga. Kamu kayaknya lelah sekali."
"Yah, seperti itu lah, Mas." jawab Rizal tersenyum.
Sekitar dua puluh menit mereka duduk disitu. Dan belum satupun dari mereka mendapat orderan. Hingga Adi mengambil ponselnya, wajahnya sumringah tanda orderan masuk.
"Saya duluan." ucapnya tersenyum.
Rizal dan Wawan mengangguk tersenyum.
Tak lama ponsel Rizal juga bergetar. Kali ini bukan Ojekkuride, tapi OjekkuFood. Ia mendapat pesanan nasi goreng spesial restoran dan juga Latte. Ia kembali melihat ponselnya, memastikan pesanan itu.
Latte....
Ia jadi teringat dengan Meira. Ia langsung mengecek alamat pemesan. Jelas itu alamat rumah Meira. Rizal menggeleng.
"Kenapa harus aku?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
Ingin sekali ia menekan tombol cancel pesanan ini, tapi tidak ia lakukan. Hanya mengantar makanan ini kerumah Meira dan lalu pulang. Semoga saja bukan Meira yang menerimanya nanti.
Dijalan ia hanya berpikir bagaimana sikapnya nanti bertemu dengan Meira. Kalau cuek terus bisa-bisa ia diberi bintang satu oleh Meira.
"OjekkuFood!" seru Rizal agak sedikit teriak.
"OjekkuFood!" teriak Rizal sekali lagi.
"OjekkuFood!" panggilan ketiga, tapi Meira belum muncul juga.
Apa aku dikerjain perempuan ini, ya?
Mungkin saja dia kesal dengan sikapku di toko tadi.
"Gimana ini..." Rizal bingung harus pulang atau buka saja gerbangnya dan coba mengetuk pintu.
Sekitar lima menit berpikir, ia memutuskan untuk masuk saja. Ia melihat pintu gerbang rumah Meira tak dikunci. Mungkin saja mereka tak mendengar suaranya.
Rizal mengetuk pintu dan mencoba memanggil lagi. Tapi tetap saja masih tak ada sautan. Rizal mulai kesal, ia yakin kali ini Meira memang ingin mengerjainya.
"Kalau seperti ini aku bakal rugi." gerutunya.
Rizal hendak melangkah pergi meninggalkan rumah Meira.
Bruukkk...
__ADS_1
Terdengar suara benda terjatuh dari dalam.