
Risma memeluk Meira yang sedang berdiri di samping Rizal. Ia berkali-kali mengucap terima kasih pada gadis cantik berambut sebahu itu. Meira adalah penyelamat hidup Tika. Di saat ia sudah berkeliling mendatangi sanak keluarga tapi tidak ada yang sanggup membantu, Meira datang dan dengan cepat memberikan pinjaman uang pada Rizal. Ia sangat bersyukur sekali. Kini Tika sudah sadar setelah menjalankan operasi. Hanya butuh dua hari dirawat lalu setelah itu ia bisa pulang kerumah.
Meira dan Rizal berjalan di koridor rumah sakit. Rencananya mereka akan menjenguk tantenya Meira yang masih dirawat di Rumah Sakit Harapan.
"Omongan gue waktu itu jahat banget, ya, Nu." Meira menunduk merasa sangat bersalah.
Rizal hanya tersenyum. Tak bisa dipungkiri ia memang sakit hati waktu itu. Tapi dirinya percaya kalau Meira itu anak yang baik. Wajar-wajar saja kalau Meira malu jika dekat dengan orang kalangan bawah sepertinya.
"Lupain aja, Mei. Sekarang kamu adalah orang baik di mata ku." ucapnya tersenyum.
"Apaan, sih, lo," Meira menepuk bahu cowok manis itu. Merasa ucapan Rizal barusan sangat berlebihan.
"Etika gue buruk banget, Nu. Gue salah waktu itu."
"Aku ngerti kok, memang seharusnya kita tidak berteman, kan."
Meira mencubit lengan Rizal hingga si empunya kesakitan.
"Lo masih marah, ya, sama gue. Gue minta maaf, pokoknya gue gak mau denger lo ngomong gitu lagi!" ucapnya kesal.
Sedangkan Rizal hanya tersenyum sembari menggosok lengan bekas cubitan cewek manis itu.
Mereka sampai di ruangan Melinda. Rizal ragu-ragu untuk masuk, takut nantinya Melinda tak menerima kedatangannya. Meira menarik tangannya.
"Tante gue baik, kok."
Rizal mengucap salam pada wanita paruh baya yang sedang terbaring itu. Ia mencium punggung tangan Melinda sopan. Melinda membalas dengan tersenyum ramah. Sifat Melinda memang jauh berbeda dengan Wijaya sang kakak. Melinda punya hati nurani dan selalu mementingkan keluarga terutama anaknya. Sedangkan Wijaya selalu mementingkan dirinya sendiri.
"Siapa ini, Mei?" tanyanya.
"Ini Rizal, Tan. Dia teman Meira, kakaknya juga dirawat disini. Jadi sekalian katanya mau jenguk Tante."
"Oh, gitu, ya. Makasih ya Nak Rizal." ucapnya tersenyum ramah pada Rizal.
Rizal mengangguk sembari tersenyum. Mereka berbincang ringan. Melinda mempertanyakan pekerjaaan Rizal dan kapan pertama kali bertemu dengan keponakan kesayangannya itu. Ternyata Melinda sangat baik dan ramah. Tidak seperti di bayangannya sebelum bertemu tadi.
"Si Buaya udah tau belum kalau Tante sakit?" tanya Meira di sela perbincangan.
Melinda menggeleng. "Nanti dia khawatir lagi,"
__ADS_1
"Si Buaya yang disebut Meira itu anak Tante, Zal. Itu panggilan konyolnya mereka saja." ucapnya terkekeh.
Meira dan Ardi memang sangat akrab sedari dulu. Ardi sudah menganggap Meira seperti adik kandungnya. Walaupun Meira kurang mendapat kasih sayang orangtuanya, tapi ia selalu dapat hal itu dari Ardi dan Melinda. Ardi sangat menyayangi Meira hingga ia berjanji jika siapa pun yang menyakiti sepupunya itu akan berhadapan dengan dirinya. Tapi sayang janji itu sudah lama Meira tunggu tapi Ardi belum juga menepatinya. Karena sudah dua tahun mereka tak bertemu.
"Meira kangen banget sama Buaya, Tan."
Melinda hanya bisa tersenyum. Sebenarnya ia juga sangat merindukan sang anak. Tapi apa boleh buat, Ardi memutuskan bekerja di luar negeri setelah ia batal menikah. Ia menolak membantu usaha sang papa dengan alasan tak mau terkekang. Meskipun penyayang ia punya sifat keras kepala. Kadang Melinda berpikir kenapa sifat anaknya itu sangat persis dengan sifat sang kakak. Wijaya, yang tak lain adalah papanya Meira.
"Semoga cepat sembuh, Tan." ucap Rizal lalu pamit pada tantenya Meira itu.
Meira juga menyalami Melinda, mencium pipi sang tante. Melinda membisikkan Meira yang membuat cewek berbibir belah itu senyum salah tingkah.
"Ini lebih baik dari Boy, Sayang."
Ya. Melinda memang sudah tau cerita asmara Meira yang kandas. Setelah dua hari putus dengan Boy, Meira langsung kerumah sang tante. Meminta pendapat atas keputusannya itu. Ia juga bercerita kalau papa memaksa dirinya untuk tetap bersama si pecundang itu. Melinda hanya bisa memberi nasihat yang baik. Satu yang ia tekankan pada Meira waktu itu, ikuti kata hati.
"Makan, yuk, Nu. Gue lapar, nih."
"Dimana?"
"Taman aja, gimana?"
"Ide bagus." Meira membalas senyum pria manis itu.
Mereka duduk di taman Rumah Sakit Harapan dengan dua kotak nasi goreng di pangkuan masing-masing.
"Tante Melinda ternyata baik."
"Jadi lo berpikir buruk tentang tante gue?" tatap Meira sinis.
"Bukan gitu..."
"Tante Melinda itu udah seperti mama gue tau. Kalau boleh tukar posisi, biar gue jadi aja jadi anaknya tante Melinda dan om Dewanto. Sayangnya dulu mereka tinggal di luar kota. Jadi kami jarang ketemu. Tapi si buaya sering kok nemenin aku kemana-mana dulu,"
Rizal mengangguk paham.
"Oh, ya, ngomong-ngomong, donat kentang yang kamu makan waktu itu dari toko tante Melinda, loh." tambahnya.
"Oh, ya? Pantes rasanya enak banget" Rizal tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kalau inget donat kentang itu gue jadi malu." ucapnya tersipu.
Rizal mengernyit. "Kenapa?"
Meira berdecak kesal. " Lo udah ngambil ciuman pertama gue tau!"
"Uhukk!" Rizal hampir saja memuntahkan nasi gorengnya mendengar pernyataan Meira barusan.
"Itu bukan ciuman, Mei. Lagipula..." ia tak melanjutkan ucapannya. Kalau Meira ingat, dia lah yang mengambil ciuman pertama Rizal saat mabuk malam itu. Ia buru-buru menghabiskan nasi gorengnya.
"Apa?" desak Meira.
"Tidak usah dibahas."
"Gue rasa perlu dibahas, sih." ucapnya santai.
"Gitu, ya?" tanya Rizal lalu menatap Meira, membuat cewek cantik itu seketika gugup.
"Coba kamu ingat-ingat lagi, siapa yang merebut ciuman pertama siapa?"
Meira terdiam. Ia baru sadar kalau dia pernah mencium bibir pink itu saat di kamar. Walaupun dalam keadaan mabuk, ia tau persis dengan apa yang ia lakukan malam itu, saat ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rizal dan mencium bibir lembut yang ia kira permen Lollipop. Ia ingat sekali.
"Sudah gak usah dibahas." ucapnya lalu meminum air putih hingga habis untuk menghilangkan rasa grogi nya.
Akhirnya mereka sama-sama canggung setelah percakapan tadi. Rizal juga merasa tak enak meski itu terjadi secara tak sengaja.
"Tapi aku benar-benar minta maaf jika itu mengganggu pikiranmu, Mei."
"Gak papa, Nu. Lagian harusnya aku kan yang minta maaf." ucapnya tersenyum.
"Oh, ya. Kenapa kamu manggil anaknya tante Melinda dengan sebutan Buaya?"
"Karena kak Ardi tuh, Playboy, keras kepala. Sama tuh sifatnya kayak papa. Tapi dia selalu baik sama gue. Dia sayang banget sama gue."
Rizal tersentak mendengar nama itu. "Ardi?"
"Iya kakak sepupu gue itu namanya Ardi. Sekarang dia kerja di luar negeri."
Nama itu...
__ADS_1
Rizal menggeleng. Ia masih mencoba untuk berpikir positif. Nama Ardi tidak hanya satu di dunia ini. Ia berharap Ardi kakak sepupu Meira itu bukan lah Ardi yang ia cari.