
"Jangan berantem lagi, please."
Dwi menggenggam tangan Meira. Menahan sahabatnya itu agar jangan terpancing emosi. Nayla dan tiga orang temannya sudah berdiri di depan mereka berdua.
Meira menahan napas. mau apa lagi perempuan ini?
"Gak punya kerjaan lain lo?"
"Apa maksud, lo?" Nayla balik bertanya.
"Lo ngikutin kita, kan? Ngaku aja deh, lo!" bentak Meira.
"Jangan kepedean, lo, bocah." ucap Nayla tersenyum sinis.
"Kita pulang."
Meira menarik lengan Dwi. Niat hati ingin menenangkan perasaan malah jadi begini. Bukan ketenangan yang ia dapat tapi ketegangan.
"Dasar bocah. Ke klub cuma minum milkshake. Mending ke outlet boba aja sana." ucap Nayla diiringi gelak tawa.
Meira mengepalkan tangannya geram. Ia sangat terusik dengan kehadiran Nayla. Rasanya dulu ia tak pernah bertemu dengan mantan Boy yang satu itu. Tapi kenapa sekarang perempuan itu jadi pengganggu di hidupnya, padahal ia sudah melepaskan Boy. Lalu apalagi yang diinginkan Nayla darinya. Kehancuran?
"Sekarang apa mau lo?" Meira berbalik badan, menatap Nayla tajam.
"Gue tantang lo minum sebotol wine." ucap Nayla santai.
Dwi menarik-narik lengan Meira, ia menggeleng memberi kode kepada Meira agar jangan menerima tantangan konyol itu. Sementara Meira masih terdiam. Terima atau tidak.
Sebelumnya ia tak pernah meminum minuman itu. Jangankan minum, menyentuhnya saja ia tak pernah. Lalu ia ditantang untuk minum sebotol, apa jadinya ia nanti?
"Ya sudah, gue tau lo cupu. Pulang, gih. Nanti lo dicariin mama, loh." ucap Nayla dengan nada mengejek. Tiga orang temannya pun mengacungkan jempol kebawah pada Meira.
"Gue terima!"
"Ikut gue." Nayla mengajak Meira dan dua temannya ke tempat minum yang agak jauh dari tempat duduk Meira dan Dwi tadi. Sementara Dwi dan satu teman Nayla yang tadi hanya duduk diam setelah Nayla mengancam Dwi jika ikut bersama mereka ia bisa jamin Dwi tidak akan keluar dari klub ini.
"Santai aja, Wi. Cuma sebotol, kok." ucap Meira mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Dwi hanya bisa terdiam bisu. Meira sama sekali tak bisa di beri tau. Ia juga menyesal mengajak Meira kesini tadi.
"Ini." Nayla memberikan sebotol wine itu pada Meira. Dengan sangat yakin Meira mengambil lalu membuka botol berwarna hitam itu.
"Kalo lo habisin minuman itu, lo hebat." ucap Nayla tersenyum licik.
__ADS_1
Meira mulai meneguk minuman beralkohol itu. Begitupun dengan Nayla.
Sudah hampir setengah botol Meira meminumnya. Kepalanya sudah mulai terasa pusing. Penglihatan nya pun mulai kabur. Ingin muntah rasanya.
"Gimana? kalau mau menyerah juga gak apa-apa." ucap Nayla santai. Wajar saja ia tak mabuk sedikitpun, karena dua minuman itu mereka berbeda takaran alkohol. Meira sebenarnya sedang dibodohi.
Merasa tak terima karena terus di ledek Nayla. Ia langsung meneguk minumannya hingga tetes terakhir.
"Gimana?" tanya Nayla santai.
Mata Meira mulai berkunang-kunang. Berjalan pun sudah tak ada keseimbangan.
"Bawa dia keluar dari sini!" perintah Nayla pada dua temannya itu.
Mereka pun membawa Meira keluar dari klub dan meninggalkan Meira di jalan yang entah dimana. Sementara Nayla menemui Dwi yang sendang duduk cemas di kursinya.
"Temen lo Cemen." ucap Nayla lalu duduk santai di samping Dwi.
"Dimana Meira?!" tanya Dwi geram.
"Dia kabur."
"Bohong!" Dwi mengepalkan tangannya. "Dimana Meira?!" tanyanya sekali lagi.
Apa benar?
Dwi terdiam. Hal itu memang bisa saja terjadi sebab Meira tak pernah sekali pun meminum minuman keras itu. Apa mungkin tadi ia menolak tantangan Nayla lalu pulang tanpa memberitahunya lagi. Dwi beranjak pergi dari klub itu tanpa mengatakan apapun pada Nayla.
"Sudah gue bilang, temen lo tuh cupu!" seru Nayla diiringi gelak tawa.
Di perjalanan, Dwi terus menerus menghubungi Meira tapi tak ada jawaban. Ia takut kalau Meira akan marah padanya hingga pulang sendiri.
"Mei, angkat dong." Dwi mencoba kembali menghubungi Meira. Tapi tetap masih tak ada jawaban.
Akhirnya Dwi pun sampai di rumahnya, hatinya tak tenang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo... Non Dwi, apa Non Meira menginap dirumah Non malam ini?"
Tangan Dwi gemetar. Benar dugaannya. Nayla telah berbohong padanya. Dwi panik, hingga ia mengiyakan pertanyaan asisten rumah tangga Meira. Ia takut disalahkan jika nanti terjadi sesuatu pada Meira.
Kalau dia bicara jujur, bisa-bisa Lina sang asisten rumah tangga Meira akan mengadu pada kedua orang tua Meira. Urusannya bakal panjang.
"Gimana ini?" gumam Dwi panik.
__ADS_1
Ia kembali meninggalkan rumah, Mencari Meira. Ia kembali ke klub siapa tau Meira masih ada disana. Tapi sayang nya Meira tak nampak di klub itu.
"Gue harus gimana?" Dwi meninju setir nya kesal.
Dwi mencoba mencari Nayla di klub itu untuk menanyakan dimana keberadaan sahabatnya itu. Ia melihat Nayla dan tiga temannya masih duduk santai menikmati musik.
"Dimana Meira?!" bentaknya.
"Lo balik lagi?" tanya Nayla basa-basi.
"Dasar gila, lo! Kalau terjadi sesuatu pada Meira gue bakal tuntut, lo. Cepat beri tau dimana Meira!"
"Mana gue tau, dia kan temen lo. Mungkin udah bersenang-senang kali sama om-om." ucap Nayla santai diiringi gelak tawa teman-temannya.
"Jaga omongan, lo!" ucap Dwi geram.
"Awas kalau terjadi apa-apa pada Meira." Dwi meninggalkan Nayla.
Dwi menghidupkan mobilnya lalu meninggalkan klub itu dengan perasaan kesal. Ia kembali kerumah, hatinya tak tenang. Semua tempat sudah ia datangi untuk mencari Meira tapi tak ketemu juga. Ia hanya bisa berkata dalam hati, semoga Meira baik-baik saja.
***
"Gimana hari ini, Zal?" tanya Martin sembari memasang jaket berwarna hitam itu.
"Sedikit melelahkan, Bang." ucap Rizal tersenyum tipis.
"Yah, begitulah kalau shift sore. Kita bakalan lebih sibuk. Pembeli ramai setelah maghrib." ucap Martin.
Rizal mengangguk paham. Memang shift sore sedikit membuatnya kelelahan. Mungkin baru pertama kali, jadi belum terbiasa.
"Gue duluan, Zal." seru Martin lalu meninggalkan Rizal.
"Hati-hati, Bang."
Mereka berdua memang pulang agak lama dari Riska dan Erin. Karena harus membereskan barang dan mengunci toko.
Sudah pukul sebelas malam, Rizal bergegas pulang. Matanya sudah berat sekali tak tahan lagi menahan kantuk.
Hari ini ia tak melihat batang hidung Meira, cewek manja itu tumben tak datang ke toko. Seminggu shift pagi, Meira selalu datang membeli sesuatu. Apa mungkin dia tidak kuliah hari ini?
Ah, mungkin saja ia sudah pulang jam tiga sore. Tapi kenapa Rizal tiba-tiba kepikiran perempuan itu?
Rizal menggeleng, pikirannya sudah kemana-mana. Bagus jika ia tak bertemu dengan Meira lagi.
__ADS_1