My Sweet Green

My Sweet Green
Aroma Vanila Yang Memabukkan


__ADS_3

Meira berlari mengejar seseorang di parkiran SweetMart itu. Pria berjaket hijau itu hendak meninggalkan toko dan ingin pergi ke pangkalan. Dengan napas yang masih terburu-buru ia akhirnya bisa menghentikan pria itu. Meira menarik tangan Rizal hingga si empunya turun dari motor.


"Lepas, Mei. Aku lagi buru-buru."


"Enggak!" bantah Meira dengan wajah cemberut.


"Lepaskan. Aku tidak mau berurusan dengan tunangan mu itu." Rizal menepis tangannya cukup keras hingga membuat Meira kaget.


"Gue bisa jelasin, Nu."


"Mei, sudahlah. Pergilah bersama tunangan mu. Kau datang bersamanya, lalu kenapa pulang sendiri?" ucap Rizal dengan nada yang tampak sedikit kesal. Cemburu?


"Gue di paksa papa, Nu!"


Rizal terdiam. Baru langkah awal saja Meira sudah luluh dengan papanya. Memang berat untuknya dengan hubungan yang sangat rumit seperti ini.


Cemburu? Benar, hatinya sangat sakit saat ia melihat tangan gadis cantik itu di genggam erat oleh lelaki yang memang pantas bersanding dengannya di balik kasir pagi tadi. Ingin ia menepis tangan itu, tapi keadaan yang membuat ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Anterin gue pulang."


"Pulanglah dengan tunangan mu."


"Apa-apaan, sih, Nu." Meira memegang lengan Rizal dan memaksa untuk mengantarnya pulang.


"Mei, sudahlah, lepaskan!"


"Aku lelah, kita memang tak bisa bersama. Terimalah perjodohan itu. Ikuti alur yang sudah papamu buat. Jika kita menentangnya, aku yakin hidupmu tidak akan seperti sekarang. Begitu juga denganku, Mei. Aku akan selalu mendapat kesulitan. Sekarang ini aku tidak lagi mementingkan perasaan ku, yang aku pikirkan hanya kesehatan kakakku."


Meira tertegun dengan semua ucapan Rizal. Dan... Rizal membentaknya, bentakan itu cukup keras hingga ia bisa merasakan ciut di hatinya. Tak terasa air mata mengalir di pipi mulusnya. Melihat itu, Rizal menghela napasnya menyesal. Tanpa sadar Ia telah menyakiti hati perempuan yang ia sayangi. Tangannya meraih tubuh itu kedalam dekapannya perlahan. Mengelus rambut lurus itu, dan memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hati yang sedih.


"Maaf..."

__ADS_1


"Aku kelepasan membentak mu, beberapa hari ini aku sangat lelah, Mei." Rizal mengeratkan pelukannya.


Mata yang tadinya mengeluarkan air bening itu kini menurunkan alirannya ke bibir hingga mengukir senyum indah, terkesima dengan perlakuan lembut pria berjaket hijau itu. Wangi vanila menyeruak hingga rasanya tak ingin lepas dari pelukan manis ini.


"Asal lo tau, gue sayang banget sama lo, Nu. Lo adalah satu-satunya pelindung gue saat ini."


"Tapi, Mei..." Rizal melepas pelukannya dan menatap gadis itu sendu. "Masalah datang karena adanya aku di hidupmu."


Meira menggeleng. Ia tak ingin keadaan rumit ini akan mengurungkan niat Rizal untuk selalu berada sisinya. Ia yakin jika bersama Rizal ia bisa melewati semua ini. Karena adanya Rizal ia berani menentang kehendak orang tua yang hanya mementingkan kepentingan pribadi.


"Ya sudah ayo pulang." ucap pria manis itu sembari tersenyum.


"Gue mau nanya sama lo, Nu."


"Apa?"


"Kenapa ekspresi lo jengkel banget waktu gue datang sama Boy ke toko tadi?" ucapnya sembari menahan tawa.


"Lo cemburu, ya?" ledek Meira lagi.


Tanpa diketahui gadis di boncengannya itu, ia mengukir senyum manis. "Enggak."


"Gue terpaksa tau."


"Gak usah di jelasin lagi, Mei."


Tak lama merekapun sampai di rumah ber cat abu-abu itu. Seperti biasa, sepi seperti tanpa penghuni. Wijaya dan Sherin sudah pulang dua hari yang lalu. Jadi Rizal bisa bernapas agak lega karena tak harus menghadapi ancaman-ancaman dari Wijaya lagi.


"Sini tangan lo..." Meira menarik kedua tangan Rizal lalu menggenggamnya. "...Genggaman ini untuk menghapus genggaman Boy tadi pagi." ucapnya sembari mengukir senyum manis untuk si empunya tangan.


"Bisa aja kamu." wajah salah tingkah Rizal tak bisa di sembunyikan lagi. Perempuan ini memang sudah benar-benar masuk kedalam hatinya. Entah bagaimana cerita kedepannya yang pasti ia akan menjaga Meira seperti ia menjaga Tika dan ibunya. Mungkin akan ada resiko yang sangat besar menunggu, mengingat status mereka yang sangat berbeda. Tapi apapun itu ia akan siap menghadapinya.

__ADS_1


"Aku mohon tetaplah berada di sisiku dan tetaplah menjadi pelindungku, Rizaldi Anugerah."


Rizal mengangguk pelan. "Masuklah."


Meira melambaikan tangannya pada Rizal. begitupun sebaliknya. Ia kemudian masuk ke dalam kamar dengan hati yang berbunga-bunga. Pria itu sangat lembut, hingga membuatnya meleleh seketika. Tatapan, senyum hingga pelukannya sangatlah memabukkan. Kini Meira benar-benar sadar kalau dirinya sudah jatuh hati pada pria sederhana itu.


"Gue gak yakin bisa tidur nyenyak malam ini." Meira mencubit pipi boneka beruang berwarna biru disampingnya itu.


Setelah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari Boy tadi pagi. Akhirnya ia bisa lepas dengan pulang diantar oleh sang pujaan hati. Untungnya ia bisa lepas dari Boy saat pulang tadi. Di mata kuliah terakhir, ia buru-buru keluar dan meninggalkan Boy yang masih sibuk dengan teman tongkrongannya. Boy yang tak sadar akan kepergian Meira langsung celingukan mencari keberadaannya. Tapi sayang, ia tak bisa menemukan Meira sama sekali. Rasa amarahnya meluap, gadis itu memang sudah benar-benar menentangnya. Tapi Meira tak peduli, yang ia pikirkan hanya satu waktu itu. Rizal.


Saat matanya menatap kosong atap kamar, ponsel disampingnya berdering. Tertulis nama Tante Melinda. Dengan cepat tangannya menekan tombol hijau di layar ponselnya itu.


"Halo ponakan Tante yang tersayang." seru wanita cantik itu dari seberang telepon.


"Tante, Meira kangen banget."


"Sama sayang, ada kabar baik untukmu..."


"Buaya akan pulang bulan depan." ucapnya sembari tertawa.


"Yang benar, Tan. Wah..." seru Meira antusias. Pasalnya, ia sudah lama sekali tak bertemu sepupu kesayangannya yang ia juluki buaya itu.


"Dia nanya sama Tante, kalau pulang nanti kamu mau oleh-oleh apa?"


"Hmmmm... Apa aja, deh, Tan." Sebenarnya dengan melihat wajah Ardi saja ia sudah senang. Tak perlu oleh-oleh, saat ini ia hanya ingin ada teman seperti masa kecil dulu.


Saat Ardi pulang nanti, ia akan mengulang masa-masa lucunya dulu. Pergi ke kebun binatang bersama, bermain mesin capit dan Ardi selalu kalah. Membayangkan semua itu ia jadi tak sabar bertemu dengan buaya satu itu.


Setelah menutup telpon, ia kembali memeluk boneka beruang biru itu. Benar perkiraannya beberapa menit yang lalu, tampaknya ia benar-benar tak bisa tidur karena bayangan pria manis berjaket hijau itu terus berada di pikirannya. Bukan. Bukan hanya dipikiran, tapi sudah masuk kedalam hatinya. Pria itu sungguh sudah membuatnya lupa akan masalalu nya yang tidak begitu baik. Pria tampan itu juga bisa mengubah pikirannya bawah tidak semua laki-laki bersifat sama seperti Boy sang mantan.


Sekali lagi. Aroma vanila itu sungguh manis.

__ADS_1


__ADS_2