My Sweet Green

My Sweet Green
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Mobil sedan hitam yang berisi tiga orang itu sedang mengejar Rizal dan Meira tanpa sepengetahuan mereka. Mobil itu dengan cepat menghentikan motor Rizal. Seseorang keluar dengan gaya sok keren dan membuka kacamata hitamnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak sembari mengejek Meira.


"Turun derajat banget kamu, Mei!" ucap salah satu pria tampan berkacamata hitam itu.


Meira hanya mendengus dan turun dari motor bersamaan dengan Rizal.


"Bro.. " Boy menepuk bahu Rizal "Seharusnya lo punya malu sedikit untuk sadar diri kalo lo gak pantes nge bonceng anak sultan kayak Meira." ucap nya diiringi tawa.


Awalnya Rizal diam. Ia tak ingin tersulut emosi dengan caci maki yang keluar dari mulut Boy dan dua temannya. Tapa lama kelamaan pria berjaket kulit itu mulai keterlaluan saat menarik perempuan yang ada dibelakangnya dengan paksa.


"Sebentar lagi Meira akan jadi tunangan gue!"


"Aw!" tangan gadis itu memerah saat ditarik paksa.


Jantung Rizal berdetak cepat, ia tak tahan lagi menahan kepalan tangannya. Ia tujukan pada pipi kanan pria itu dengan keras hingga membuat si empunya tersungkur. Matanya tak bisa melihat perempuan disakiti seperti tadi. Kini hantaman di pipi merambat menjadi pertengkaran hebat. Meira yang berdiri sambil menutup kedua telinga terus berteriak meminta mereka menghentikan pertengkaran hebat itu.


"Berani kamu menyentuh Meira, akan berhadapan dengan saya!" ucap Rizal tegas lalu menghantam perut Boy lagi meski dirinya sudah babak belur di hajar oleh tiga orang.


"Dasar tukang ojek tidak tau diri!" Sebuah botol beling melayang ke kepala Rizal, Meira dengan sigap memeluk Rizal untuk melindungi, untungnya Rizal dengan sigap menangkap botol itu. Dengan emosi yang sudah meruap, hatinya sudah terbakar oleh ejekan demi ejekan yang diberikan sejak awal mereka bertemu tadi. Ia kemudian hendak melempar botol beling berwarna hijau itu ke arah Boy. Tapi Meira langsung menahannya, menenangkan hati Rizal. Mencoba mencegah agar Rizal tak berbuat kesalahan yang fatal.

__ADS_1


"Jangan! Lebih baik kita pergi." Meira menggenggam tangan Rizal erat lalu pergi dari hadapan tiga pria itu. Ia menoleh, menatap lekat wajah Boy. "Akan aku adukan perbuatan bejat mu ini pada papa!"


Boy hanya berdiri diam menatap kepergiannya mereka. Ia bisa memenangkan hati papa dan mama Meira. Bahkan bisa mengendalikan Meira, tapi tidak dengan hatinya. Ia sepenuhnya sudah benar-benar kehilangan perempuan yang dulu ia sia-siakan perasaannya. Muncul sedikit penyesalan di hatinya saat Melihat Meira sangat peduli dengan tukang ojek itu.


"Ngeri tau liat lo berantem kayak tadi." Meira mengambil tisu basah dan mengelap noda darah yang keluar dari sudut kening Rizal.


"Aku gak bisa lihat cewek dikasari." Sambil meringis ia menahan sakit.


Meira mengambil perban dan membukanya. Sejenak ia menghela napas, laki-laki yang duduk disampingnya ini adalah pria idaman. "Sini." Ia menarik pelan kepala Rizal agar mendekat. Kok jantung ini berdetak semakin cepat? Wangi vanila dari tubuh pria itu sangatlah manis.


"Udah." usapnya perlahan hingga membuat si empunya kening merasa lega. Ia memundurkan dirinya sedikit agar tidak mabuk dari kemanisan pria ini. Terdengar lebay memang, tapi itulah yang dirasakan Meira saat ini. Sepertinya ia terlambat sebab Rizal menahan tangannya lebih dulu. Mengucapkan terima kasih dengan nada yang sangat tulus sembari tersenyum.


"Namaku kan memang Rizal." ucap pria itu tersenyum.


"Anu kan juga nama lo." bantah Meira sembari menoleh sembarang arah. Tak berani menatap lama-lama pria yang makin manis saat memakai perban berwarna pink bergambar Hello Kitty. Meira sengaja memilih warna yang mendominasi warna cewek itu.


"Haruskah aku memakai topi buat nutupin perban pink ini?"


Meira tertawa geli. "Jangan! Lo makin imut tau." ucapnya spontan. Itu memang benar, bukan ledekan.

__ADS_1


Hari semakin gelap. Mereka berdua beranjak dari kursi taman. Sebelum benar-benar meninggalkan taman yang asri itu. Rizal menatap Meira lekat. "Boleh aku peluk kamu, Mei?"


Meira terdiam, bukan tidak mau. Tapi dia sangat terkejut dengan pernyataan seorang pria yang sangat cuek seperti Rizal. Ada masalah apa dengannya? Apa aku menambah bebannya?


Tanpa persetujuan Meira, Rizal menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Ia menunduk, menenggelamkan wajahnya di bahu gadis cantik itu. "Aku menyayangimu, Meira." Suaranya bergetar, entah yang dikatakannya benar atau salah. Tapi ia tak mau lagi memendam. "Maaf jika pernyataan ku ini salah, aku tau derajat kita sangat jauh. Tapi aku harus jujur dengan perasaanku, Mei. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi aku berjanji rasa sayang ini tidak akan hilang untukmu." Ia mengecup ubun-ubun gadis cantik itu lalu mengusap rambutnya lembut.


Tak terasa air mata Meira menetes hingga membasahi jaket hijau yang dikenakan Rizal. Sudah lama ia menunggu pernyataan itu dari mulut pria yang sangat cintai. Ya, Meira sudah jatuh hati pada pria sederhana itu sejak awal bertemu.


Rizal melepaskan pelukannya. Ia merasa bersalah setelah menyatakan perasaannya yang mungkin salah ini. Melihat respon Meira yang hanya diam. Ia sadar bahwa selama ini Meira hanya butuh teman yang tulus untuk melindunginya dari masalah hidupnya. Meira hanya butuh teman cerita agar napasnya tak sesak memendam sendiri.


Meira tersenyum. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher pria jangkung itu. Ia menatap lekat wajah tampan dengan perban pink di kening itu. "Sudah lama aku menanti pernyataan ini, Rizaldi Anugerah." ucapnya penuh senyum lalu melompat memeluk erat Rizal dengan hati berbunga-bunga. Pernyataan cinta yang sederhana namun tulus bisa ia rasakan sekarang. Memang jauh berbeda saat Boy menyatakan perasaannya dulu, Boy menyewa restoran mewah khusus dengan taman yang berkelap-kelip diiringi alunan musik romantis membuat siapapun terbuai. Tapi nyatanya ketulusan lah yang membuat hal sederhana menjadi istimewa seperti yang ia rasakan saat ini.


"Ayo pulang." Rizal menarik tangan Meira menuju motor yang terparkir tak jauh dari mereka duduk.


Meira mengangguk sembari tersenyum. Sore yang indah ini ia lalui bersama orang yang sangat spesial di hatinya. Pandangannya sejuk melihat awan mendung beserta matahari yang hampir terbenam meninggalkan siang. Ia kembali menatap pria yang sedang fokus menghadap jalanan yang lumayan ramai itu. Kini kedua tangannya tak ragu lagi untuk memilih pegangan yang tepat. Ia memeluk erat tubuh Rizal hingga menumbuhkan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlakuan lembut Rizal membuat ia sadar bahwa tidak semua lelaki seperti Boy.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah." Rizal membuka helm Meira dengan hati-hati.


Meira mengukir senyum melihat kepergian Rizal hingga hilang dari hadapannya. Rasanya masih ingin berlama-lama dengan pria manis itu.

__ADS_1


__ADS_2