My Sweet Green

My Sweet Green
Tangisan Sang Pencuri Hati


__ADS_3

Sudah pukul tujuh pagi. Rizal bergegas memasang jaket berwarna hitam itu. Matanya sangat berat sekali menahan kantuk karena ia tak benar-benar tidur tadi malam. Ia selalu kepikiran Tika sang kakak. Kepikiran bagaimana caranya mendapat uang untuk biaya operasinya. Sedangkan operasi Tika akan dilakukan besok. Otomatis uangnya juga harus ada besok. Uang lima puluh juta tidak lah sedikit, ia dan ibunya sudah berusaha menelpon sanak saudara, tapi tidak ada satu pun yang sanggup membantu. Wina juga belum memberikan kabar perihal pinajaman itu. Kepalanya terasa mau pecah sekarang. Pusing sekali.


Pengunjung SweetMart lumayan ramai hari ini. Rizal berusaha profesional dalam bekerja walaupun dalam hatinya terus memikirkan biaya operasi sang kakak yang belum juga ia dapatkan.


Sebenarnya air mata sudah mendesak untuk keluar. Tapi ia harus menahannya, tak boleh ada yang melihat ia menangis di toko ini. Rizal mengatur napas, mencoba melegakan hatinya sebentar setelah orang-orang membayar belanjaan mereka. Ia tak henti-hentinya berdoa agar Yang Maha Kuasa memberikan pertolongan. Apapun caranya sebelum waktu operasi Tika tiba, ia harus memegang uang lima puluh juta itu.


"Gak ngojek, Zal?" tanya Erin setelah mereka keluar dari toko dan hendak pulang.


Rizal menggeleng. "Aku mau langsung ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" tanyanya lagi.


"Kakakku."


Erin tak mau banyak bertanya, ia tau perasaan Rizal saat ini, dari raut wajahnya yang pucat dan tampak sangat terpukul.


"Semoga cepat sembuh untuk kakakmu, Zal." ucapnya menepuk bahu Rizal lalu pamit pulang duluan.


Rizal mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada teman kerjanya itu. Ia kemudian juga pergi menuju rumah sakit untuk mengganti sang ibu menjaga Tika.


Sesampainya di rumah sakit, Rizal langsung keruangan sang kakak yang berada di ujung dekat taman. Ia tak langsung masuk ke ruangan, ingin ia menangis sejadi-jadinya saat melihat dua orang yang ia sayangi di dalam ruangan itu. Ia berdiri kaku di depan kaca pintu, melihat Tika yang masih dengan infus di tangan dan melihat ibu yang sedang tertidur lelap disamping sang kakak.


Rizal membuka pintu pelan, ia membangunkan ibunya.


"Ayo pulang, Bu."


"Ah, kamu sudah datang, Zal. Iya, Ibu harus pulang, Nak. Ibu mau menemui Bibimu, siapa tau dia bisa membantu."


Rizal mengangguk sembari tersenyum. "Rizal juga sedang berusaha, Bu. InsyaAllah, sebelum operasi kakak dilakukan, uangnya sudah ada."


Risma berusaha tersenyum mendengar ucapan Rizal yang menyejukkan hatinya. Rizal mengantar ibunya pulang lalu ia kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Tika.


"Kakak harus sembuh. Lupakan semua tentang dia, Kak. Rizal mohon, Kakak harus bangkit." Rizal menggenggam tangan Tika yang masih dengan mata terpejam itu.


Ia bersumpah akan menghabisi orang yang sudah membuat Tika jadi seperti ini. Hidup kakaknya hancur karena orang yang bernama Ardi itu. Orang yang tega menyakiti perempuan yang sangat ia sayangi akan mendapat balasan yang setimpal nantinya. Rizal mengepalkan tangannya. Kini ia tak bisa menahan air bening yang sudah bergulir di pipinya. Siapa yang tak sedih melihat kondisi sang kakak seperti sekarang ini.


"Tolong jaga kakak saya sebentar, Sus. Saya mau membeli sesuatu sebentar." pintanya pada perempuan berseragam biru itu.


Suster itu mengangguk ramah pada Rizal.

__ADS_1


Rizal keluar dari ruangan Tika. Ia ingin ke minimarket yang tak jauh dari rumah sakit, membeli makanan, obat sakit kepala dan air mineral.


"Aku harus kuat, kalau bukan aku siapa lagi yang melindungi kak Tika dan ibu." gumamnya sambil menyusuri jalan.


Tak sadar ternyata ia sudah berjalan di tengah-tengah. Entah karena sudah terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Tidak tau ada mobil sedan hitam yang melaju kencang dengan supir yang sibuk memainkan ponsel.


Rizal terpelanting ke tepi, beberapa Senti lagi ia bersentuhan dengan mobil itu. Untung ada tangan yang menariknya hingga jatuh ke tepi jalan walaupun makanan dan barang yang ia beli barusan buyar semua.


"Aww..."


Perempuan disampingnya itu meringis kesakitan saat melihat sikunya sedikit lecet terkena aspal. Rizal terpaku saat melihat gadis yang disampingnya itu. Meira. Kenapa dia bisa ada disini?


"Lo gak papa, Nu?"


Rizal memegangi kepalanya. Sebenarnya sudah dari kemarin ia merasakan pusing, tapi belum sempat minum obat. Baru sore ini ia membelinya, tapi malah buyar akibat hampir ditabrak mobil tadi.


"Kenapa kamu bisa ada disini, Mei?" ia balik bertanya.


"Gue baru saja menjenguk tante Melinda,"


Melinda baru dirawat di rumah sakit Harapan hari ini. Bukan sakit parah, hanya magh nya saja yang kambuh setelah ia makan makan pedas tempo lalu.


"Menjaga kakakku." ucap Rizal sembari memungut makanan dan obat yang sudah berserak di aspal itu.


Tapi Meira menarik tangan Rizal dan mengajaknya duduk di taman rumah sakit Harapan.


"Tunggu disini, gue akan beli makanan dan obat buat lo." ucap Meira dengan nada mengancam. Takut kalau Rizal akan kabur.


Setelah lima belas menit, Meira kembali dengan dua kotak nasi goreng, dua botol air mineral dan obat yang sama dengan yang Rizal beli tadi.


Perlahan ia mendekati Rizal. Pria itu tampak sesegukan. Ia berkali kali mengusap air matanya. Meira bisa melihat itu walaupun dari belakang. Kenapa hatinya terasa sakit saat melihat Rizal sedih seperti ini?


Tak terasa tangannya melingkar dileher pria manis itu, mengelus lembut bahu tegap itu. Ia tau Rizal sangat sedih karena kakaknya yang sedang sakit. Dan tak bisa dipungkiri rasa nyaman sudah tercipta dalam rangkulan Meira. Rizal memegang tangan itu, ingin meminjamnya sebentar untuk meluapkan tangisannya.


"Lo kenapa, Nu? Please, cerita sama gue, ya."


Rizal melepaskan tangannya. Ia rasa sudah cukup ketenangan yang di berikan Meira beberapa menit tadi. Meira duduk disampingnya. Mencoba menyuruh Rizal bercerita tentang kondisinya saat ini.


"Kak Tika..."

__ADS_1


"Dia mencoba bunuh diri dengan mengiris kedua pergelangan tangannya. Bukan itu saja, kak Tika juga membenturkan kepalanya sendiri ke dinding," ia kembali mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Dan sekarang..." ia tak melanjutkan ucapannya. Ia tak mau bercerita tentang kurangnya biaya operasi pada Meira. Takut Meira akan menyangka dirinya mengemis rasa kasihan.


"Apa, Nu?"


Rizal menggeleng.


"Nu, lo gak boleh kayak gini. Lo harus cerita." paksa Meira.


"Uang operasinya kurang lima puluh juta, sedangkan operasinya akan dilakukan besok." ia menoleh Meira.


"Gue bisa bantu, lo. Gue mohon sama lo, kali ini terima bantuan dari gue." ucap Meira cepat.


Rizal menatap Meira. Apa ia harus menerima bantuan dari Meira?


"Mana rekening lo, gue transfer sekarang. Anggap saja ini adalah tanda permintaan maaf gue sama lo."


"Aku gak akan menerima uang itu dengan percuma. Aku akan membayarnya dengan cara apapun." ucapnya menatap Meira dengan tatapan yang penuh makna.


"Iya, iya." Meira mengambil ponselnya lalu mengirimkan lima puluh juta pada Rizal.


Rizal mengusap air matanya. Ia tersenyum pada Meira. Gadis ini benar-benar baik padanya. Rizal memeluk Meira erat, ia tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi selain terima kasih.


"Aku akan mengganti uang ini secepatnya, Mei."


"Tidak usah dipikirkan, sekarang ayo kita makan." ucapnya tersenyum sembari mengelus lembut bahu pria manis itu.


Rizal mengambil nasi goreng dan memakannya. Hatinya sedikit lega ketika Meira datang membantunya di saat ia sangat membutuhkan bantuan itu.


"Kamu orang baik, Mei. Sekali lagi terima kasih, ini sangat berharga untukku."


Meira tersenyum. "Kapanpun kamu butuh, Nu. Jangan sungkan."


Karena hatiku sepertinya sudah dicuri olehmu. **Kamu juga adalah pria baik yang aku temui.


Tidak, mungkin Rizal adalah penjahat karena sudah mencuri hatinya**.


Meira menarik kedua sudut bibirnya tanpa sepengetahuan Rizal.

__ADS_1


__ADS_2