
Rasa bersalah terus menghantui Meira hingga ia tak bisa tidur nyenyak tadi malam. Ia selalu kepikiran soal perkataannya kemarin. Bagaimana kalau Rizal tidak mau menemuinya lagi, ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagaimana pun caranya ia harus bertemu dan meminta maaf pada Rizal.
Meira membelokkan arah setirnya ke arah minimarket SweetMart. Ia tau hari ini jadwalnya Rizal kerja shift pagi. Semoga saja ia bisa bertemu dengan pria manis itu. Benar saja, Rizal sedang berdiri di depan kasir sembari mengotak atik layar komputer.
"Tolong roti coklatnya satu, sama Latte juga, ya, Mas." ucapnya sembari tersenyum manis pada Rizal. Sayangnya senyuman itu dibalas dengan wajah tak acuh. Rizal malah memanggil Erin yang tengah sibuk memanggang roti-roti berbentuk bulat itu.
"Gantiin aku bentar, Rin. Kebelet, nih." ia berdalih.
Meira berdecak kesal saat Rizal pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Sepertinya Rizal benar-benar marah padanya. Ia menghela napas, entah harus bagaimana lagi caranya untuk meminta maaf pada pria itu.
"Rotinya jadi, Mbak?" tanya Erin yang membuyarkan lamunan Meira.
Ia hanya mengangguk lesu. Harusnya Rizal yang melayaninya. Tapi ia malah kabur saat tau siapa yang ada di depan kasir.
Setelah Meira pergi, Rizal kembali ke mesin kasir. Erin menatap Rizal heran, ia ingat sekali dengan gadis tadi. Gadis yang pernah mempertanyakan keberadaan Rizal beberapa waktu lalu.
"Bukannya itu temen, lo, Zal?" tanyanya penasaran.
"Yang mana?" Rizal balik bertanya seolah tak tau.
"Yang tadi barusan."
"Bukan."
"Gebetan?"
Rizal terdiam, pertanyaan Erin itu mengingatkannya pada ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut Meira kemarin.
"Berarti bener." Erin menyimpulkan.
"Bukan juga. Lagian beda level sama aku, Rin. Dia orang kaya."
"Kalau kita selevel, kan?" tanyanya dengan raut wajah menggoda. Kebiasaan.
"Kayaknya enggak juga, deh. Followers kamu banyak." Rizal terkekeh.
Erin hanya mesem-mesem, sangat sulit merayu pria manis disampingnya ini. Mereka pun kembali bekerja melayani para pembeli.
__ADS_1
Pokoknya kita harus ketemu nanti sore.
"Maksa banget." gumam Rizal sedikit kesal. Dari tadi malam ia selalu di ganggu Meira sampai pagi ini. Meira terus menerus menghubunginya walau tak sedikitpun dibalas.
Tentu saja ia tak menghiraukan pesan dari Meira. Ia terus melanjutkan pekerjaannya, malas berurusan lagi dengan anak sultan itu. Yang terpenting baginya kini hanyalah kesembuhan sang kakak.
Rizal menghela napas jika teringat Tika. Apalagi saat melihat kondisi Tika kemarin. Tidak memburuk, tapi tidak kunjung membaik juga. Entah bagaimana lagi ia dan ibunya lakukan untuk kesembuhan kakak kesayangannya itu.
Pukul tiga sore, saatnya ia memakai jaket hijau itu lagi, menuju pangkalan. Terlihat hanya ada Adi disana yang menunggu orderan sambil menghisap sebatang rokok.
"Mana Mas Wawan?" tanyanya.
"Nganter istrinya check up." Adi menghembuskan asap rokoknya.
Rizal hanya mengangguk.
"Dari kemarin saya lihat kamu galau banget. Ada apa?"
"Ah, enggak, kok, Mas." elak Rizal.
"Wajah gak bisa bohong, Zal." Adi tersenyum. Ia mencoba membuat Rizal bercerita agar sedikit bisa melegakan hati pria itu.
"Kenapa?"
"Sakit,"
"Dia depresi akibat kekerasan yang dilakukan mantan calon suaminya," Rizal mengusap kedua matanya yang hampir meneteskan bulir bening itu.
"Saya dan ibu sudah berusaha kesana kemari mengobatinya, tapi belum juga ada perubahan."
Adi hanya menghela napas mendengar cerita Rizal. Sungguh berat perjuangan anak muda ini, pikirnya.
"Kamu harus semangat." ia menepuk bahu Rizal.
"Makasih, Mas." Rizal tersenyum.
Tak lama mereka berbincang, ponsel Rizal berbunyi tanda masuk orderan. OjekkuFood lagi.
__ADS_1
"Belakangan ini saya sering dapat OjekkuFood. Saya duluan, Mas."
"Oh, iya, hati-hati." Adi melambaikan tangan lalu melanjutkan menghisap rokoknya.
Kali ini Rizal mendapat orderan kopi bermacam rasa di kedai kopi D'Coffee, salah satu kedai kopi terkenal di Jakarta itu. Seperti biasa, tempat itu ramai dikunjungi kalangan elit yang datang hanya sekedar nongkrong ada juga yang sembari mengerjakan tugas kampus.
"Americano dua, Latte dua dan Macchiato nya juga dua, Mbak."
"Tunggu sebentar, ya, Mas."
Rizal mengangguk. Ia kemudian duduk sembari menunggu pesanannya selesai. Tak sadar ia sedang diperhatikan tiga laki-laki di sudut kafe. Mereka sudah memperhatikan Rizal saat di luar tadi.
"Hajar lagi?" tanya Rion. Ia sudah siap lahir batin jika diperintah oleh Boy lagi.
Boy mengangkat tangannya. Ia menggeleng. "Main dengan cara halus." ucapnya tersenyum licik.
Hendri dan Rion pun ikut tersenyum seolah sudah tau apa yang akan dilakukan Boy. Boy segera menyuruh Hendri membuka aplikasi Ojekku dan memesan makanan dengan jumlah banyak.
"Cepat! Mumpung pecundang itu masih ada disini. Biasanya koneksinya bisa langsung nyambung kalau sedang dekat dengan drivernya."
Entah kebetulan atau memang koneksi mereka sedang dekat, Hendri benar-benar mendapatkan si pria yang sedang duduk menunggu pesanan itu. Terlihat Rizal mengambil ponselnya. Ia mendapat orderan lima bungkus nasi goreng spesial dan lima bungkus kwetiau. Tapi dirinya tampak ragu dengan pemesan ini. Selain pembayaran di tempat, alamatnya juga sangat asing.
Tapi akhirnya ia dengan mantap mengambil orderan dengan total harga dua ratus ribu itu. Ia keluar dari kafe D'Coffee dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah konsumen. Tugas satu selesai, kini ia harus membeli pesanan nasi goreng spesial dan kwetiau. Sungguh melelahkan, semoga lelahnya hari ini disambut senyuman Tika saat ia pulang nanti, pintanya dalam hati.
"Ini, Mas." Bapak bertopi hitam itu memberikan bungkusan yang berisi nasi goreng dan kwetiau pesanan Rizal.
Rizal memberikan uang, tersenyum ramah pada sang penjual lalu pergi.
Ia berkali-kali mengecek rute jalan. Rute yang sangat asing baginya. Sepertinya ia pun belum pernah menempuh jalur yang tampak sepi walaupun di sore hari itu. Itulah makanya ia menimbang untuk mengambil orderan ini sebelum mantap diterimanya.
"Apa aku nyasar, ya?" gumamnya.
Nomor pemesan pun tak aktif dari tadi. Sudah tiga kali ia menelpon tapi belum juga ada jawaban. Akhirnya ia mencoba melanjutkan perjalanan. Betapa terkejutnya Rizal saat ia mendapati lokasi pemesan yang ternyata adalah tempat pemakaman. Ia mencoba menghubungi nomor itu sekali lagi, tapi hasilnya sama. Masih tak ada jawaban.
"Mampus!" Hendri sedang tertawa bersama Rion dan Boy saat melihat pesan singkat dari Rizal yang bertanya kenapa dirinya ada di pemakaman umum.
Sementara Rizal hanya menghela napas. Kesal, sedih dan lelah sudah bercampur di hatinya. Dua orderan yang ia terima sebelumnya belum cukup untuk mengganti orderan fiktif ini. Sudah jauh dan hasilnya sia-sia. Entah apa yang akan ia lakukan dengan nasi goreng dan kwetiau itu. Ingin sekali ia membuangnya dengan kasar lalu pergi dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Astaghfirullah." Rizal hanya bisa mengelus dada menyulutkan emosinya yang sudah menggebu kepada pemesan yang jahanam itu.