My Sweet Green

My Sweet Green
Kebab Turki Bikin Gugup


__ADS_3

Rizal mengecup kening Tika yang sedang tertidur pulas. Ia sangat senang melihat kondisi sang kakak yang sudah membaik setelah melakukan operasi. Ia berharap Tika tak akan melakukan hal mengerikan seperti itu lagi. Rizal tak bisa membayangkan jika ia kehilangan sosok kakak seperti Tika.


Ia keluar dari kamar Tika, menghampiri Risma dan Meira yang sedang duduk di ruang tamu. Meira sudah datang lima belas menit yang lalu, ia datang untuk menjenguk kakaknya Rizal itu.


"Nak Meira, gimana kalau Nak Meira pegang saja surat sawah Ibu sebagai jaminan." tawar Risma.


"Tidak usah, Bu. Meira ikhlas, kok." ucap gadis cantik itu.


Jelas saja Risma tersentak. Uang lima puluh juta tidak lah sedikit, tapi Meira begitu mudahnya bilang ikhlas. Meira memang benar-benar anak sultan.


"Gak bisa gitu," potong Rizal.


"Aku akan cicil tiap bulan."


Meira menatap Rizal sinis. Pria manis itu memang sangat keras kepala. Meira tak pernah sekali pun meminta Rizal untuk mengembalikan uang itu.


Sudah pukul tiga sore. Meira mencium punggung tangan Risma. Ia pamit pulang, diikut Rizal yang memang mau berangkat ngojek juga karena hari ini ia libur bekerja. Tapi sebelum itu ia harus mengantar Meira pulang terlebih dahulu.


"Gue pengen burger, deh, Nu." rengek Meira di boncengan.


"Apa?"


"Anterin gue beli burger!" teriaknya di atas motor supaya Rizal mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya.


"Dimana?"


"Terserah, lo, deh. Yang penting cepet. Udah pengen banget nih gue." pintanya.


"Oke." jawab Rizal singkat.


Rizal melajukan motornya ke arah kanan menuju taman kota. Di sana memang tempatnya berbagai macam makanan pinggiran yang menggiurkan termasuk burger. Sementara dibelakang, Meira sedang bingung dengan rute Rizal ini. Ia ingin makan burger, tapi kenapa Rizal membawanya ke taman kota bukan ke mal atau Drive thru.


"Kita sampai." ucapnya sembari menoleh Meira dengan senyuman yang amat manis.


Meira hanya bisa diam melihat gerobak berwarna merah didepannya.


"Nu, kenapa kita kesini?" tanyanya.


"Katanya mau burger. Ini burger kaki lima terenak di taman kota, loh." ucap Rizal.


"Higenis, gak?" tanya Meira sedikit khawatir, pasalnya ia belum pernah sekalipun makan burger pinggir jalan seperti ini.


"Pastinya. Walaupun pinggiran, mereka juga pakai bahan yang terbaik kok. Bersih pula,"

__ADS_1


"Kamu mau yang mana?" tanya Rizal lagi.


Meira melihat-lihat menu yang tertempel di kaca gerobak. Ia memilih dua burger yang masing-masing berisi daging sapi dan ayam. Sedangkan Rizal menjatuhkan pilihannya pada kebab yang berisi suwiran daging sapi khas Turki itu.


Mereka duduk di kursi taman. Menyantap makanan pinggiran yang ternyata lumayan lezat itu. Tak salah Rizal mengajaknya ke sini.


"Ini sih gak kalah sama yang di mal." puji Meira.


Rizal hanya tersenyum melihat ekspresi lucu Meira.


"Gue nyicip kebab lo, dong."


"Tapi ini kan sudah ku makan, Mei. Kalau mau biar ku pesan lagi." ucap Rizal.


"Lebay, lo." Meira mengambil kebab yang sudah tinggal setengah itu di tangan Rizal. Ia pun memakannya tanpa ragu.


Rizal hanya menggeleng sembari tersenyum melihat Meira yang lahap memakan kebab yang seharusnya punyanya itu.


"Gue rasa yang ori harus belajar sama bapak ini, deh. Enak banget soalnya." ucapnya terkekeh.


"Kamu serius mau ngabisin kebab punyaku, Mei?"


Meira menoleh Rizal, saking enaknya ia tak sadar kalau kebab milik Rizal itu hanya tersisa sedikit.


"Yah, abisnya enak. Nih, ambil."


"Gak usah, lagian aku masih ada satu burger." Meira menyodorkan kebab yang tersisa sedikit itu pada Rizal.


Rizal menuruti ucapan Meira. Baru saja ia ingin mengambil kebab itu, tapi Meira menariknya kembali. Ia kemudian berkata dengan jahilnya. " Gigit disini langsung kalau berani." ia menggigit kebab itu lalu menyodorkannya pada Rizal.


Tentu saja perlakuan Meira itu membuatnya seketika gugup. Ia langsung menghindari tatapan Meira yang menurutnya sangat memabukkan.


"Apaan, sih, Mei." ucapnya memalingkan wajah mencoba mengatur napas agar normal kembali.


Meira terkekeh, ia hendak mengambil kebab itu tapi tangannya di halang. Ya, Rizal memegang tangannya. "Kalau aku berani gimana?" tanyanya dengan senyum. Kini Meira yang dibuat mabuk oleh pria manis disampingnya itu.


Rizal mendekati wajahnya perlahan hingga sangat dekat dengan wajah Meira yang tampak sudah memerah karena ulah nya sendiri. Ia refleks memejamkan matanya. Tangannya yang masih dipegang Rizal itu rasanya sudah mengeluarkan keringat dingin. Begitu kuat pesona Rizal saat ini hingga membuatnya tak bisa berkutik.


Ini namanya senjata makan tuan, gumamnya dalam hati.


"Buka matamu," Rizal menjauh dan melepaskan pegangannya yang menahan tangan Meira tadi.


"Aku bukan cowok mesum yang sembarang ngambil kesempatan." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Meira akhirnya bisa bernapas lega setelah kejadian tatap muka selama kurang lebih tiga puluh detik itu. Ia tak menjawab ucapan Rizal karena harus mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Entah gugup atau malu karena mengira Rizal benar-benar akan mengambil kebab yang digigitnya dengan cara tak lazim.


"Habisin kebabnya." ucapnya lagi.


Meira langsung menghabiskan kebab Turki itu tanpa berkata-kata lagi.


"Burgernya buat lo aja, Nu. Buat cemilan lo di pangkalan."


Rizal mengangguk. "Makasih,"


"Wajah kamu kenapa, Mei?"


"Kenapa?" Meira balik bertanya sembari memegangi wajahnya.


"Merah kayak kepiting rebus." ucap Rizal lalu tersenyum tipis.


"Enggak! Apaan, sih. Ayo anterin gue pulang." kali ini Meira tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya dihadapan Rizal. Ia bergegas berjalan meninggalkan pria yang sudah membuatnya malu beberapa menit yang lalu.


"Mei, tunggu!" susul Rizal.


Di atas motor, keduanya kembali kaku. Rizal kembali ke sifat aslinya. Ia juga merasa tak enak sudah melakukan hal gila di taman tadi. Bisa-bisanya ia berani menggoda anak sultan yang tidak mungkin bisa ia dapatkan hatinya itu.


"Mei..."


"Iya?"


"Makasih sudah menjenguk kakakku."


"Iya, Nu. Sama-sama."


"Masalah uangmu..."


"Gak usah dibahas sekarang, Nu." potong Meira. Ia tak mau berdebat dengan pria ini hanya karena uang yang ia berikan masih dianggap hutang bagi Rizal.


Rizal hanya mengangguk menuruti ucapan Meira. Tak lama mereka pun sampai dirumah Meira. Rumah besar berwarna abu-abu gelap itu tampak sepi seperti biasa. Rizal juga enggan bertanya pada Meira, takut nanti membuat Meira sedih saja.


"Makasih udah nganterin gue, Nu." ucapnya lalu turun dari motor, tapi naasnya ia hampir saja jatuh. Untung saja Rizal dengan sigap memegang erat tangan Meira.


"Awas, hati-hati."


"It's oke, gue gak papa, kok." ucapnya tersenyum berusaha santai.


"Kalau begitu aku langsung ke pangkalan, ya." ucap Rizal.

__ADS_1


Meira mengangguk sembari melambaikan tangannya pada Rizal.


Potret kemesraan mereka sudah diabadikan oleh seseorang. Meira akan mendapatkan kejutan yang tak terduga di kampus besok. Perempuan itu tersenyum dari kejauhan lalu pergi.


__ADS_2