
Semua mata menatap Meira dengan tatapan seperti mengejek. Ada yang berbisik, ada juga yang melirik Meira dari atas sampai bawah. Seluruh kampus membicarakan Meira. Mereka bilang semenjak putus dengan Boy, selera Meira menurun drastis. Meira berusaha acuh, ia berjalan santai ke kantin untuk menemui Dea dan Dwi yang dari pagi tak tampak batang hidungnya.
"Semenjak putus dengan idola kampus, lo jadi sampah, ya?" seseorang mencibirnya lalu pergi.
Orang-orang pada kenapa, sih? gumamnya dalam hati.
Sesampainya di kantin, Dea dan Dwi menatapnya sinis. Mereka memang menunggu kedatangan Meira dari tadi. Meira yang masih bingung dengan semua ini langsung duduk dan bertanya pada kedua temannya itu. Tanpa berkata, Dea langsung menunjukkan ponselnya kearah Meira.
"Foto-foto Mesra lo udah beredar seantero kampus."
Meira membulatkan matanya. Ia melihat fotonya yang sedang duduk makan kebab di taman. Saat Rizal hendak mengambil kebab di mulutnya. Ada juga foto ia bersama Rizal saat di depan rumah. Siapa yang mengikutinya kemarin?
"Gue malu banget, Mei. Rupanya lo masih deket sama pria berjaket hijau itu,"
"Semua orang di kampus pada mencibir lo, Mei!" bentaknya.
"Ini ulah siapa lagi?" ucap Meira kesal. Hari ini juga ia akan menuntaskan masalah ini. Ia akan mencari siapa yang berani mengikutinya kemarin. Hanya ada satu nama di pikirannya. Ini pasti ulah Nayla, senior yang selalu cari gara-gara dengannya hanya karena ingin mendapatkan hati Boy kembali.
"Menurut gue lo harus tuntaskan ini, Mei." ucap Dwi.
"Gue akan cari siapa orang bikin malu ini!"
"Bukan itu," Dwi menatap Meira tajam.
"Jauhi pria berjaket hijau itu jika lo malu berteman atau ada hubungan dengannya. Lo gak bisa sembunyikan semuanya."
Meira terdiam, ucapan Dwi ada benarnya. Tapi hatinya sudah di curi pria berjaket hijau itu. Jujur ia memang belum siap kalau menjalin kedekatan dengan Rizal karena statusnya. Ia memang malu jika semua orang tau kalau ia sedang dekat dengan tukang ojek. Terlebih dengan orangtuanya. Apa yang akan terjadi jika mama papa tau, mereka pasti akan marah besar. Sedangkan mereka sudah menjodohkan ia dengan Boy sang mantan kekasih. Tapi ia juga tak bisa menjauhi Rizal. Jangankan menjauh, sehari saja ia tak melihat pria manis itu rasa rindu di hatinya sudah menggebu. Kali ini ia tak bisa membohongi perasaanya. Ia sudah jatuh hati dengan pria berjaket hijau itu.
"Sini lo!" Boy menarik tangan Meira dengan kasar. Ia membawa Meira ke lapangan kampus.
"Gila lo! Lo lebih milih cowok rendahan itu daripada gue. Gue gak habis pikir." Ia menggeleng dengan wajah yang mengerikan.
"Apa urusan lo!" bentak Meira. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi Boy kali ini.
"Oh, jelas ada. Orang tua kita sudah menjodohkan kita, dan lo beraninya dekat dengan cowok lain."
__ADS_1
"Dan gue gak akan pernah setuju dengan perjodohan itu."
"Liat aja," Boy menunjuk wajah Meira.
"Sekeras apapun lo menentang, lo gak bakal bisa, Mei!"
"Terserah!"
Meira hendak pergi tapi tangannya ditahan oleh Boy hingga pergelangannya tampak memerah.
"Lepasin! Sikap lo yang kasar seperti ini yang buat gue pergi dari lo, Boy."
Boy terdiam sejenak, tapi ia kembali menggenggam tangan Meira. "Ingat kata-kata gue ini, Mei,"
"Siapa pun pria yang berani mendekati lo, dia gak akan selamat!" Boy membisikkan Meira dengan ancaman yang menuju pada Rizal.
Meira menghentak tangannya. Ia berjalan cepat meninggalkan Boy. Ada satu orang yang harus ia datangi, ia buru-buru ke Fakultas Ekonomi kampus Nusantara. Ia membuka pintu kelas dengan suara keras. Menatap seisi kelas dengan tatapan sinis.
"Mana Nayla!?"
"Ngapain lo cari dia?" seorang perempuan berambut pirang sebahu bertanya pada Meira.
Sintya menepuk tangannya agar semua perhatian tertuju padanya. "Guys! lihat, nih, orang yang sudah merebut Boy dari Nayla dan sekarang dicampakkan oleh Boy lalu putus asa hingga pacaran sama tukang ojek."
Seisi ruangan menertawakan Meira. Geram sekali, memang apa salahnya jika ia berpacaran dengan tukang ojek. Ia mengepalkan tangannya.
"Nayla gak ada. Kalau mau nanti sore temui dia di gedung olahraga." bisik Sintya.
Merasa tertantang, ia pun menuruti ucapan Sintya. Setelah anak kampus pulang ia akan menemui Nayla di gedung olahraga.
Sudah pukul lima sore, anak-anak sudah pada bubar meninggalkan kampus. Kini kampus Nusantara tampak sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang belum pulang dan sedang sibuk mengerjakan urusan masing-masing. Meira menepati janjinya pada Sintya, ia datang ke gedung olahraga sendirian tanpa ditemani Dea dan Dwi.
Di sana ia sudah melihat Nayla dan lima orang temannya sedang berdiri menatap Meira.
"Apa, sih, mau lo?" tanpa basa-basi Meira langsung menarik kerah baju Nayla. Tapi dengan cepat di tepis oleh si empunya.
__ADS_1
"Lo bikin cerita seolah-olah gue merebut Boy dari lo dan sekarang lo nyebarin foto-foto gue saat bersama Rizal!" Meira mengencangkan suaranya, ia sudah sangat kesal melihat wanita ular itu.
"Gimana rasanya? Wah, Kan," ucap Nayla santai.
"Asal lo tau, gue juga merasakan sakit. Saat ini gue memang memiliki raga Boy, tapi hatinya selalu dipenuhi sama lo! Saat ia lihat foto-foto lo sama tukang ojek rendahan itu, ia langsung mendatangi lo dan marah-marah. Kalau memang dia cinta sama gue, dia gak bakal peduli lagi tentang lo!"
Plakkk...
Sebuah tamparan melayang ke pipi Nayla. Hati Meira memanas setelah Nayla menyebut Rizal si tukang ojek rendahan.
"Jangan sekali-kali merendahkan Rizal." ucapnya menunjuk wajah Nayla.
"Beraninya, lo!"
Nayla memerintahkan dua temannya untuk memegangi Meira. Mumpung kampus sedang sepi, ia bisa menghabisi bocah ingusan ini. Ia akan kasih pelajaran kepada siapa pun yang berani menentangnya.
Sebuah tamparan melayang ke pipi kanan dan kiri Meira bergantian. Nayla juga menarik rambut hitam sebahu itu. Nayla menyiksanya dengan keji. Tapi Meira tak sedikitpun Menyerah, ia malah memaki-maki Nayla dengan kata-kata kasar yang membuat Nayla makin murka.
Nayla mencekik leher mulus itu hingga si empunya mendongak. "Semenjak lo masuk ke kehidupan Boy, gue selalu dikucilkan olehnya. Kini saatnya gue harus balas dendam deh sama lo." ucap Nayla lalu mendorong bahu Meira.
"Dari awal gue gak pernah kenal sama lo. Dan sekarang ambil Boy buat lo. Udah gue bilang, cowok sampah kayak Boy memang cocok sama lo."
Nayla mengepalkan tangannya geram. Ia memberi kode kepada tiga temannya termasuk Sintya untuk menghabisi perempuan ini.
Sintya melemparkan bola basket bertubi-tubi ke arah Meira. Meira mencoba melawan, tapi ia tak sanggup sendirian melawan lima orang yang sedang mengeroyoknya itu.
Setelah Meira mulai melemah. Kening kirinya kini mulai mengucurkan cairan berwarna merah. Kedua lututnya pun sudah lecet akibat perbuatan kejam lima orang teman Nayla itu.
"Mana alat yang suruh gue bawa tadi?" tanya Nayla.
"Ini." Sintya memberikan lakban hitam dan gunting pada Nayla.
"Lepasin gue!" teriak Meira.
"Lo tau gak, semenjak dua tahun lalu gue hanya jadi bonekanya Boy." ucap Nayla lalu mengikat kedua tangan dan mulut Meira dengan lakban hitam itu.
__ADS_1
"Kunci dia di gudang OB lantai atas." perintah Nayla.
Mereka membawa Meira naik ke lantai atas dan menguncinya di gudang OB. Kini Meira hanya bisa berbicara dalam hati. Semoga ada orang baik yang menemuinya di gudang yang penuh alat-alat pembersih itu dengan keadaan bernyawa ataupun tidak.