
Rizal melirik jam tangannya. Pulang dari toko ia tak ngojek melainkan mau menjemput Meira. Kemarin ia sudah berjanji ingin menemani Meira pergi ke toko buku.
"Gue tunggu di kampus aja."
Rizal segera menuju ke Kampus Nusantara untuk menjemput gadis cantik itu. Perasaan ingin bertemu sudah menggebu di hatinya. Ini sebenarnya bukan rencana hidupnya, dekat dengan anak orang kaya pun bukan impiannya. Wanita itu memang sudah benar-benar membuat hatinya luluh.
Meira melambaikan tangannya dengan senyuman yang sangat memikat menurut Rizal. Rizal pun memberikan helm berwarna hitam itu pada Meira. Mereka pergi meninggalkan Kampus Nusantara. Perlahan kedua tangan Meira melingkar di pinggang pria manis itu. Ingin merasakan kenyamanan setelah penat belajar hampir seharian. Meskipun jantung berdetak kencang, Rizal mencoba berusaha tetap fokus mengendarai motornya.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka pun sampai di Mal dan menuju toko buku. Lama sekali mereka disana, Meira yang masih bingung dengan banyaknya buku-buku yang hampir-hampir serupa itu lalu melihat Rizal yang tampak kelelahan.
"Lo duduk aja dulu disitu, Nu."
Rizal menggeleng.
"Gue tau lo pasti capek banget."
"Enggak, kok." bantahnya.
Meira mempercepat pencarian bukunya. Setelah beberapa perbandingan, ia akhirnya mendapatkan buku yang menurutnya sudah tepat dengan materi pelajaran kuliahnya.
"Ayo." ajaknya.
Rizal mengangguk sembari tersenyum. Sebelum meninggalkan Mal, mereka menuju outlet minuman yang ada di Mal. Hari ini Meira sangat ingin mencoba Honey Lemon yang di padu dengan float rasa vanila itu.
"Ini adalah minuman favorit gue, Nu. Lo harus coba." ucapnya.
Rizal menggeleng. "Aku alergi madu."
Meira membulatkan bola matanya. "Emang ada?" Ia kemudian melirik Rizal dengan tatapan aneh. Apa mungkin karena dia sudah terlalu manis?
Akhirnya Rizal hanya memesan Original Lemon Tea saja karena tak mau mengambil resiko. Pasalnya ia pernah sekali memakan madu yang dibelikan oleh sang kakak dulu. Tak butuh waktu lama, reaksi tubuhnya menjadi tak karuan. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan juga ia merasakan mual yang teramat sangat. Semenjak waktu itu, ia tak mau lagi menyentuh makanan atau minuman yang berbau madu.
"Rada aneh, sih." ucap Meira.
"Aku juga gak tau." jawabnya datar.
"Yuk pulang." ajak Meira setelah mereka menghabiskan minumannya.
Sesaat suana menjadi kaku. Tidak ada yang mengeluarkan suara diantara mereka berdua. Cukup lama namun akhirnya Rizal membuka suara. "Apa kamu ingin terus melanggar perintah papamu?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu." Meira mengernyit.
"Aku hanya merasa kehadiranku hanya akan membuatmu sulit, begitu juga sebaliknya."
__ADS_1
Tanpa Rizal sadari ia sudah mengubah raut wajah Meira yang tadinya gembira menjadi murung karena pernyataannya barusan. "Kalau memang lo bimbang, lo bisa tinggalin gue, kok, Nu. Gak papa kok, gue juga bakal nurutin apa yang papa gue mau. Menikah dengan pria sialan itu dan mungkin gue akan menjalani penderitaan dengan lapang dada."
Perkataan Meira barusan di anggap ancaman untuk Rizal. Pasalnya pria itu tak mau melihat wanita yang ia sayangi disakiti siapapun. Ia hanya bisa terdiam lalu menarik tangan Meira yang sempat melepaskan pelukannya tadi.
"Maaf atas keraguanku."
Meira tersenyum dan memejamkan matanya untuk menikmati sore yang indah ini bersama orang yang ia sukai itu. Pukul lima tepat, merekapun sampai dirumah mewah ber cat abu-abu itu.
"Ayo masuk." ajak Meira.
"Gak usah, Mei. Aku..."
"Tidak ada penolakan." potong Meira.
Mau tidak mau Rizal menuruti ucapan Meira. Tidak ada masalah juga jika mampir sebentar, pikirnya. Lagipula dirumah ini hanya ada Lina dan Burhan. Ia pun juga sudah akrab dengan sepasang suami istri itu.
"Bik, ada Rizal didepan. Tolong buatkan minum, ya. Minumnya yang spesial, ya, Bik." pinta Meira pada Lina sembari tersenyum.
Lina membuatkan teh yang dicampur sedikit madu impor yang selalu dibeli Sherin untuk Meira. Lina juga pernah mencoba, memang rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saking enaknya. Sekarang Rizal juga harus mencobanya, pikir Lina.
Rizal duduk di ruang tamu sembari menunggu Meira kembali dari dapur. Ia di hampiri Sarni, satpam rumah Meira. "Kamu Rizal, kan?"
"Ah, iya, Pak." Rizal menyalami Sarni hormat.
"Kebetulan kamu ada disini. Saya hanya ingin mengingatkan kamu soal non Meira. Saran saya kamu jangan terlalu dekat dengan Meira. Pasalnya non Meira sudah dijodohkan dengan laki-laki yang setara dengannya. Kamu paham kan setara yang saya maksud?"
Lina datang membawa segelas teh dan beberapa cemilan. "Silahkan, Nak Rizal," ucapnya ramah.
"Ini teh spesial, ayo diminum." lanjutnya.
Rizal meminum teh itu. "Terima kasih, Bik."
Lina mengangguk lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
Kok...
"Kenapa?" tanya Sarni ketika melihat ekspresi Rizal yang seperti tidak menikmati teh yang diberikan Lina tadi.
"Tidak terbiasa ya minum minuman seperti ini?" tanya Sarni terdengar sedikit mengejek.
"Sepertinya begitu." ucap Rizal tersenyum.
"Ya, sudah, saya mau ke pos dulu." ucapnya meninggalkan Rizal.
__ADS_1
"Pak Sarni ngomong apa tadi?" tanya Meira yang sudah ada didepan Rizal.
"Tidak ada." ucap Rizal berbohong.
"Aku benci pria itu. Dia ada di pihak papa. Entah apa yang ada dipikiran papa hingga mengirimnya kesini," gerutu Meira.
"Diminum, Nu. Kuenya juga dimakan, dong."
"I...iya, tapi ini teh apa, ya? Kok aneh rasanya."
Meira terdiam sejenak. Jangan-jangan...
"Sebentar, Nu." Ia berlari ke dapur menemui Lina.
"Apa Bik Lina mencampuri madu ke teh untuk Rizal tadi?" tanya Meira.
Lina mengangguk. "Kata non Meira kan buat yang sepesial."
Meira menepuk jidatnya. Lalu kembali menemui Rizal. "Lo gak papa, Nu?" tanyanya khawatir.
"Sedikit mual." ucap Rizal dengan wajah yang sudah memerah dan napas yang terasa sesak.
"Maaf, itu adalah teh madu." ucap Meira menunduk.
"Aku pinjam toilet sebentar." Rizal berlari ke toilet tamu rumah Meira.
Ia tak tahan lagi ingin mengeluarkan cairan yang sudah bergejolak di perutnya. Meira yang kebingungan lalu menyusul Rizal ke toilet dan disusul oleh Lina.
"Ada apa, Non?"
"Dia alergi madu, Bik."
"Aduh... Maaf saya gak tau, Non."
Sementara Rizal masih merasakan mual yang teramat sangat. Rasanya sakit sekali. Dadanya juga terasa semakin sesak. Meira yang kebingungan hanya bisa mengurut punggung Rizal. "Ayo kita ke dokter, Nu."
Alih-alih menjawab Rizal kembali muntah hingga berulang kali. Meira memanggil Sarni, meminta bantuan agar membawa Rizal kerumah sakit.
"Ada apa, Non?"
"Rizal, Pak."
Sarni tersenyum. "Masak minum teh madu premium aja muntah, Non. Mungkin lidahnya memang gak cocok, tuh." ucapnya santai.
__ADS_1
"Apa-apaan Bapak ini. Dia alergi madu bukannya gak bisa minum teh itu." ucap Meira kesal dengan perkataan yang merendahkan Rizal itu.
Kehadiran Sarni memang membuat dirinya semakin tertekan.